Kyai Ma’ruf dan Sandi Uno

Ada yang menarik dalam kontestasi politik kali ini.  Kedua cawapres adalah pegiat Masyarakat Ekonomi Syariah. Keduanya menawarkan konsep ekonomi baru untuk menjawab berbagai tantangan ekonomi yang semakin beragam.  Pemikiran kedua tokoh ekonomi syariah ini diharapkan dapat ikut mewarnai kebijakan pemerintah dalam periode 2019-2024.

Membangun Indonesia ibarat lari estafet.  Pemimpin silih berganti memberikan tongkat estafet dari generasi ke generasi berikutnya.  Kerja keras pemimpin sebelumnya, dengan segala kelebihan dan kekurangannya, menjadi amanah bagi penerusnya untuk melanjutkan yang baik dan menyempurnakan yang masih perlu disempurnakan.

Evaluasi kritis berbagai lembaga dalam dan luar negeri membantu kita memahami perspektif lain dari cara melihat keberhasilan, harapan perbaikan tanpa harus berkeluh kesah, dan menyiapkan langkah perbaikan dengan memberikan warna ekonomi syariah.

Seakan orkestra, beberapa kajian dan pemberitaan lembaga luar negeri memberikan evaluasi kritis terhadap kinerja ekonomi Indonesia.  Diawali dengan kajian Bank Dunia tentang “Infrastructure Sector Assesment Program” edisi Juni 2018 yang dirilis pada Januari 2019.  Yang masih ramai dibincangkan adalah artikel majalah The Economist yang berbasis di London berjudul “Indonesia’s economic growth is being held back by populism” tanggal 17 Januari 2019.

Tidak seluruhnya benar, tidak pula seluruhnya salah.  Data yang sama dapat dilihat dari perspektif yang berbeda.  CNBC Indonesia, misalnya, menurunkan tulisan “The Economist Kritik Jokowi, Seperti Apa Kondisi Sebenarnya?” tanggal 25 Januari 2019. Bahkan bantahan atas bantahan pun hanya memperjelas perbedaan cara pandang atas data yang sama. 

Disinilah peran penting kedua Cawapres untuk untuk memahami perbedaan cara pandang suatu masalah ekonomi.  Bukan dengan berpihak pada salah satu cara pandang, tapi menambahkan cara pandang lain yang lebih jernih, tajam, dan memberikan kemanfaatan terbesar bagi Indonesia.  Cara pandang ekonomi syariah.

Tidak banyak manfaatnya bila kedua Cawapres hanya mengikuti arus besar pemikiran ekonomi konvensional.  Tidak ada manfaatnya bila sekedar memberikan pembenaran atas konsep yang saat ini dianggap benar oleh arus utama pemikiran ekonomi.  Tidak pula sekedar menyalahkan konsep ekonomi tanpa memberikan solusi atas kekurangan yang ada.

Rakyat menaruh harapan besar kepada kedua Cawapres untuk membawa angin segar, pemikiran baru, memahami perasaan sebagian besar rakyat.  Perasaan galau yang belum tertata rapi, namun terasa menyesakkan. Perasaan yang berkecamuk namun masih kesulitan mendefisikan keinginan hati dalam bentuk rumusan yang mudah dimengerti. Kerisauan yang tak tersalurkan.

Ketika arus besar pemikiran ekonomi konvensional hampir-hampir tidak menyisakan ruang untuk konsep lain, Kyai Ma’ruf Amin bergerak lincah mewarnai regulasi dengan prinsip syariah, membangun komunikasi hangat dengan semua pihak, merangkul dan mengumpulkan semua potensi umat yang terserak.  Menawarkan konsep ekonomi syariah tanpa intimidasi, meninggikan syariah tanpa merendahkan, merangsek maju tanpa menepikan, menaikkan nilai tawar tanpa menjatuhkan.  Sosok ulama fikih yang lentur, teguh pendirian dengan akhlak seorang sufi.  Beliau adalah master mind dari semua gerakan ekonomi syariah di Indonesia.

Ketika kesenangan dunia melenakan, Sandi Uno memilih jalan terjal mendirikan beberapa unit usaha syariah tanpa banyak diketahui orang. Bertahun-tahun menjadi secret wishperer dalam gerakan Masyarakat Ekonomi Syariah, terasa tanpa harus terlihat, ibarat rasa manis gula dalam kopi. Selalu bekerja keras dalam melaksanakan komitmennya, bermain cantik dengan cara cerdas, dan pada akhirnya ikhlas berserah diri pada ketetapan Allah. Sosok pebisnis yang paham betul seluk beluk kerasnya kehidupan ekonomi, rindu akan nilai-nilai ekonomi syariah, dan bertekad keras mewujudkannya. Beliau adalah man of commitment.

Betapa indah melihat kedua Cawapres ini berinterkasi.  Kyai Ma’ruf terlihat berulang kali menepuk pundak Sandi Uno yang dengan santun berulang kali mencium tangan Kyai. Hubungan orang yang dimuliakan dengan yang memuliakan. Hubungan kasih sayang antara dua orang besar yang berasal dari latar belakang yang sangat berbeda, namun memiliki kesamaan dalam memperjuangkan aspirasi ekonomi syariah.

Optimisme dalam melihat kemajuan Indonesia menjadi negara besar, jelas bukan impian kosong belaka.  Dengan semua potensi yang dimiliki, kejayaan Indonesia merupakan suatu keniscayaan.  Kerisauan dalam melihat ancaman nyata terhadap kedaulatan Indonesia, jelas bukan imajinasi hampa.  Dengan semua kepentingan global atas posisi strategis Indonesia, perebutan pengaruh global juga merupakan suatu keniscayaan.

Rasulullah SAW pernah mengingatkan “Sungguh kalian akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta sampai jika orang-orang yang kalian ikuti itu masuk ke lubang yang sempit sekalipun, pasti kalian pun akan mengikutinya.”

Inilah harapan besar rakyat Indonesia pada kedua Cawapres untuk dapat tegak berdiri menjaga kedaulatan ekonomi Indonesia, tidak tergoda ditarik ke kiri ditarik ke kanan. Bergerak dinamis dalam kancah perebutan pengaruh kekuatan adi kuasa dunia.  Bagaikan ikan laut yang hidup di air asin, namun tak terasa asin karena terus bergerak sesuai misi yang diembannya.  Bukankah “fil harakah barakah”, dalam usaha itu terdapat berkah? Yang dinilai Allah adalah usaha keras kita mewujudkan keberhasilan,  “al akhdzu bil asbab”, keberhasilan memang harus diperjuangkan.

Bahkan harapan rakyat Indonesia jauh lebih besar lagi pada kedua Cawapres.  Bukan sekedar mejaga kedaulatan ekonomi Indonesia, bahkan diharapkan dapat menjadi inspirasi dunia, menjadi cahaya penerang dari kegalauan carut marut ekonomi global. Menjadi kebanggaan ummat Islam seluruh dunia, teladan dalam menegakkan kembali kejayaan ekonomi syariah yang pernah meguasai dunia selama 800 tahun dari Maroko hingga Merauke, dari Bukhara hingga  Bantul.  Bagaikan ragi yang hanya dua gram dapat melunakkan singkong dua puluh kilogram.

Arus besar pemikiran ekonomi selalu terbuka dengan gagasan baru yang membawa perbaikan.  Ini sebabnya ilmu ekonomi selalu terasa relevan dengan jaman karena kemampuannya merubah diri, memperbaiki yang salah, megubahnya menjadi lebih baik.  Bukan untuk sekedar memuaskan pembuktian bahwa yang ini salah dan yang itu benar, tapi untuk memahami cara pandang lain yang dapat memberikan kemanfaatan yang lebih besar. Dan inilah saatnya kedua Cawapres membawa gagasan besar ekonomi syariah ke kancah dunia. Rasulullah SAW mengingatkan “Islam muncul dalam keadaan asing dan akan kembali dalam keadaan asing, maka beruntunglah orang-orang yang asing”.  Insya Allah Indonesia bangsa yang beruntung itu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *