Hakuna Matata

Hakuna Matata dalam bahasa Swahili berarti “jangan khawatir”. Dalam bahasa Inggris berarti “no problem”, orang Australia menyebutnya “no worries”, paman Sam menyebutnya “don’t worry be happy”.  Orang Arab menyebutnya “la tahzan”.

Hasil rapat dua hari The Federal Open Market Committee melegakan pasar dunia karena rencana pengurangan pengguyuran pasar dengan dolar AS dari 85 milyar per bulan menjadi 60 milyar per bulan, akhirnya ditunda, paling tidak sampai akhir tahun ini.

Indonesia merupakan negara yang paling merasa lega akan keputusan ini. Rupiah kembali menguat 4 persen terhadap dolar AS, indeks harga saham terdorong naik hampir 5 persen, optimisme mulai terdengar dari para menteri kabinet.

India juga dapat menarik nafas lega. Mata uang Rupee India yang mengalami penurunan terburuk pada bulan Agustus lalu di antara 78 mata uang dunia, mulai membaik. Rupee menguat 2,4 persen terhadap dolar AS, indeks harga saham Mumbai naik 3,3 persen.

Indeks harga saham Turki naik 8 persen, mata uang lira Turki sempat menguat sebelum akhirnya melemah tipis 0,3 persen terhadap dolar AS.  Indeks harga saham Afrika Selatan naik 2 persen, mata uang Rand Afrika Selatan juga sempat menguat namun akhirnya melemah tipis 0,6 persen terhadap dolar AS.

Negara-negara lain juga bernafas lega. Indeks Hang Seng Hongkong naik 1,7 persen, Nikkei 225 Jepang naik 1,8 persen, indeks ASX 200 Australia naik 1,1 persen, indeks saham di Thailand dan Filipina naik lebih dari 3 persen. Mata uang peso Filipina dan won Korea menguat 1 persen terhadap dolar AS, ringgit Malaysia juga menguat 2,1 persen. Hakuna Matata.

Penundaan rencana bank sentral AS ini mengirimkan dua sinyal kepada dunia. Pertama, perekonomian AS belum pulih sepenuhnya sehingga masih memerlukan kucuran dolar AS untuk mengurangi tingkat pengangguran. Pada bulan Juli tingkat pengangguran 7,4 persen berhadil ditekan menjadi 7,3 persen pada bulan Agustus, mendekati target 7 persen yang menjadi asumsi bank sentral AS.  Diperkirakan perekonomian AS masih memerlukan kucuran ini sampai tingkat pengangguran dibawah 6,5 persen. Indeks harga saham AS pun langsung bereaksi positif atas penundaan ini.

Kedua, AS sebagai negara dengan perekonomian terbesar dunia sekalipun tidak mampu memperkirakan dengan pasti kapan perekonomian mereka benar-benar pulih kembali. Bernanke, gubernur bank sentral AS, selalu menolak memberikan waktu pasti pelaksanaan pengurangan kucuran dolar AS ke pasar. Semua tergantung pada perkembangan pemulihan ekonomi AS.

Dalam keadaan turbulensi ekonomi saat ini, setiap negara bukan saja harus memperkuat ekonomi domestiknya namun juga harus menyiapkan berbagai skenario kebijakan untuk mengantisipasi kebijakan yang diambil negara-negara lain. Berlalunya inflasi musiman selama bulan Ramadan dan Idul Fitri dengan dampak THR nya, akan segera diikuti dengan datangnya Idul Adha dan sebentar lagi liburan akhir tahun.

Perayaan Idul Adha secara historis memang tidak akan mendorong inflasi musiman seperti Ramadan dan Idul Fitri. Kenaikan permintaan hewan ternak, mempunyai dampak ekonomi yang berbeda dengan Ramadan. Bila dalam bulan Ramadan permintaan barang naik karena stimulus THR, maka dalam Idul Adha masyarakat menggunakan tabungannya untuk membeli kurban.  Artinya kenaikan perputaran uang dalam bulan Ramadan tidak menggambarkan kekuatan dan preferensi masyarakat menggunakan tabungan untuk konsumsi. Sedangkan kenaikan perputaran uang dalam Idul Adha bersifat genuine menggambarkan kekuatan dan preferensi masyarakat terhadap penggunaan tabungan untuk konsumsi. Terlebih lagi, dalam Idul Adha masyarakat menggunakan tabungan rupiah nya untuk ditukarkan menjadi dolar AS dan riyal Arab Saudi sebagai bekal mereka pergi haji.

Tekanan terhadap rupiah yang bersifat musiman juga akan terasa pada akhir tahun dengan datangnya musim liburan Tabungan rupiah akan ditukar ke dolar AS untuk belanja di luar negeri.  Pusat-pusat pebelanjaan akan mulai menawarkan baju musim dingin untuk liburan ke luar negeri. Di sisi lain, ini merupakan peluang masuknya wisata manca negara yang ingin menghindari musim dingin dengan berlibur ke Indonesia.

Tantangan kita dan juga negara-negara berkembang lainnya adalah bagaimana mengurangi defisit necara perdagangan. Banyak negara yang mengandalkan pinjaman luar negeri untuk menutupi defisit neraca perdagangannya. Beberapa mengandalkan masuknya investasi luar negeri jangka pendek melalui pasar modal untuk membiayai defisit neraca perdagangan. Padahal keduanya bukanlah solusi bagi defisit neraca perdagangan, baik sifat dan jangka waktunya. Ibarat ban bocor diatasi dengan menambah angin terus.

Oleh karena tantangannya adalah neraca perdagangan, maka solusinya bukanlah rekayasa produk-produk finansial yang hanya akan menyelesaikan masalah sementara dengan menimbulkan masalah baru. Krisis ekonomi dunia saat ini cukup menjadi pelajaran kita betapa dahsyatnya mudarat instrumen derivatif. Uang jadi komoditi, komoditi riil jadi komoditi berjangka, dan akhirnya uang jadi komoditi, komoditi jadi uang, piutang jadi uang, uang jadi piutang. Investasi jadi spekulasi, spekulasi dianggap investasi, keuntungan dianggap riba, riba jadi keuntungan.

Ekonomi sederhana saja sebenarnya. Uang adalah uang, barang adalah barang. Investasi adalah investasi, spekulasi adalah spekulasi. Yang halal telah jelas, yang haram pun jelas, yang di antaranya syubhat, dan tinggalkanlah yang syubhat. Setelah itu, hakuna matatata.

by Adiwarman A. Karim | Republika, 23 September 2013

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *