Rupiah

Ekonomi Indonesia tahun 2018 jelas jauh lebih kuat daripada tahun 1998.  Namun menjelaskan ekonomi yang lebih kuat saja tanpa menjelaskan turbulensi ekonomi global yang dihadapi, ibarat membicarakan teori di ruang hampa.

Ibarat menjelaskan rumah batu di tahun 2018 lebih kuat daripada rumah semi permanen di tahun 1998 tanpa menjelaskan skala gempa yang terjadi di tahun 1998 lebih kecil daripada gempa di tahun 2018. Turbulensi ekonomi di tahun 1998 dipicu oleh krisis mata uang Baht Thailand, sedangkan turbulensi di tahun 2018 dipicu oleh naiknya suku bunga bank sentral AS dan diawalinya perang dagang Cina dan AS.

Pertama, suku bunga Fed diperkirakan akan naik pada September dan Desember ini menjadi 3,0 – 3,5 persen. Untuk menjaga nilai tukar rupiah, diperkirakan BI akan menaikkan bunga menjadi 6 – 7 persen.  Bunga LPS dan biaya dana perbankan diperkirakan akan naik.  Biaya dana meningkat, maka bunga kredit pun akan naik.  Potensi kredit bermasalah akan meningkat.

Kenaikan suku bunga bank sentral AS diperkirakan akan terus terjadi sampai akhir tahun 2019.  Suku bunga bank sentral AS sebelum kebijakan Pelonggaran Moneter sebesar 5,25 persen.  Diperkirakan setelah kenaikan bulan September dan Desember ini, bank sentral AS akan menaikkan lagi secara bertahap.

Tekanan kenaikan bunga ini bertambah akibat upaya Pemerintah AS menutupi membesarnya defisit anggarannya dengan menaikkan bunga surat berharga pemerintah AS.  Tekanan ganda suku bunga AS ini akan melemahkan rupiah yang efeknya akan terasa selama dua bulan.

Kedua, test of the truth diperkirakan akan terjadi pada Februari – Maret 2019.  Pada saat itu kita akan mengetahui apakah keriuhan Perang dagang Cina dan AS, akan benar-benar terjadi atau hanya merupakan strategi kampanye menghadapi midterm election di AS yang akan berlangsung sampai November 2018.  Posisi pemerintah yang membela kepentingan domestik melawan negara-negara yang dipandang merugikan perekonomian domestik diperkirakan dapat menaikkan elektabilitas partai Republik dalam midterm election.  Ini test of the truth di AS.

Bila sekedar strategi kampanye, maka turbulensi nilai tukar akan mereda.  Bila perang dagang benar-benar terjadi maka turbulensi semakin besar.  Pada saat itu, indikator yang biasa digunakan untuk masa normal, yaitu rasio defisit transaksi berjalan terhadap PDB  tidak akan digunakan lagi. Rasio ini dipandang tepat untuk mengukur kemampuan ekspor dan impor serta investasi dalam jangka panjang.

Yang dipandang lebih tepat untuk mengukur larinya dana-dana asing adalah rasio net international investment position terhadap PDB.  Rasio ini dipandang dapat menggambarkan kepercayaan pasar terhadap suatu negara karena mengukur besarnya dana asing yang keluar dan masuk dalam jangka pendek.

Keadaan larinya dana-dana asing pada saat itu dapat menimbulkan kepanikan bila tidak diantisipasi dengan baik.  Hal ini karena hampir 40 persen obligasi pemerintah dalam rupiah dipegang oleh investor asing.  Besarnya porsi kepemilikan asing ini bila dikombinasikan dengan kepanikan, dapat menjadi test of the truth di Indonesia.  Larinya dana-dana asing menjelang pilpres dapat dianggap gesture diterima atau tidak diterimanya kandidat oleh pasar atau lebih tepatnya investor asing.

Ketiga, berdamai dengan kenyataan.  Sejak dulu Indonesia mengalami defisit transaksi berjalan.  Memaksakan mengurangi defisit ini dalam waktu singkat akan kontra-produktif.  Ibarat melakukan diet ketat untuk menurunkan berat badan dalam waktu singkat yang malah dapat menimbulkan masalah kurang gizi.  Mengurangi defisit transaksi berjalan tidak dapat dilakukan dalam waktu singkat karena ekspor, impor, dan investasi langsung adalah kegiatan-kegiatan dalam horizon jangka menengah panjang.

Dalam jangka pendek kita harus berdamai dengan kenyataan adanya defisit transaksi berjalan.  Fokusnya pada bagaimana membiayai defisit tersebut.  Selama ini Indonesia membiayai defisit neraca berjalan dengan dana-dana jangka pendek melalui perbankan dan pasar modal. Ini sebabnya nilai tukar rupiah menjadi rentan bila dana-dana jangka pendek tidak lagi tersedia.  Hal ini tergambar dari besarnya defisit traksaksi berjalan sekaligus besarnya defisit net international investment position.

Dalam jangka pendek, prioritas yang mendesak adalah memperbaiki dan menjaga net international investment position karena menggambarkan kepercayaan asing terhadap kestabilan ekonomi dan politik suatu negara.  Kegaduhan politik apalagi ideologis, ketidakmampuan melakukan rekonsiliasi pasca pemilihan, rasa keadilan yang terusik, alienasi sekelompok anak bangsa dari lainnya, tidak akan memberikan kenyamanan dan kepastian keamanan investasi bagi investor asing.

Keempat, mengelola ekspektasi pasar.  Mudahnya akses informasi dan semakin banyaknya orang yang memahami ilmu ekonomi, mendorong pemerintah di banyak negara menggunakan mazhab anticipated government policy.  Semakin masyarakat dapat mengantisipasi kebijakan yang akan diambil pemerintah, maka akan semakin efektif kebijakan tersebut. Pemerintah membentuk rational expectation masyarakat.

Penjelasan yang sulit diterima logika masyarakat, tidak akan dipercaya masyarakat. Bila ekspektasi masyarakat pada akhir tahun 2018 nilai tukar akan mencapai 15 ribu per dolar AS, maka itulah yang akan terjadi.  Dengan rencana kenaikan bunga bank sentral AS dan bunga surat berharga pemerintah AS, sulit diterima logika masyarakat bahwa nilai tukar akan tetap berada pada kisaran 14.300 per dolar AS.

Bila krisis Turki dan Argentina dijadikan penjelasan atas melemahnya rupiah saat ini, maka dengan logika yang sama dapat diperkirakan besarnya dampak bagi pelemahan rupiah bila India juga terkena imbas turbulensi ekonomi global.  Turki, Argentina, Afrika Selatan, India dan Indonesia adalah the Fragile Five yaitu negara-negara yang memiliki defisit transaksi berjalan terbesar.

Skala ekonomi India yang jauh lebih besar daripada Turki dan Argentina, tiga kali lebih besar daripada Indonesia; serta dampak pengetatan impor baja oleh AS dan posisi India sebagai penghasil baja dunia yang tiga kali lebih besar daripada Turki, dengan logika yang sama akan membentuk ekspektasi masyarakat akan pelemahan yang lebih besar terhadap rupiah, bila India terkena efek dominonya.

Turunan dari anticipated policy adalah strategi planned crisis yaitu krisis yang terencana.  Ekspektasi masyarakat dibentuk sehingga menimbulkan saling percaya antara pemerintah dan masyarakat akan turbulensi yang akan terjadi dan langkah-langkah mitigasinya.  Lebih baik menyampaikan perkiraan nilai tukar di tahun 2019 akan berkisar 15.300 – 15.700 per dolar AS dan mendapatkan market supporting level yang diyakini masyarakat akan terjadi, daripada memberikan harapan nilai tukar di tahun 2019 pada kisaran 14.500 tapi tidak mendapat market support.

Rasulullah SAW berpesan “setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggung jawabannya”.

Adiwarman A. Karim

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *