Widow’s Cruse, Currency Wars dan Umar bin Khattab

John Maynard Keynes memperkenalkan istilah widow’s cruse untuk pertama kalinya dalam ilmu ekonomi. Tepatnya di halaman 139 buku Treatise on Money, Keynes mengambil kisah Elijah dari Bani Israil yang menumpang dengan seorang janda kemudian menjadikan bejana janda itu selalu penuh dengan minyak yang tidak pernah habis. Investasi yang terus meningkat pada satu titik akan jenuh dan menyebabkan over-investment yang selanjutnya akan membawa perekonomian pada keadaan tingkat tabungan neto mencapai titik nol.

Keynes mengingatkan bahwa pertumbuhan ekonomi ada batasnya karena investasi pun mengalami tingkat keuntungan yang semakin menurun (diminishing returns). Pertumbuhan ekonomi bukanlah widow’s cruse yang dapat terus meningkat tanpa batas.

James Tobin pemenang Nobel ekonomi tahun 1981 mengulang penggunaan istilah widow’s cruse ini dalam risetnya Commmercial Banks as Creators of Money. Tobin mengingatkan, bank-bank baik secara individu maupun secara kolektif tidak memiliki keajaiban widow’s cruse. Bank sebagai lembaga perantara keuangan dibatasi oleh skala ekonomi para pihak yang diantaranya yaitu penyimpan dana-dana pengguna dana. Bahkan dalam pidato penganugerahan Nobelnya yang berjudul Money and Finance in the Macroeconomic Process, Tobin menekankan pentingnya keseimbangan pertumbuhan sektor keuangan dengan sektor riil. Pertumbuhan sektor keuangan tanpa kendali sektor riil hanya akan memaksa pemerintah akhirnya melemahkan nilai mata uang itu sendiri.

Tobin pernah bergurau “ketika semua negara merasa perlu melemahkan nilai mata uangnya masing-masing, itu pertanda akan datangnya masa ekspansi moneter secara global”. Rekayasa moneter untuk menguatkan nilai tukar mata uang akhirnya menyulitkan negara itu sendiri, pertumbuhan ekonomi melemah bahkan beberapa negara mulai masuk pada resesi panjang. Untuk memberikan stimulasi ekonomi, akhirnya pemerintah memilih untuk melemahkan nilai mata uangnya untuk mendorong ekspor, mengurangi pengangguran, dan akhirnya mengembalikan pertumbuhan ekonomi.

Perang mata uang tidak dapat dihindarkan. Bank Sentral Jepang melakukan qualitative quantitative easing (QQE) dengan meningkatkan pembelian surat berharga exchange traded funds, real estate investment trusts, menambah jangka waktu obligasi pemerintah, dan menambah ekspansi moneternya. Langkah ini efektif melemahkan Yen terhadap dolar AS sebesar 15 persen dalam tahun berjalan, dan mendorong ekspor Jepang naik 9,6 persen dalam setahun, dua kali lipat daripada ekspektasi pasar sebelumnya.

Korea Selatan langsung terpukul akibat kebijakan Jepang ini. Yen Jepang melemah hingga 20 persen terhadap Won Korea. Pertrumbuhan ekspor Korsel melambat hanya pada 2,5 persen dari yang ditargetkan semula mencapai 6,9 persen. Bank Sentral Korsel menurunkan tingkat suku bunga untuk menyelamatkan ekonomi, diperkirakan pada tingkat 1,75 persen. Presiden Korsel mengatakan tiga risiko utama yang harus dihadapi ekonomi Korsel adalah pertumbuhan ekonomi yang lembat, inflasi yang rendah, dan melemahnya Yen Jepang.

Bank Sentral Uni Eropa juga telah mengumumkan beberapa kebijakan untuk menghadapi perang mata uang ini. Mario Draghi, Presiden European Central Bank mengeluhkan kebijakan moneter Bank Sentral AS dan Bank Sentral Jepang yang berdampak langsung pada Negara-negara Uni Eropa.

Cina juga mengalami hal yang sama. Menguatnya Renmibi Cina terhadap dolar AS dan terhadap Yen Jepang telah mendorong Bank Sentral Cina menurunkan tingkat suku bunga kredit 0,4 persen menjadi 5,6 persen, tingkat suku bunga simpanan 0,25 persen menjadi 2,75 persen.

Barry Eichengreen, guru besar ekonomi Universitas Bekeley, dan Poonam Gupta, ekonom Bank Dunia, dalam riset mereka Tapering Talk: The Impact of Expectations of Reduced Federal Reserve Security Purchases on Emerging Markets menunjukkan dampak signifikan kebijakan Bank Sentral AS terhadap nilai mata uang Brazil, Rusia, India, Indonesia, Cina, Afrika Selatan, Turki. Sepanjang April-Juli 2013 mata uang, semua mata uang negara-negara itu melemah terhadap dolar AS, kecuali Cina karena mematok nilai tukarnya. Cadangan devisa juga menurun, kecuali Cina. Mereka juga menemukan dampak serupa di negara-negara berkembang lainnya.

Eichengreen dan Gupta menyimpulkan, ukuran-ukuran makro ekonomi tradisional seperti defisit anggaran, utang negara, tingkat cadangan devisa, dan pertumbuhan ekonomi tidak terkait langsung dengan ketahanan ekonomi terhadap goncangan eksternal. Artinya, negara yang memiliki kinerja makro ekonomi yang bagus tetap memiliki risiko mata uang yang selanjutnya dapat memukul sendi-sendi perekonomian lainnya. Mereka mengidentifikasi tiga hal penting dalam menghadapi gejolak eksternal. Pertama, nilai tukar mata uang yang tidak direkayasa. Kedua, defisit neraca pembayaran yang dikelola baik. Ketiga, skala pasar keuangan negara tersebut. Negara yang memiliki pasar keuangan yang besar dan likuid memiliki risiko yang lebih besar bila terjadi gejolak eksternal.

Itu sebabnya, Joseph Stiglitz, guru besar ekonomi Universitas Columbia, peraih Nobel ekonomi tahun 2001, menegaskan bahwa yang diperlukan dunia adalah kerja sama menjaga nilai tukar mata uang, bukan malah perang mata uang dengan saling mendevaluasi.

Di zaman Umar bin Khattab r.a., tepatnya pada tahun 17-18 H terjadi krisis ekonomi panjang yang dikenal sebagai Tahun Ramadah, tahun abu karena padang pasir berubah warnanya putih seperti abu akibat kemarau yang panjang. Selama dua tahun tidak ada hujan, musim paceklik panjang. Ternak mati, enam puluh ribu kaum Arab Badui mendatangi Madinah karena kelaparan, berbagai penyakit mewabah.

Umar r.a. segera memperbaiki necara pembayaran dengan mendatangkan bantuan dari Mesir, Irak dan wilayah Islam lainnya. Gubernur Abu Ubaidah ibn Jarrah mengirim 3000 onta membawa gandum, gubernur Saad bin Abi Waqash mengirim 3000 onta membawa perlengkapan musim dingin, gubernur Abu Musa Al-Asy’ari mengirim 2000 onta membawa makanan dan roti, gubernur Amr bin Ash mengirim 3000 onta membawa makanan.

Arab Badui yang mendatangi Madinah disediakan makanan setiap hari bersama dengan penduduk Madinah sehingga persaudaraan di antara mereka semakin terjalin. Umar r.a. tidak ingin datangnya bantuan memanjakan rakyat, karena mereka tidak tahu sampai kapan musim paceklik akan berakhir. Beliau memerintahkan untuk makan daging berselang hari, mengajarkan metode masak dengan lebih sedikit gandum, mengurangi porsi makan hanya setengah porsi, tidak belanja yang tidak benar-benar diperlukan.

Kerja sama dan saling tolong-menolong dalam kebaikan mengundang pertolongan Allah melewati masa sulit di tahun Ramadah. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Abdullah ibn Umar r.a., ketika turun ayat “barang siapa yang beramal kebaikan sebesar zarah, maka Allah akan melihatnya”, maka Rasul saw. memohon, “Ya Allah, itu masih sedikit untuk umatku”. Allah menjawab “Aku akan membalas satu kebaikan dengan dua kebaikan”. Rasul saw. memohon lagi. Maka Allah menjawab “Aku akan membalasnya dengan sepuluh kali lipat”. Rasul saw. memohon sekali lagi. Maka Allah menjawab “Aku akan membalasnya 700 kali lipat”. Rasul saw. memohon terakhir kalinya. Maka turunlah ayat “Sungguh hanya orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas”.

by Adiwarman A. Karim | Republika, 15 Desember 2014

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *