Sine Qua Non

Sine Qua Non berasal dari bahasa Latin  yang berarti suatu kondisi yang tak terelakkan adanya, dalam bahasa Inggris maknanya “without which (thing) nothing”.  Dalam kaidah fikih disebut ma la yatimmul wajib illa bihi fahuwa wajib, suatu yang harus ada untuk mengerjakan yang wajib, maka sesuatu itu wajib pula hukumnya.

Setiap kebijakan ekonomi Amerika Serikat, mulai dari Quantitative Easing yang mengguyur pasar dengan dolar AS 85 miliar dolar AS per bulan, rencana tapering pengurangan jumlah pengguyuran dolar AS menjadi 60 miliar dolar AS per bulan, sampai pada shut down beberapa layanan publik akibat konflik budget, merupakan sine qua non bagi negara-negara lain.  Demikian besarnya perekonomian AS saat ini, sehingga setiap kebijakan ekonomi yang akan diambil selalu diantisipasi oleh negara-negara lain, termasuk Indonesia.

Pergerakan kurs rupiah dan indeks harga saham merupakan dua indikator yang paling cepat merasakan akibatnya.  Pemerintah dan Bank Indonesia dengan cepat mengeluarkan rangkaian kebijakan untuk mengantisipasi perkembangan ekonomi global.  Kebijakan tersebut selanjutnya merupakan sine qua non bagi pelaku industri.

Penerbitan Obligasi Ritel Seri 10 (ORI 010) akan menyedot likuiditas perbankan sebesar 20 triliun rupiah.  Kebijakan BI menaikkan Giro Wajib Minimum (GWM) sekunder, dari saat ini sebesar 2,5 persen dari dana pihak ketiga (DPK) menjadi 4 persen secara bertahap sampai dengan Desember 2013 diperkirakan akan menyedot likuiditas perbankan 17 triliun rupiah setiap bulannya. Ketatnya likuiditas perbankan semakin terasa ketika BI juga menurunkan loan to deposit ratio (LDR) dari 100 persen menjadi 92 persen, yang akan berlaku efektif sejak tanggal 2 Desember 2013.

Masih merasa belum cukup, BI juga menaikkan tingkat suku bunga untuk menyedot rupiah dari pasar.  Ketatnya likuiditas perbankan telah mendorong bank-bank menyiasatinya dengan memberikan hadiah dalam bentuk cash back atau barang kepada para deposannya.  Dengan strategi ini bank dapat membayar bunga efektif yang lebih tinggi daripada tingkat bunga yang ditetapkan oleh Lembaga Penjaminan Simpanan (LPS).  Namun LPS tidak kalah sigap dan segera menerbitkan surat edaran yang isinya LPS akan memperhitungkan hadiah tersebut sebagai penambah bunga efektif yang bila nilainya lebih tinggi dari bunga rujukan LPS, maka LPS tidak akan menjamin simpanan tersebut.

Di sisi lain, ekspansi kredit juga dibatasi dengan ketentuan loan to value (LTV) yang lebih ketat.  KPR indent dibatasi untuk fasilitas rumah pertama saja. Ekspansi cabang kantor bank juga dibatasi dengan ketentuan Alokasi Modal Inti untuk tiap cabang.

Dengan rangkaian kebijakan itu tidak sulit bagi orang awam sekalipun untuk membaca arah perekonomian Indonesia.  Pertumbuhan ekonomi tentu akan tertahan.  Itu sebabnya pemerintah dan berbagai lembaga analisa ekonomi melakukan revisi turun terhadap laju pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Kemampuan untuk menyadari adanya hal-hal yang tak terelakkan, adanya hal-hal yang tidak dapat dihindarkan, untuk selanjutnya menyiapkan strategi antisipasinya, merupakan hal yang paling logis.

Kemampuan itu pula yang membawa tiga orang guru besar ekonomi Eugene Fama, Robert Shiller, Lars Peter Hansen mendapat Nobel Ekonomi tahun 2013 ini.  Fama, guru besar di University of Chicago menerima kenyataan bahwa sulit untuk dapat memprediksi pergerakan harga saham dalam jangka pendek.  Dengan menerima kenyataan itu, Fama mengembangkan reksadana indeks saham.  Teori random walk yang dikembangkan Fama mengatakan harga saham sulit diprediksi karena dalam jangka pendek harga saham bergerak secara acak seperti acaknya langkah kaki orang yang sedang mabuk.  Penemuan Fama ini mengingatkan kita akan peringatan Allah dalam Quran bahwa “orang yang memakan riba akan berjalan seperti jalannya orang mabuk”.

Shiller, guru besar Yale University, dengan jeli menerima kenyataan bahwa investor tidak rasional, dan ketidak-rasionalan inilah yang mendorong investor membeli produk investasi bodong.  Shiller merupakan orang pertama yang mengingatkan bahaya krisis subprime mortgage di AS.  Penemuan Shiller ini mengingatkan kita ilmu fikih tentang adanya aset nyata (ma’kud alaih) sebagai sine qua non transaksi ekonomi.

Hansen, guru besar University of Chicago, menerima kenyataan bahwa lingkungan bisnis selalu diliputi ketidak-pastian dan selanjutnya mengembangkan model dinamis untuk antisipasinya yang disebut the generalized methods of moments.  Bahasa mudahnya, manusia hanya dapat berusaha ditengah ketidak-pastian.

Ketika kaum muslimin hijrah dari Mekah ke Madinah, mereka tidak dapat membawa barang atau bisnis mereka ke Madinah.  Mereka harus menerima keadaan tidak membawa harta apapun ke Madinah sebagai suatu sine qua non.  Ketika mereka mulai berdagang di Madinah, seorang sahabat mengadu kepada Rasulullah saw. “Ya Rasulullah keuntungan kami lebih kecil daripada keuntungan pedagang Yahudi.  Mereka mengurangi timbangan, sedangkan kami berjualan dengan jujur”.  Rasulullah saw menasehati “lebihkan timbanganmu, jangan kurangi”.  Jujur adalah sine qua non, selanjutnya siapkan strategi yang tepat.  Dua tahun kemudian pasar Madinah didominasi kaum muslimin, pedagang Yahudi semakin tersingkir bisnisnya.

Calon pembeli bicara dari mulut ke mulut, “kalau beli di pasar orang Islam saja, satu kilonya berat, di tempat orang Yahudi satu kilonya enteng”.  Terlebih lagi, setiap kali menjual berarti pedagang muslim telah melakukan sedekah yang selanjutnya mengundang berkah Allah.

Berkeluh kesah akan suatu keadaan yang tidak mampu kita ubah, tidak membawa manfaat apapun.  Berdamailah dengan kenyataan dengan menyiapkan antisipasinya.  When you can not change the wind, adjust your sail.

by  Adiwarman A. Karim | Republika, 21 Oktober 2013

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *