Fasten Seat Belt dan Imam Syafii

World Bank baru saja menerbitkan Global Economic Prospects tahun 2015. Setidaknya ada empat hal yang mendapat perhatian Bank Dunia. Pertama, pentingnya kebijakan fiskal untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.  Kedua, dampak dari turunnya harga minyak dunia dan bagaimana negara-negara berkembang dapat mengambil manfaat dari keadaan itu. Ketiga, dampak dari turunnya perdagangan global akibat belum pulihnya permintaan dari negara-negara maju. Keempat, pentingnya kiriman uang dari para pekerja di luar negeri ke negara asalnya pada saat lesunya penanaman modal asing.

World Economic Forum menerbitkan The Outlook on the Global Agenda 2015 yang memuat sepuluh persoalan ekonomi dunia. Pertama, semakin dalamnya kesenjangan antara kaya dan miskin. Kedua, kenaikan tingkat pengangguran. Ketiga, lemahnya kepemimpinan dunia. Keempat, meningkatnya persaingan kekuatan strategis dunia. Kelima, melemahnya demokrasi. Keenam, meningkatnya polusi di negara-negara berkembang. Ketujuh, meningkatnya bencana alam akibat cuaca ekstrim. Kedelapan, meningkatnya sentimen nasional dalam pengelolaan ekonomi. Kesembilan, meningkatnya kelangkaan air bersih. Kesepuluh, meningkatnya wabah penyakit dan dampak ekonominya.

IMF dalam laporan World Economic Outlook 2015 malah merangkum keadaan ekonomi dalam tiga kata yaitu warisan masalah (legacies), suram (clouds), dan ketidakpastian (uncertainties).  Indonesia masih beruntung ekonominya diproyeksikan tumbuh 5,5 persen tahun ini.  Pemerintah, BI, BPS dan beberapa pihak lain memperkirakan ekonomi Indonesia tumbuh 5,5 – 5,8 persen.

Berbagai analisis ekonomi tersebut membawa kita pada satu kesimpulan, Fasten Seat Belt. Ketika pesawat terbang memasuki area turbulensi atau cuaca yang kurang baik, maka pilot akan meminta penumpang mengenakan sabuk pengaman seraya menyalakan lampu tanda Fasten Seat Belt.

Beberapa saat kemudian seisi pesawat akan merasakan getaran bahkan guncangan. Kadang berlangsung sebentar, kadang berlangsung lama. Kadang terguncang hebat, kadang sekedar getaran kecil; yang pasti secara mental seisi pesawat telah bersiap menghadapinya.

Euphoria pemerintahan baru segera dihadapkan pada berbagai masalah bangsa yang tidak jauh berbeda dengan masalah global. Berbagai program besar pembangunan sebagaimana janji-janji kampanye dihadapkan pada berbagai masalah mendesak di depan mata. Ibarat berlari sambil memakai celana.

Program pembangunan MRT terasa kemajuannya, namun pada saat yang sama jalan utama kebanggaan masyarakat Jakarta terpaksa kehilangan keanggunannya. Boulevard indah itu kini sementara penuh kelokan, terasa turbulensi akibat perbedaan tinggi jalan, dan guncangan lubang-lubang yang menghiasinya. Seandainya pesawat terbang, pilot akan menyalakan lampu Fasten Seat Belt.

Robert Merton Solow, guru besar ekonomi MIT, mendapat hadiah Nobel Ekonomi tahun 1987 karena pemikirannya tentang pertumbuhan ekonomi. Model pertumbuhan ekonomi Solow berbeda dengan yang telah dikembangkan sebelumnya. Menurut Solow, new capital lebih baik daripada old capital karena new capital memiliki teknologi yang lebih maju.

Dalam penelitiannya Technical Change and the Aggregate Production Function, Solow membuktikan bahwa 80 persen kenaikan output tiap pekerja di AS diakibatkan adanya teknologi baru. Bagi Solow, penambahan modal penting, penambahan tenaga kerja juga penting, tapi yang lebih penting adalah peningkatan produktivitas melalui teknologi baru. Sehingga dengan jumlah modal yang sama, jumlah pekerja yang sama, dengan teknologi baru dapat menghasilkan output yang lebih besar.

Bagi Imam Syafii kedua hal di atas merupakan kecirian pemikiran fikihnya. Prinsip Fasten Seat Belt yang menunjukkan sikap kehati-hatian merupakan ciri khas pemikiran Imam Syafii yang disebut sikap ikhtiyat. Mirip dengan old capital dan new capital-nya Solow, Imam Syafii terkenal dengan Qaul Qadim (pendapat lama) dan Qaul Jadid (pendapat baru) nya.

Muhammad bin Idris asy-Syafii al-Muththalibi berguru selama 15 tahun pada Imam Malik di Madinah. Beliau juga belajar dari Imam Muhammad bin Hasan, murid Imam Abu Hanifah, di Baghdad. Di sana Imam Syafii menulis kitabnya, al-Hujjah sebagai kumpulan qaul qadim-nya kemudian ia berangkat ke Mesir dan mengarang kitabnya al-Umm sebagai kumpulan qaul jadid-nya.  Ini merupakan prinsip kebijakan dinamis.

Pengalaman beliau belajar dari banyak guru, menyebabkan Imam Syafii mengembangkan prinsip ikhtiyat. Dalam pengambilan hukum, Imam Syafii memprioritaskan pencarian dalil (nas) dari Quran dan hadis. Baru kemudian beliau mencari pendapat para sahabat, kemudian menggunakan logika analogi (qiyas), istishab dan terakhir adalah istiqro’.

Istishab adalah menetapkan berlakunya suatu ketetapan sampai ada alasan yang bisa mengubahnya. Pada periode awal perbankan syariah di Indonesia, dua produk kontroversial bai inah dan bai dayn pernah diperbolehkan karena hanya ada satu bank syariah kala itu. Kemudian dilarang ketika telah berdiri bank syariah lain di Indonesia.

Istiqro’ adalah metode induksi dalam pengambilan kesimpulan umum yang dihasilkan oleh fakta-fakta khusus.   Misalnya, Imam Syafii melakukan penelitian atas beberapa wanita di Mesir kemudian dari hasil penelitian itu beliau menetapkan hukum masa haid terpendek adalah sehari semalam, masa yang lazim enam atau tujuh hari atau tujuh malam, dan masa haid yang terpanjang adalah lima belas hari atau lima belas malam. Berdasarkan penelitian pula, DSN-MUI menetapkan transaksi Letter of Credit (L/C) Impor memiliki 7 pilihan akad, dan L/C Ekspor memiliki 5 pilihan akad, sesuai dengan jenis masing-masing L/C.

Perekonomian Indonesia memang akan penuh tantangan, namun Fasten Seat Belt memiliki makna pesawat akan terus terbang dengan hati-hati. Bagi industri keuangan syariah keadaan ini merupakan kesempatan menyusul di tikungan. Ketika keuangan konvensional hanya dapat tumbuh 15-17 persen, dengan kejelian strategi dan risk-based regulation, keuangan syariah dapat tumbuh 15 persen di kuartal pertama, 25 persen di kuartal kedua, dan 35 persen di kuartal ketiga dan keempat.

Kecilnya pangsa pasar keuangan syariah saat ini merupakan blessing in disguise, karena tidak termasuk Domestic Systematically Important Financial Institutions. Keterkaitan langsung keuangan syariah dengan pembiayaan sektor riil mengurangi sifat pertumbuhan bubble. Dua hal ini membuat keuangan syariah memiliki tingkat risiko yang lebih kecil sehingga otoritas keuangan mempunyai ruang untuk membuat regulasi yang mendorong keuangan syariah lebih kompetitif sesuai dengan kecilnya risiko tersebut. Capital charge, Alokasi Modal Inti, dan LTV yang lebih ringan merupakan contohnya.

Kenyataan masih kecilnya dan orientasi sektor riil keuangan syariah merupakan kondisi objektif. Prinsip kehati-hatian dan prinsip regulasi dinamis merupakan kondisi subjektif. Imam Syafii telah lama wafat, namun pemikirannya tetap hidup.