Weibull dan Umar bin Khattab

Waloddi Weibull lahir pada 1887 dari keluarga terpelajar di Schleswig-Holstein, dekat Denmark. Memulai karirnya sebagai tentara di Royal Swedish Coast Guard, Weibull kemudian menjelma menjadi peneliti dan guru besar teknik yang menemukan teori The Weakest Link. Teori yang menjadi dasar dari berbagai perhitungan statistik dalam merancang struktur bangunan dan mesin ini, diterapkan secara luas dalam berbagai peralatan militer, bendungan, pipa minyak, dan gas.

Secara mudah teori ini menjelaskan bahwa kekuatan suatu rantai terletak pada mata rantai yang paling lemah. Bendungan yang paling kokoh pun akan hancur bila ada satu titik terlemah di bendungan itu yang bocor. Teori ini kemudian dikembangkan dalam berbagai ilmu lainnya termasuk sosial ekonomi.

Mark Granovetter, guru besar sosiologi Universitas Stanford, dalam kajiannya Strength of Weak Ties, menjelaskan betapa pentingkan mata rantai terlemah dalam distribusi informasi. Di era netizen ini, sebagian besar informasi penting tidak lagi didapat dari kerabat atau teman dekat, namun dari ‘temannya teman’ yang terhubung melalui jaringan social media semisal facebook. ‘Teman di sosial media’ menjadi sumber informasi penting.

Dalam ilmu sastra, Thomas Reid menulis The Intellectual Powers of Man pada 1786, bahwa kekuatan rantai logika ditentukan oleh mata rantai terlemahnya. Karya Reid ini kemudian menjadi ungkapan sehari-hari yang sangat populer di Inggris “the chain is no stronger than its weakest link”.

Ungkapan ini pula yang dijadikan judul salah satu artikel Lenin, diterbitkan jurnal Pravda tahun 1917, yang sangat berpengaruh dalam merubah wajah Rusia. Mengabaikan kaum terlemah dalam suatu negeri hanya akan membawa bangsa yang kuat sekalipun pada titik kekuatan serapuh kaum terlemah.

General Images Of Indonesia Economy Ahead Of Central Bank Rate Decision

Dalam ilmu keuangan juga dikenal teori Weakest Link. Banyak lembaga keuangan raksasa global yang terpuruk ketika krisis keuangan di AS akibat satu saja dari sekian banyak line of business mereka yang merugi besar. Itulah the weakest link mereka. Ketika mereka mencoba bangkit dengan melakukan serangkaian aksi korporasi, pasar tidak mempercayainya karena mata rantai terlemah yang menjadi akar masalah masih belum terselesaikan.

Ramkishen Rajan dan Graham Bird, masing-masing peneliti Universitas Adelaide dan Univesitas Surrey, dalam penelitian mereka Still the Weakest Link: The Domestic Financial System in East Asia menemukan bahwa kebangkitan perekonomian Asia Timur ditentukan oleh kemampuan memperbaiki mata rantai terlemahnya yaitu sistem keuangan domestik negara-negara Asia Timur.

Steven Levitt, guru besar Universitas Chicago, dalam kajiannya Testing Theories of Discrimination: Evidence from Weakest Link membedakan dua hal yang menimbulkan diskriminasi pada etnis tertentu dalam mendapatkan kesempatan bekerja di AS. Pertama diskriminasi yang disebabkan tidak meratanya informasi yang sampai pada etnis tertentu yang disebutnya sebagai information based discrimination. Misalnya karena sedikitnya etnis Afro American dan Hispanic yang bekerja di bidang tertentu, maka etnis ini tidak mendapat informasi sebanyak etnis lain yang memang banyak bekerja di bidang tersebut.

Kedua diskriminasi yang disebabkan kecenderungan selera pada kelompok etnis atau kelompok umur tertentu yang disebutnya sebagai taste based discrimination. Misalnya restoran yang menyasar segmen anak muda menyukai mempekerjakan anak muda. Perusahaan penerbangan yang banyak membawa jemaah umrah Indonesia menyukai mempekerjakan awak pesawat asal Indonesia.

Kajian ini dapat menjelaskan salah satu faktor mengapa etnis tertentu banyak yang menjadi pengusaha sukses. Banyaknya kerabat dan teman yang menjadi pengusaha memberikan mereka keunggulan dalam informasi (information based). Kesamaan etnis budaya juga memberikan kesamaan selera (taste based) untuk melakukan interaksi bisnis. Ungkapan yang terkenal mengatakan “people do business with people they like”.

Lembaga keuangan syariah, bisnis syariah merupakan infant industry yang baru saja mengembangkan bisnisnya. Dari perspektif ini lembaga keuangan merupakan the weakest link dibandingkan dengan lembaga keuangan dan bisnis lain yang telah mendominasi perekonomian.

Kemampuannya yang masih dalam fase pengembangan bisnis mendorong lembaga keuangan dan bisnis syariah menyasar segmen pasar yang belum digarap oleh lembaga keuangan dan bisnis konvesional. Biaya dana yang tinggi, rasio biaya operasi yang masih tinggi mendorong mereka masuk ke segmen yang mau membayar marjin tinggi yaitu mereka-mereka yang tidak dapat masuk ke lembaga keuangan dan bisnis konvensional. Maka jadilah the weakest serves the weakest, yang lemah bersama yang lemah, secara information based dan taste based.

Ditambah lagi regulasi yang sama ketatnya untuk yang lemah maupun yang kuat. Prinsip regulasi one fits for all ini telah lama dirasakan tidak tepat dalam memberikan peluang bersaing yang sehat (fair competition). Jean Tirole, guru besar ekonomi pemenang Nobel tahun 2014, telah menunjukkan perlunya regulasi yang secara cermat memperhitungkan kekuatan bisnis khususnya perusahaan besar.

Di sini terasa relevansi teori Waloddi Weibull. The weakest link yang paling berbahaya adalah weakest link yang ada pada bendungan yang besar, alat militer yang canggih, pipa minyak dan gas yang bertekanan besar. The weakest link yang berada dalam lembaga keuangan dan bisnis konvensional merupakan yang paling rentan dan berbahaya. Itu sebabnya dalam teori keuangan dikenal istilah “too big to fail, too complex to fail”. Pemerintah terpaksa menolong bank yang terlalu besar untuk dibiarkan bangkrut, konglomerasi keuangan yang terlalu kompleks untuk dibiarkan bangkrut.

Keadaan di Amerika Latin tidak jauh berbeda. Akan lebih tepat menolong lembaga keuangan dan bisnis yang kecil dan sehat menjadi besar dengan regulasi yang seseuai profil bisnis dan profil risiko mereka, dari pada terpaksa menolong lembaga keuangan dan bisnis yang besar dari kebangkrutan. Small and beautiful jauh lebih prospektif dari pada lazy fat cat, begitu ungkapan seorang guru manajemen.

Abu Hafsh Umar bin al Khattab bin Naufail bin Abdul Uzza al Quraisyi r.a., di hari pelantikannya menegaskan keberpihakannya pada orang-orang yang terlemah. Umar r.a. berkata, “Demi Allah. Orang yang terlemah di antara kalian akan menjadi yang terkuat dalam pandanganku sampai aku membuktikan hak-haknya bagiku. Sementara orang yang terkuat di antara kalian akan kuperlakukan sebagai yang terlemah sampai ia mematuhi hukum.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *