Headwinds and Tailwinds

Robert Aliber, profesor Universitas Chicago, pertama kali memperkenalkan istilah Economic Headwinds and Tailwinds pada tahun 2003 dengan mengibaratkan perekonomian sebagai pesawat terbang yang kadang lajunya tertahan oleh angin yang menghadang dari depan, kadang terdorong lajunya oleh angin yang mendorong dari belakang, kadang juga bergeser oleh angin yang menerpa dari samping.

Istilah itu kemudian dipopulerkan oleh Dennis Lockhart, pimpinan Federal Reserve Bank of Atlanta, mempopulerkan istilah Headwins dan Tailwinds dalam Economic Outlook yang disampaikan pada tahun 2011.

Nicolas Eyzaguirre, peneliti IMF, dalam penelitiannya Tailwinds or Headwinds, Adjusting the Economic Sails in Latin America, malah memberikan peringatan bukan saja angin yang menghadang dari depan harus diwaspadai, tapi juga angin yang mendorong dari belakang dan samping harus diwaspadai.  Ia juga mengatakan, cara terbaik mengantisipasi perubahan angin itu adalah dengan cara mempengaruhi perubahan itu sendiri.

Hal yang terbaik untuk industri keuangan syariah di Indonesia dalam mengantisipasi tahun 2016 adalah dengan mempengaruhi keadaan itu sendiri.  Pembentukan Komite Nasional Keuangan Syariah yang langsung dipimpin oleh Presiden merupakan upaya mempengaruhi industri keuangan syariah ke arah yang lebih baik.  Pembentukan Badan Pengelola Keuangan Haji merupakan upaya lain dalam memberikan pengaruh positif pada keuangan syariah.

Dua hal ini, dalam istilah Robert Aliber, merupakan tailwinds yang akan mendorong laju pertumbuhan keuangan syariah di Indonesia.  KNKS diharapkan dapat menyelesaikan masalah harmonisasi berbagai regulasi yang ada.  Sedangkan BPKH diharapkan dapat menambah likuiditas jangka panjang.

Ada dua hal lain yang belum jelas apakah dapat menjadi tailwinds atau malah menjadi headwinds yang akan menghambat laju pertumbuhan keuangan syariah.  Pertama, antisipasi adanya pergantian pimpinan di beberapa lembaga keuangan syariah.  Biasanya pergantian pimpinan ini akan diikuti oleh periode konsolidasi internal selama tujuh sampai sembilan bulan.  Bila pergantian itu terjadi pada bulan Maret misalnya, maka praktis proses konsolidasi internal akan berjalan sampai dengan akhir tahun.  Bila ini yang terjadi maka ia akan menjadi headwinds yang mengurangi laju pertumbuhan tahun ini.

Kedua, antisipasi adanya penggabungan usaha beberapa lembaga keuangan syariah.  Biasanya proses penggabungan usaha juga akan diikuti dengan periode konsolidasi internal selama tiga tahun.  Bila proses itu dimulai tahun 2016, maka praktis konsolidasi baru berakhir pada akhir tahun 2018.  Bila ini yang terjadi maka ia akan menjadi headwinds juga.

Sebaliknya bila pergantian pimpinan dan penggabungan usaha tersebut dapat direncanakan dan dikelola dengan baik, maka ia akan menjadi tailwinds. Dua strategi yang paling lazim digunakan adalah memperpendek periode konsolidasi, dan perubahan arah kebijakan secara gradual dan kontinyu.

Keberhasilan keuangan syariah ditentukan oleh dua hal.  Pertama, kemampuan membaca arah angin.  Kedua, kemampuan beradaptasi dengan perubahan arah angin.

Martin Reeves dan Mike Deimler, dalam penelitian mereka “Adaptability: The New Competitive Advantage” menjelaskan betapa pentingnya kemampuan beradaptasi ini sehingga mereka menyimpulkannya sebagai keunggulan daya saing yang baru.  Dalam ungkapan mudahnya, “bila tidak mampu merubah arah angin, maka ubahlah layar kita”.

Kemampuan adaptasi inilah yang jelas terlihat dalam peta persaingan bank umum syariah di Indonesia dalam tahun 2016 ini.  Dari empat bank umum syariah terbesar di Indonesia, diperkirakan hanya dua diantaranya yang akan mengalami pertumbuhan pesat dengan memanfaatkan tailwinds.  Sedangkan satu bank masih akan terus konsolidasi internal, dan satu bank lainnya akan memasuki perubahan posisi layar sehingga juga akan memasuki periode konsolidasi internal.

Dari lima bank umum syariah papan tengah, diperkirakan hanya dua bank yang akan semakin kokoh dan tumbuh pesat meskipun keduanya akan menghadapi tantangan baru berupa crosswinds yang menerpa dari samping sehingga akan merubah wajah kedua bank tersebut.  Dua bank masih akan terus konsolidasi internal, dan satu bank lainnya akan memasuki akan memasuki perubahan posisi layar sehingga akan memperpanjang masa konsolidasi internalnya.

Dari tiga bank umum syariah papan bawah, diperkirakan hanya satu bank yang akan terus tumbuh solid.  Satu bank dengan posisi layar baru akan masuk masa pemulihan, dan satu bank lainnya dengan posisi layar baru malah diperkirakan akan menggunakan kapal baru yang lebih besar sehingga akan tumbuh secara tidak organik.

Masuknya satu bank umum konvensional menjadi bank umum syariah akan menambah meriah perkembangan bank syariah di Indonesia.  Bank ini akan langsung menyodok ke posisi lima besar bank umum syariah.

Beberapa unit usaha syariah juga mencanangkan untuk bergabung menjadi bank umum syariah.  Biasanya tentu akan diikuti dengan konsolidasi internal.  Sehingga dapat dikatakan tahun 2016 ini menjadi tahun terakhir sebelum industri keuangan syariah melakukan lompatan besar.  Pembiayaan ritel akan menjadi tulang punggungnya dengan empat segmen utama yaitu properti, kendaraan bermotor, usaha kecil, dan usaha mikro.

Dalam kisah-kisah sufi diceritakan ada dua sahabat yang dipenjara.  Satu bertubuh gemuk, satu bertubuh kurus.  Setelah satu tahun dipenjara, yang kurus tetap sehat karena kemampuannya beradaptasi dengan sedikitnya makanan di penjara.  Sedangkan yang gemuk kesulitan beradaptasi karena terbiasa makan banyak.

Dalam kitab Mabadi Awaliyah yang menjelaskan kaidah ushul fikih, kemampuan beradaptasi ditempatkan pada kaidah kesebelas dan duabelas.  Dalam kaidah kesebelas itu, dikutip pendapat Imam Syafii, “sesuatu, ketika sulit, maka hukumnya menjadi ringan”. Sehingga disimpulkan, ketika keadaan menjadi sulit, maka hukum menjadi luas dan ringan.

Sebaliknya dalam kaidah keduabelas dijelaskan “sesuatu yang dalam keadaan lapang maka hukumnya menjadi sempit dan berat”.  Kemudian Imam al Ghazali menyimpulkan kedua kaidah ini menjadi “setiap sesuatu yang melewati batas kewajaran memiliki hukum sebaliknya”.  Ketika keadaan sempit, hukum luas; ketika keadaan luas, hukum sempit”.

Rasulullah SAW bersabda, “Sungguh menakjubkan seorang muslim. Apapun keadaannya ia baik. Ketika lapang ia bersyukur, ketika sempit ia bersabar”.

Adiwarman A. Karim