Negeri Satu Arah Dua Kiblat

Maurice Obstfeld guru besar ekonomi Universitas California Berkeley dan Kenneth Rogoff guru besar ekonomi Universitas Harvard menulis The Six Major Puzzles in International Macroeconomics. Salah satu dari enam teka-teki yang belum terpecahkan adalah the exchange rate regime puzzle yaitu mengapa nilai tukar suatu mata uang demikian fluktuatif dan tidak terkait dengan fundamental ekonomi negara yang bersangkutan.

Negara dengan fundamental ekonomi yang kuatpun, hanya karena satu virus atau bakteri ekonomi saja, dapat mengalami goncangan nilai tukar mata uangnya. Kegaduhan politik dan ekspektasi ekonomi yang ditimbulkannya, rencana Bank Sentral AS menaikkan suku bunga dan ekspektasi ekonomi yang ditimbulkannya merupakan contoh nyata virus dan bakteri ekonomi.

Obstfeld dan Rogoff juga mengidentifikasi teka-teki lain yang juga belum terpecahkan dengan merujuk pada penelitian Backus, Kehoe, Kydland. David Backus guru besar ekonomi Universitas New York, Patrick Kehoe guru besar ekonomi Universitas Minnesota, Finn Kydland guru besar ekonomi Universitas California Santa Barbara dalam penelitian mereka International Real Business Cycles, menemukan anomali berupa consumption correlation puzzle yaitu lemahnya keterkaitan antara tingkat konsumsi dengan tingkat output di suatu negara.

Demikian besarnya nilai transaksi di pasar keuangan dibandingkan dengan nilai di pasar barang dan jasa telah membuat pergerakan output lebih dipengaruhi oleh pasar keuangan yang tidak terkait dengan pasar barang dan jasa. Hanya sebagian kecil transaksi di pasar keuangan yang terkait dengan traksaksi pasar barang dan jasa. Maka tidak heran kalau tingkat konsumsi lemah keterkaitannya dengan tingkat output.

Eugene Fama guru besar ekonomi Universitas Chicago dan pemenang Nobel Ekonomi tahun 2013 juga memiliki teka teki yang tak terjawab, the forward premium puzzle yaitu nilai mata uang suatu negara akan melemah ketika tingkat suku bunga nominal negara tersebut lebih tinggi daripada tingkat suku bunga mata uang asing. Padahal teori ekonomi memprediksi sebaliknya.

Berbagai teka-teki ekonomi tersebut merupakan tantangan bagi kita untuk ikut mencarikan solusinya. Terlebih lagi bila ada solusi yang menjadi benang merah beberapa teka teki tersebut. Dalam matematika dikenal istilah persamaan Diophantine, dalam bahasa mudahnya, sekali merengkuh dayung, dua, tiga pulau terlampaui. Solusi kreatif yang dapat menyelesaikan masalah secara struktural dengan menemukan adanya elemen yang sama dalam persamaan yang berbeda.

Masih ingat bagaimana Rasulullah saw. menyikapi dua kiblat yang berbeda, Baitulmakdis dan Kakbah? Sebelum hijrah ke Madinah, kiblat mengarah ke Baitulmakdis di Yerusalem. Dalam kitab tafsir Ibnu Katsir, Rasulullah saw. dan umatnya salat menghadap Baitulmakdis namun rasul lebih suka salat menghadap kiblatnya Nabi Ibrahim a.s. yaitu Kakbah. Solusi kreatif Rasulullah saw. adalah salat pada salah satu area Masjidilharam yang menghadap Kakbah sekaligus menghadap Baitulmakdis. Inilah area favorit Rasulullah saw.

Setelah hijrah ke Madinah, hal itu tidak lagi dapat dilakukan karena letak Madinah di antara Mekah dan Baitulmakdis. Beliau saw. dan umatnya salat menghadap Baitulmakdis. Sampai pada tahun kedua hijriah hari Senin bulan Rajab waktu zuhur, ketika Rasulullah saw. tengah salat turunlah ayat yang memerintahkan salat menghadap Kakbah.

Rasul saw. menghentikan sementara salatnya, kemudian meneruskannya dengan memindahkan arah kiblat menghadap ke Masjidilharam. Merujuk pada peristiwa tersebut, lalu masjid ini dinamakan Masjid Qiblatain, yang artinya masjid berkiblat dua. Elemen yang sama adalah selalu mentaati perintah Allah, bukan sekedar menghadap ke Baitulmakdis atau ke Kakbah.

Elemen yang sama dalam exchange rate regime puzzle, consumption correlation puzzle, dan forward premium puzzle adalah tidak terpenuhinya kaidah ada uang ada barang. Uang menjelma menjadi komoditi yang dapat diperjualbelikan akibatnya pasar keuangan tidak lagi terkait dengan pasar barang dan jasa. Hedging yang seharusnya untuk melindungi dari potensi kerugian akibat fluktuasi nilai tukar, malah menjadi instrumen yang diperjualbelikan untuk mengambil keuntungan akibat fluktuasi nilai tukar.

Negeri yang memiliki posisi geografis mirip dengan area favorit rasul saw. salat di Masjidilharam adalah Indonesia. Inilah negeri satu arah dua kiblat. Negeri yang posisinya ketika kita menghadap Kakbah sekaligus menghadap Baitulmakdis. Inilah negeri yang rakyatnya sangat kreatif dalam segala keterbatasan yang ada.

Masih ingat perjanjian Hudaibiah yang sempat dipertanyakan oleh sebagian sahabat Rasul saw. karena dianggap merugikan umat Islam? Dua di antara enam butir perjanjian itu memang sepintas terasa janggal. Kaum kafir Quraisy Mekah yang lari dari Mekah ke Madinah setelah perjanjian itu, harus dikembalikan balik ke Mekah. Kaum muslimin Madinah yang lari ke Mekah, tidak akan dikembalikan balik ke Madinah. Belakangan kita tahu betapa efektifnya strategi tersebut dalam memperkuat kekuatan Islam di Madinah.

Dalam konteks yang berbeda namun memiliki elemen yang sama, Islam mengajarkan kaum yang merdeka tidak boleh dijadikan budak, sebaliknya kaum budak boleh menjadi orang merdeka. Orang baik tidak boleh melakukan dosa, sebaliknya orang yang berdosa dapat bertobat. Bank konvensional boleh membuka unit syariah, sebaliknya bank syariah tidak boleh membuka unit konvensional. Investor konvensional boleh berinvestasi dalam produk syariah, sebaliknya investor syariah tidak boleh investasi dalam produk konvensional. Inilah yang dimaksud kaidah fikih, al-ibratu bil ma’ani wala bil mabani.

Persamaan Diophantine dalam ilmu matematika yang secara luas digunakan dalam ilmu ekonomi, dirumuskan oleh Diophantus ahli matematika abad ketiga dari Alexandria Mesir. Diophantus merumuskan cara menemukan solusi ketika variable yang tidak diketahui (unknowns) lebih banyak daripada persamaan yang ada. Dalam merumuskan suatu kebijakan ekonomi seringkali yang tidak kita ketahui lebih banyak daripada yang kita ketahui.

Begitu pula dalam mengelola nilai tukar Rupiah. Hal-hal yang kita tidak ketahui lebih banyak daripada yang kita ketahui. Ibarat menjaga badan agar tetap sehat, jenis virus serta bakteri yang tidak diketahui lebih banyak daripada yang diketahui. Daripada hidup paranoid memikirkan banyaknya jenis virus dan bakteri, lebih baik berusaha mempunyai pola gaya hidup sehat.

Daripada berperilaku ekonomi paranoid yang tersandera oleh berbagai kegaduhan dan pesimisme, lebih baik perilaku ekonomi kreatif. Rasul saw. bersabda, amalkan apa yang kau ketahui niscaya Allah akan memberi tahu apa yang tidak kau ketahui.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *