Sindrom Senin Pagi

Industri keuangan syariah memulai tahun ini dengan tertatih. Pertumbuhannya di awal tahun ini ibaratkan sindrom Senin pagi yang terasa berat memulai hari kerja setelah menjalani akhir pekan. Dampaknya mulai terasa dari rasio-rasio keuangan industri keuangan syariah yang kurang bergairah. Mari kita analisis satu per satu.

Pertama, perekonomian dunia dan perekonomian Indonesia memang sedang dalam fase hibernasi sejak tahun lalu. Ekonomi syariah yang mengaitkan langsung sektor keuangan dengan sektor riil tentu langsung merasakan dampaknya. Industri keuangan syariah pun ikut masuki dalam fase hibernasi. Gejala pro-cyclical ini berbeda dengan pro-cyclical di industri keuangan konvensional dalam artian urutan terjadinya. Dalam industri keuangan syariah, fase hibernasi perekonomian terjadi lebih dulu kemudian berdampak pada sektor keuangan. Sedangkan dalam industri keuangan konvensional, fase hibernasi sektor keuangan terjadi lebih dulu kemudian berdampak pada perekonomian.

Edit Horváth, Katalin Mérõ dan Balázs Zsámboki, para peneliti di Bank Sentral Hongaria menulis Studies on the Procyclical Behaviour of Banks menunjukkan perilaku bank konvensional yang cenderung terlalu optimis ketika perekonomian sedang tumbuh baik malah menjadi sumber masalah di kemudian hari. Sebaliknya De Long dan Waldman, masing-masing guru besar ekonomi di Universitas California Berkeley dan European University Institute dalam penelitian mereka Interpreting Procyclical Productivity menunjukkan perubahan di sektor riil yaitu perubahan permintaan dan teknologi yang menjadi penyebab perubahan di perekonomian secara makro, yang selanjutnya akan berdampak ke sektor keuangan. Jadi bagi keuangan syariah, ketika ekonomi sehat dan berkembang maka industri keuangan syariah akan sehat dan berkembang pula. Begitu sebaliknya bila perekonomian sedang dalam fase hibernasi.

Kedua, struktur pasar perbankan syariah di Indonesia yang separuh pangsa pasarnya dikuasai oleh dua bank syariah terbesar. Akibatnya, bila dua bank syariah ini melakukan konsolidasi bisnis dalam mengantisipasi fase hibernasi, maka seluruh industri akan merasakan dampaknya. Karakteristik pembiayaan syariah yang melakukan pembayaran cicilan pokok setiap bulan membuat bank syariah memiliki kecepatan run-off pelunasan yang lebih cepat daripada bank konvensional. Akibatnya bank syariah harus bertumbuh lebih cepat daripada tingkat run-off-nya.  Perlambatan dalam proses konsolidasi sekaligus akan meningkatkan rasio pembiayaan bermasalah, karena jumlah pembiayaan yang lancar berkurang akibat run-off pelunasan. Bila rasio pembiayaan bermasalah di dua bank terbesar meningkat, maka seluruh industri akan merasakan dampaknya.

Ketiga, beberapa regulasi perlu disesuaikan dengan karakteristik risiko perbankan syariah yang timbul akibat keunikan produk. Ukuran besar dan ukuran kompleksitas perbankan syariah yang jauh lebih kecil dan sederhana dibandingkan perbankan konvensional membuat regulasi perbankan syariah yang disusun dengan menyetarakannya dengan perbankan konvensional, terasa sedikit berlebihan.

Stephanie Lo dan Kenneth Rogoff, guru besar ekonomi Universitas Harvard dalam penelitian mereka Secular Stagnation, Debt Overhang and Other Rationales for Sluggish Growth juga menemukan regulasi sektor keuangan yang berlebihan menjadi salah satu penyebab fase hibernasi.

Penelitian yang sedang berjalan tentang Kajian Hibernasi Keuangan Syariah menekankan perlunya evaluasi beberapa regulasi karena fase hibernasi memerlukan regulasi yang khusus. Berikut ini beberapa cuplikannya.

Pertama, risk based LTV. Tidak satupun bank syariah yang masuk kategori bank berdampak sistemik (Domestic Systemically Important Bank) sehingga tidak memerlukan capital surcharge. Tidak satupun bank syariah yang telah masuk dalam kategori bank BUKU 3 dan BUKU 4 sehingga tidak memerlukan Capital Conservation Buffer. Sehingga sangat relevan bila LTV untuk perbankan syariah lebih tinggi daripada perbankan konvensional. Dengan kata lain, uang muka pembiayaan syariah dapat lebih rendah daripada uang muka kredit konvensional.

Krisis keuangan di AS akibat pemberian kredit kepada mereka yang tidak layak kredit (subprime crisis) mengajarkan kita untuk tidak menurunkan kriteria kelayakan. Penerapan uang muka yang lebih kecil dengan tetap mempertahankan kriteria kelayakan diyakini tidak akan meningkatkan pembiayaan bermasalah. Hasil penelitian peneliti BI yang disampaikan di pertemuan IDB di Turki tahun lalu, mempunyai kesimpulan yang sama.

Kedua, dana haji sebagai capital tier 3. Dana haji yang mengendap di bank syariah dua tahun atau lebih seyogyanya dapat diperhitungkan sebagai modal lapis kedua atau lapis ketiga. Filosofi ketentuan Basel membuka kemungkinan itu. Kewajiban bank yang mengendap dalam jangka waktu yang relatif lama dibandingkan dana pihak ketiga lainnya dapat dipandang sebagai modal kuasi. Paul Cheng, Ketua European Social Investment Taskforce, dalam penelitianya Quasi Equity yang dipublikasi ulang oleh European Commission menjelaskan penerapan perhitungan quasi equity di organisasi amal dan badan sosial. Karakteristiknya yang mirip modal, meskipun relatif berjangka pendek dibandingkan modal lainnya, dapat membantu permodalan bank syariah.

Ketiga, regulasi untuk unsecured financing. Bisnis kartu kredit adalah bisnis unsecured financing yang dilakukan secara masif bahkan dengan pengetahuan yang minimal tentang calon nasabahnya. Kemudian bisnis kartu ini dikembangkan menjadi bisnis Kredit Tanpa Agunan. Bisnis mikro syariah juga mirip dengan bisnis unsecured financing dalam artian minimnya agunan. Berbeda dengan bisnis kartu kredit yang operasionalnya terpusat, pembiayaan mikro syariah tersebar ke pelosok. Calon nasabah pembiayaan mikro syariah dikenal dekat secara personal, bukan sekedar verifikasi melalui telpon. Sehingga wajar bila regulasi perbankan syariah dalam pembiayaan skala mikro mendapat kemudahan seperti bisnis unsecured financing lainnya.

Keempat, ketentuan alokasi modal inti (AMI) untuk cabang. Suatu daerah dapat saja telah jenuh dengan kepadatan bank konvensional sehingga dikenakan AMI yang tinggi bagi bank konvensional, tapi bagi bank syariah daerah tersebut dikenakan AMI yang rendah karena masih langka.

Sindrom Senin Pagi dan hibernasi merupakan bagian dari perjalanan industri keuangan syariah. Mengeluh tanda tak mampu, barakah fil harakah, keberkahan ada dalam ikhtiar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *