Credit Suisse dan JP Morgan

Dua bulan sebelum Pilpres dua lembaga investasi global mengeluarkan riset mereka tentang perekonomian Indonesia.  Credit Suisse melihat investasi portofolio di Indonesia telah jenuh dan melihat negara-negara Asia bagian Utara lebih menarik.  Sebaliknya, JP Morgan melihat Indonesia akan menjadi salah satu negara di emerging market dengan pertumbuhan dua digit.

Dalam ilmu ekonomi, data yang sama selalu dapat dilihat dari perspektif yang berbeda dan menghasilkan kesimpulan yang berbeda pula.  Membaca kesimpulan riset Credit Suisse dan JP Morgan, bagi para ekonom, tidak memberikan arti apa-apa.  Dua-duanya bisa benar, dua-duanya bisa keliru.

Bagi ekonom, yang jauh lebih berharga dari riset itu adalah memahami cara pikir, termasuk asumsi yang tak terucapkan, yang akhirnya melahirkan kesimpulan.  Ketika riset itu dikeluarkan menjelang Pilpres, maka mempercayai kesimpulan CS dan JPM begitu saja merupakan suatu kekeliruan.

Ekonom akan mencari benang merah perspektif yang dibangun dalam riset belasan halaman itu. Membaca line by line, dan yang lebih penting membaca between the lines, bagaimana kedua lembaga investasi asing itu menafsirkan data yang ada. 

Pertama, kita dapat membaca ekspektasi peneiliti atas hasil Pilpres.  Kedua, kita juga dapat membaca opini yang akan dibentuk berdasarkan ekspektasi tersebut.  Dengan memahami ini, maka tidak perlu ada pihak manapun yang tersinggung atau tersanjung atas kedua riset itu.  Apalagi sibuk membantahnya. Bahkan kita dapat melihatnya saling melengkapi dalam scenario planning.

Bila yang terjadi sejalan dengan skenario berpikir yang dibangun CS, maka kita telah siap dengan langkah antisipasinya.  Bila yang terjadi sejalan dengan skenario berpikir yang dibangun JPM, maka kita  pun telah siap mengantisipasinya.

Secara teoritis skenario berpikir lembaga investasi global ini dipengaruhi pula ekspektasi masing-masing terhadap perubahan geopolitik dunia.  Perubahan kepemimpinan di Malaysia sedikit banyak telah menggeser keseimbangan geopolitik di kawasan antara dua negara besar yang sedang berebut pengaruh, AS dan Cina.

Terkuaknya skandal 1MDB di Malaysia diperkirakan menjadi salah satu faktor perubahan kepemimpinan di negeri jiran itu.  Dalam konteks ini, menarik untuk mengamati bahwa whistle blower kasus ini adalah bankir asing dan melibatkan banyak lembaga keuangan asing. Bahkan otoritas keuangan negara lain melakukan investigasi untuk transaksi yang diduga terkait dengan kasus 1MDB di negara-negara itu.  Diantaranya adalah otoritas di AS, Singapura, dan Australia.   

Dalam setiap Pemilihan Umum dimanapun ada dua hukum asal.  Pertama, kedaulatan pemilih dalam suatu Pemilihan Umum sepenuhnya hak warga negara dan bebas dari intervensi asing apapun.  Kedua, Pemilihan Umum tidak dilakukan di ruang hampa. 

Paling tidak ada tiga hal yang harus diantisipasi.  Pertama, masuknya dana asing dalam jumlah yang besar beberapa bulan menjelang Pilpres.  Akibatnya volatilitas nilai tukar rupiah melebar dalam rentang 13.900 – 15.200 rupiah per dolar AS hanya dalam beberapa bulan saja. Secara finansial, melebarnya volatilitas diterjemahkan kedalam dua hal.  Pertama, jangka waktu termin pembayaran diperpendek agar selisih antara kurs saat transaksi dengan kurs saat pembayaran tidak berbeda jauh.  Kedua, harga dinaikkan untuk antisipasi perubahan kurs nilai tukar.

Sepintas terlihat rupiah menguat dan indeks harga saham mengalami tren naik. Kekeliruan dalam membaca fenomena ini adalah memandang penguatan rupiah sebagai hal yang baik.  Padahal yang penting adalah stabilitas rupiah.  Bila perubahan nilai tukar rupiah terjadi tanpa adanya perubahan indikator ekonomi makro, dan semata didorong oleh pergerakan investasi portofolio, maka dapat diduga kuat sedang terjadi proses destabilisasi. Ibarat surutnya permukaan air laut menjelang tsunami.

Hal kedua yang harus diantisipasi, kemungkinan keluarnya dana asing dalam jumlah besar beberapa saat menjelang Pilpres. Akibatnya nilai tukar rupiah akan melemah dan indeks harga saham melorot. Sovereign risk meningkat, rating negara diturunkan. Ekonomi porak poranda ibarat diterjang tsunami.   

Hal ketiga adalah peniup peluit palsu dan pembuat sensasi skandal.  Secara teoritis dilakukan hanya beberapa pekan sebelum hari pemilihan sehingga memberikan efek kejut yang besar dan waktu yang terlalu sempit untuk memperbaikinya.  Tujuannya menjatuhkan citra dan elektabilitas walaupun tidak terverifikasi. Efek kejut ini akan menjadi kerusakan permanen bila peniup peluit dan skandal nya asli. Dapat berupa harta, tahta, wanita, atau kombinasinya.

Dalam prakteknya perlu diwaspadai whistle blower dan pembuat sensasi skandal yang berada di luar jangkauan hukum Indonesia.  Perlu diwaspadai transaksi yang melibatkan pihak asing yang berpotensi menjadi whistle blower seperti dalam kasus 1MDB.

Dengan memahami tiga hal ini, maka setiap analisa dan riset tidak berada dalam ruang hampa. Para periset memiliki tujuan penulisan mempengaruhi pembacanya.  Warren Buffet, legenda pasar modal dunia, dalam pertemuan tahunan Berkshire di tahun 1994 mengatakan “jangan bertanya kepada tukang cukur apakah Anda perlu potong rambut”.  Dengan kata lain, jangan serahkan nasib Anda ditentukan oleh orang lain.

Menilik lebih teliti, dampak negatif akibat tiga hal ini harus ditanggung oleh seluruh bangsa, bukan hanya salah satu kontestan dan para pendukungnya. Kepentingan bangsa harus dimenangkan dibandingkan kepuasan sesaat memenangkan kontestasi. Ibarat memperebutkan ikan ketika air laut surut tanpa menyadari akan datangnya tsunami.

Kemampuan membaca perubahan geopolitik kawasan dan menyiapkan langkah antisipasinya menjadi syarat penting melengkapi kebaikan dan kesalihan pribadi. Kemampuan menggerakkan semua anak bangsa untuk bersama menghadapi dinamika geopolitik yang semakin cepat dan kompleks merupakan kunci keberhasilan bangsa ini.

Abu Dzar RA seorang sahabat besar yang terkenal salih, hidup sangat sederhana, dan berpengalaman bertahun-tahun berjuang bersama Rasulullah SAW.  Pernah beliau sekali menawarkan diri kepada Rasulullah SAW untuk menjadi pemimpin.  Bukan karena beliau menginginkan jabatan itu, namun semata ingin dapat lebih memberikan manfaat bagi masyarakat luas.

Sambil menepuk sayang pundak Abu Dzar, Rasulullah SAW bersabda “Wahai Abu Dzar, engkau adalah orang yang lemah dalam memimpin, padahal kekuasaan itu adalah amanah. Kekuasaan akan menjadi kehinaan dan penyesalan pada hari kiamat, kecuali bagi orang yang mendapatkan kekuasaan tersebut dengan haknya dan melaksanakan kewajibannya pada kekuasaannya itu.”  Ya allah lindungilah  bangsa ini, sungguh Engkau sebaik-baik pelindung. – Adiwarman A. Karim

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *