Pahami 4 Kaidah dan 4 Segmen Masyarakat

Strategi mengembangkan asuransi syariah, kata Adiwarman Karim, dapat dilakukan dengan cara memahami empat kaidah fikih dan mengenali empat segmen masyarakat. Berbicara dalam Focus Group Discusion “Pengembangan Asuransi Mikro Syariah” yang diselenggarakan Kamar Dagang Indonesia (26/2), Wakil Ketua Komite Tetap Keuangan Syariah Kadin ini meyakini Indonesia akan sulit dikalahkan bila produk asuransi mikro syariah digalakkan.

Adiwarman Karim mengatakan, Dewan Syariah Nasional (DSN) menggunakan empat kaidah fikih terkait produk asuransi mikro syariah. Kaidah ini diharapkan membuat produk tersebut berbeda signifikan dengan produk asuransi konvensional. Kaidah pertama, jangan sampai menunggu produk asuransi mikro syariah benar-benar 100% murni syariah. “Salah-salah sedikit tidak masalah. Jangan tunggu sempurna. Jalankan saja dulu nanti pasti ketemu,” katanya.

Kedua, jangan menggunakan bahasa yang sulit dimengerti ketika menjual produk asuransi syariah. “Kalau bisa, berbicara sama nasabah bahasanya harus sama dengan bahasa dia. Jangan dibuat susah. Menggunakan bahasa lokal penting untuk mengenalkan produk syariah kepada masyarakat lokal agar mereka lebih gampang menerima dan mengerti asuransi mikro syariah, tidak perlu menggunakan istilah-istilah yang mereka tidak mengerti,” katanya.

Ketiga, harus bisa memisahkan antara yang halal dan haram. Kalau menjual asuransi syariah maka jangan dicampur adukan dengan asuransi mikro konvensional. Keempat, ambillah makna dari Alquran dan hadis bukan sekedar tekstual.

Adiwarman Karim dalam acara Kamar Dagang Indonesia

Selain kaidah tersebut, strategi mengembangkan asuransi juga dapat dilakukan dengan cara mengenali tipe konsumen muslim dalam merespon produk syariah. Tipe konsumen pertama adalah apatis, yaitu mereka yang pemahaman terhadap produk tidak penting; yang penting harga produk murah.

Kedua, konsumen tipe rasional yaitu kelompok yang mementingkan fitur-fitur dan kritis terhadap pemahaman produk. Tipe ketiga adalah tipe universal, yaitu kelompok masyarakat yang menginginkan transparansi dari penjualan produk yang ditawarkan. Tipe terakhir adalah tipe conformist, yaitu kelompok konsumen yang lebih mementingkan produk yang benar-benar islami.

Menurut dia pendekatan kepada masyarakat dalam pengembangan asuransi mikro syariah tidak dapat disamakan karena kebutuhan masing-masing nasabah berbeda yang disebabkan oleh kondisi sosial, ekonomi, budaya dan tempat tinggal yang membentuk konsumen.

Menurut catatan kamar dagang, lima tahun terakhir pertumbuhan aset asuransi mikro syariah sebesar 27 persen masih didominasi keluarga menengah dan menengah ke atas. Data Asosiasi Asuransi Syariah Indonesia hingga akhir Juni 2014 menyebutkan total aset perusahaan asuransi syariah dan unit usaha syariah di dalam negeri mencapai Rp 19,68 triliun, naik 22,79 persen di banding dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara total investasi di asuransi syariah sudah mencapai Rp 16,69 triliun tumbuh 22,81 secara tahunan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *