Stabilitas Rupiah

Gubernur Bank Sentral Ame rika Serikat (AS) pada akhir masa jabatannya mengguncang dunia dengan dua istilah yang paling banyak dibahas dalam ilmu keuangan saat ini, quantitative easing dan tapering. Quantitative easing adalah upaya memulihkan perekonomian AS dengan mengguyur pasar dengan dolar AS yang dilakukan dengan cara membeli obligasi negara, saat ini sebesar 85 miliar dolar AS per bulannya. Tapering adalah upaya menstabilkan perekonomian AS dengan mengurangi secara bertahap guyuran dolar AS tersebut.

Istilah tapering sontak mendadak menjadi istilah baru dalam khazanah ilmu keuangan sejak 22 Mei yang lalu setelah Gubernur Bank Sentral AS menyampaikan rencananya di hadapan Kongres AS tentang penurunan pembelian obligasi negara. Ia merencanakan penurunan dari pembelian 85 miliar dolar AS per bulan menjadi 60-65 miliar dolar AS per bulan dalam kurun waktu tiga pertemuan Bank Sentral, yaitu pada 17-18 September, 31 Oktober, dan 17-18 Desember.

Banyak yang meragukan rencana tapering ini karena dampak buruknya pada perekonomian AS yang sedang berangsur pulih. Tingkat suku bunga obligasi Pemerintah AS berjangka 10 tahun diperkirakan akan naik menjadi di atas tiga persen sehingga tingkat suku bunga kredit pemilikan rumah (KPR) juga akan naik dan kembali merontokkan industri properti AS yang belum sepenuhnya pulih. Dengan tingkat suku bunga setinggi itu, investasi di pasar modal menjadi kalah menarik dan akan kembali terpukul.

Namun, banyak pula yang mendukung rencana tapering. Kajian yang dilakukan oleh Bank Sentral AS wilayah San Fransisco, misalnya, berkesimpulan dampak buruk taperingterhadap perekonomian tidak akan sebesar yang ditakutkan. Maraknya debat pro-kontra terhadap rencana tapering menyebabkan banyak yang menduga rencana pengurangan mengguyur pasar dengan dolar AS secara bertahap ini akan ditunda sampai terpilihnya gubernur Bank Sentral AS yang baru.Gubernur saat ini akan habis masa jabatannya akhir Januari 2014. Calon gubernur baru akan diumumkan namanya beberapa saat lagi pada musim panas ini.

Paling tidak ada dua nama yang mencuat, Lawrence Summers, guru besar dan rektor Harvard University, mantan menteri Keuangan, yang diduga lebih menyukai rencana tapering. Calon kedua adalah Janet Yellen, guru besar University of California Berkeley, deputi gubernur Bank Sentral AS, istri George Akerlof, pemenang Nobel Ekonomi, yang diduga lebih menyukai meneruskan quantitative easing.

Pro-kontra antara quantitative easingdan tapering, yang akhirnya berkembang juga menjadi pro-kontra Summers dan Yellen, merupakan refleksi dari mandat yang diemban Bank Sentral AS, yaitu menjaga inflasi dan mengurangi pengangguran. Perdebatan sehat ini sangat bermanfaat bagi ilmu ekonomi tentang bagaimana seharusnya mengelola perekonomian. Mereka yang setuju dengan prioritas tentu sependapat dengan Presiden Barack Obama, “right now the challenge is not inflation, the challenge is we’ve still got too many people out of work.”

Mereka yang setuju dengan struktur ekonomi yang lebih stabil dalam jangka panjang melihat kebijakan moneter tarik ulur pasokan dolar AS yang dampaknya berkutat pada menurunkan menaikkan tingkat suku bunga, malah menyebabkan struktur ekonomi yang tidak sehat. Amar Bhide, guru besar pada Fletcher School at Tufts University, dalam buku barunya, A Call for Judgment: Sensible Finance for a Dynamic Economy, menunjukkan dampak buruknya. Kekayaan hanya bertumpuk di tangan segelintir orang kaya yang menguasai ekonomi AS, yang oleh karenanya kebijakan ekonomi lebih berpihak kepada mereka. Empat puluh dua persen dari seluruh kekayaan keuangan di AS dikuasai oleh hanya satu persen rumah tangga kaya di AS pada 2010.

Dampak buruk dari perdebatan itu telah terasa di belahan dunia lain. Ketidakpastian kebijakan moneter AS dimanfaatkan oleh banyak investor dengan mengurangi investasi keuangan mereka di negara lain untuk mendapatkan imbalan bunga yang lebih tinggi di AS. Hal ini sangat wajar dan tidak perlu dikawatirkan berlebihan karena gejolak migrasi ini bersifat sementara dan sesaat, begitu pula gejolak penguatan dolar AS terhadap mata uang lain.

Namun, hal ini akan menjadi sangat mengkhawatirkan bila para spekulan meramaikan ketidakpastian ini dengan melakukan transaksi da lam jumlah dan tingkat nilai tukar yang tidak wajar sehingga menimbulkan ketidakstabilan nilai tukar. Dalam banyak peristiwa sering kali negara yang stabil ekonominya sekalipun, dapat dikesankan tidak stabil dengan menggoyang nilai tukar mata uangnya untuk menimbulkan kepanikan pasar yang akhirnya malah memperbesar dampak buruk dari aksi para spekulan. Indonesia pernah merasakan hal ini ketika nilai tukar rupiah mencapai Rp 20 ribu per dolar AS, yang akhirnya menimbulkan gejolak politik.

Stabilitas daya beli rupiah di dalam negeri yang diukur dengan inflasi relatif mudah diprediksi dan dikelola polanya. Kenaikan harga-harga kebutuhan pokok, bahkan spekulan barang kebutuhan pokok, dapat diketahui dan diurai ham batannya. Bila terjadi gejolak harga, relatif dapat diprediksi berapa bulan harga akan kembali normal.

Stabilitas daya beli rupiah terhadap mata uang lain yang diukur dengan nilai tukar rupiah jauh lebih sulit diprediksi dan dikelola karena kurangnya aturan yang disepakati secara global untuk mencegah spekulan melakukan aksinya. Sungguh ti dak wajar harga minyak dunia, bahkan harga emas dunia, di pasar spot ditentukan oleh harga komoditas tersebut di pasar berjangka.

Ketika Rasulullah SAW melihat praktik jual beli kali bi kali, yaitu jual beli yang penyerahan barang dan uang nya, kedua-duanya secara tidak tunai, beliau segera melarangnya. Transaksi inilah yang menjadi kekuatan para spekulan merusak harga pasar. Transaksi inilah yang digunakan para spekulan untuk memengaruhi harga komoditas pada sektor riil de ngan kekuatan uang meskipun uangnya masih dalam bentuk janji untuk membayar.

Ketika Rasulullah SAW melihat praktik bay najasy, yaitu kesepakatan curang untuk mengatur harga ba rang di pasar, beliau segera melarangnya. Ketika Umar bin Khattab RA melihat praktik curang para pedagang yang menawarkan harga di bawah harga pasar, beliau mengusir para spekulan itu dan melarang mereka berdagang lagi di pasar.

Tingkat bunga Libor (London Interbank Offering Rate) yang ditentukan secara konsensus oleh bank-bank utama ternyata tidak lepas dari kecurangan. Nilai ekstrem yang dimasukkan para pelaku konsensus memang tidak dipakai, tapi mereka tetap diikutkan dalam proses konsensus berikutnya.

Begitu pula dengan proses penentuan nilai tukar mata uang, akan dicari konsensus di antara para pelaku utama untuk menentukan nilai tukar yang mendapat dukungan pasar (market supporting level exchange rate). Nilai tukar konsensus yang ditentukan dalam proses menentukan nilai tukar rupiah, se patutnya mengeluarkan angka ekstrem dan juga menge luarkan mereka yang me masukkan angka ekstrem tersebut dalam proses konsensus nilai tukar berikutnya.

Kebijakan stabilitas rupiah sudah sepatutnya disiapkan instrumen yang berbeda untuk menjaga stabilitas inflasi dan untuk menjaga stabilitas nilai tukar.

By Adiwarman A. Karim | Republika, 26 Agustus 2013

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *