Kejujuran

Kejujuran

Ruth Greenwood dari Universitas Sidney Australia dalam artikelnya “When politics corrupts the fairness of elections” mengungkap fenomena ganjil dalam pilpres di AS tahun 2008 yang saat itu dilanda demam Obama mania. Akhir pekan menjelang hari pemilihan di kawasan pemukiman Black American di Virginia, banyak tersebar poster menyesatkan yang berbunyi “Pendukung Partai Republik memberikan suara pada hari Selasa, pendukung Partai Demokrat memberikan suara pda hari Rabu”.

Miles Parks dalam artikelnya “NPR/Marist Poll: 40 Percent Of Americans Think Elections Aren’t Fair” memotret rendahnya tingkat kepercayaan publik terhadap pelaksanaan pemilu.  Dalam hasil poll yang dilakukan 5-9 Septmeber 2018 itu ada tiga temuan yang menarik. Pertama, 40 persen berpendapat pemilu tidak berlangsung jujur. Kedua, 47 persen berpendapat tidak seluruh suara akan benar-benar dihitung. Ketiga, 60 persen berpendapat tabulasi penghitungan suara tidak benar.

Jessica Fortin-Rittberger, Philipp Harfst, Sarah Dinglera, para peneliti dari Universitas Salzburg Austria, dalam riset mereka ” The costs of electoral fraud: establishing the link between electoral integrity, winning an election, and satisfaction with democracy”, menyimpulkan tiga hal yang sangat fundamental dalam demokrasi yaitu tingkat kepuasan rakyat akan proses demokrasi.

Pertama, tingginya tingkat kecurangan dalam pemilu akan menimbulkan rendahnya tingkat kepuasan berdemokrasi.  Kedua, kemenangan paslon hanya akan bermakna bila pemilu berlangsung jujur.  Ketiga, kemenangan dan kekalahan dalam pemilu yang diwarnai kecurangan tidak akan berdampak apapun pada tingkat kepuasan berdemokrasi.

Kecurangan dan tindakan yang mengarah pada kecurangan merupakan hal yang akan mengurangi tingkat kepuasan berdemokrasi.  Kecurangan berarti pelanggaran atas ketentuan yang ada, sedangkan tindakan mengarah pada kecurangan meskipun belum melakukan pelanggaran namun menciptakan ketidakpercayaan sehingga tetap saja mengurangi tingkat kepuasan berdemokrasi.

Dalam ilmu akuntansi dikenal istilah Creative Accounting. Teknik pencatatan keuangan secara kreatif agar tampilan laporan keuangan tampak lebih menarik. Ada yang dilakukan dalam batas yang dibolehkan, juga banyak yang dilakukan sebagai bentuk ketidak jujuran pencatatan. Branka Remenarić, peneliti Zagreb School of Economics and Management Krosia, dalam artikelnya “Creative accounting – Motives, techniques and possibilities of prevention” menyebut creative accounting sebagai “is not illegal, but unethical”, karena walaupun tidak sampai melanggar standar akuntansi namun seringkali tidak menampilkan gambaran yang wajar dan objektif atas laporan keuangan.

Michael Jones, profesor Universitas Bristol Inggris, dalam artikelnya “Methods of Creative Accounting and Fraud” menjelaskan lima cara creative accounting yang merupakan “ruang penafsiran” atas Standar Akuntansi. Itu sebabnya praktek ini patut diduga mengarah pada ketidak jujuran. 

Hal yang terpenting dari Jones adalah walaupun belum sampai terjadi pelanggaran namun ia dapat menurunkan kepercayaan orang atas laporan keuangan.  Di sisi lain, karena tidak ada sanksi pelanggaran malah memotivasi untuk melakukan akuntansi kreatif berikutnya, sampai akhirnya ketahuan melanggar dan diminta untuk melakukan “restatement” atas laporan keuangan nya.

Dalam ilmu ekonomi dikenal konsep game theory. Permainan yang tidak jujur dapat menimbulkan keengganan dan sikap apatis dalam mengikuti permainan berikutnya.  Apa maknanya pemilu bila hasilnya tidak memberikan kepuasan berdemokrasi bagi para pemilih. Akhirnya dapat mendorong “melawan kotak kosong” atau rendahnya tingkat partisipasi pemilih.

Matthew Rabin, profesor Universitas Harvard, dalam risetnya “Incorporating Fairness Into Game Theory and Economics” memasukkan unsur kejujuran dalam preferensi masyarakat.  Menurut Rabin, kejujuran merupakan salah satu preferensi orang yang harus diperhitungkan.  Sehingga dalam model yang dikembangkan Rabin, tingkah laku ekonomi seseorang ditentukan oleh rasionalitas, kepentingannya sendiri, dan kejujuran.

Setiap orang ingin diperlakukan dengan jujur dan adil, oleh karenanya setiap orang harus berlaku jujur dan adil.  Pemikiran inilah yang akhirnya membawa Rabin mendapatkan penghargaan prestisius di bidang ekonomi, John Bates Clark Medal.

Rabin menjelaskan “Permainan Rebutan Barang”.  Katakanlah ada dua orang yang berbelanja, dan hanya tersisa dua kaleng makanan.  Katakan pula, dalam kompetisi itu terjadi perebutan (Strategi Rebut atau Direbut) yang melibatkan emosi bahkan ketidak jujuran, dan pada akhirnya masing-masing dapat satu kaleng. Setelah kompetisi yang menguras emosi itu, keduanya melakukan rekonsiliasi, sehingga keduanya merasa puas dan tercapai keseimbangan.  Dalam ilmu ekonomi disebut Nash Equilibrium. 

Rabin kemudian menjelaskan bahwa ada cara yang lebih baik dari sekedar Nash Equilibrium, yaitu keseimbangan Nash sekaligus keadaan Pareto Dominant. Hal ini dicapai dengan Strategi Saling Berbagi.  Selain pada akhirnya masing-masing mendapatkan satu kaleng (nash Equilibrium), juga hubungan emosional keduanya tidak dirusak oleh rasa saling curiga dan ketidak jujuran.  Dalam strategi saling berbagi, bahkan keduanya merasakan saling memahami, saling menghargai, saling berbagi kebaikan.  Dalam ilmu ekonomi keadaan ini disebut Pareto Dominant.

Teori Rabin ini dalam bahasa Jawa disebut Ngluruk tanpa bala, Sakti tanpa aji-aji, Menang tanpa ngasorake.  Apalagi bila keadaannya tidak ada pemenang yang dominan.  Angka 54:46 lebih dekat dikatakan “hampir 50:50” daripada dikatakan “kemenangan besar”.  Apalagi kalau hasil akhirnya malah 49,8:50,2 atau sebaliknya.  Keadaan ini lebih tepat disebut keadaan “Menang-Menang:, daripada keadaan “Menang-Kalah”.

Ingatlah ketika Rasulullah SAW bersama kaum muslimin masuk ke Mekah pada peristiwa Fathul Makkah.  Bayangkan seandainya saja kaum muslimin ketika itu menzalimi kaum kafir Mekah.  Niscaya kota Mekah yang direbut kaum muslimin akan meninggalkan luka kepedihan yang mendalam bagi orang-orang Mekah. Walaupun dilakukan rekonsiliasi, misalnya, dan mereka kemudian hidup damai berdampingan. Ini ibarat api dalam sekam yang pada saatnya dapat menuai balas dendam dari mereka yang terzalimi dan terlukai perasaannya. 

Sejarah mencatat Rasulullah SAW dengan hati yang jembar malah mengatakan, “siapa yang masuk ke Masjidil Haram akan aman, dan siapa yang masuk ke rumah Abu Sufyan akan aman”, padahal Abu Sufyan adalah pemimpin kaum kafir Mekah. Akhirnya Mekah jatuh ke tangan kaum muslimin tanpa meninggalkan luka kepedihan bagi orang-orang Mekah.  Inilah Pareto Dominant.

Yang curang, minta maaf dan dimaafkan. Yang dicurangi, diberikan haknya dan mengayomi. Demi kesucian bulan Ramadan, sungguh Allah Maha Pengatur dan sebaik-baiknya Pengatur, satukan kami dalam kasih sayang dan keadilanMU.

Adiwarman A. Karim

Kedaulatan Pemilu

Kedaulatan Pemilu

Daniel Corstange dan Nikolay Marinov, masing-masing profesor Universitas Columbia dan profesor Universitas Houston, dalam riset mereka “Taking Sides in Other People’s Elections: The Polarizing Effect of Foreign Intervention” membagi intervensi asing dalam suatu pemilu menjadi dua jenis.  Pertama, intervensi partisan yaitu kekuatan asing mendukung salah satu calon.  Kedua, intervensi proses yaitu kekuatan asing mendukung berlangsungnya pemilu yang demokratis tanpa mendukung salah satu calon.

Intervensi partisan sangat merugikan kedaulatan pemilu, sedangkan intervensi proses diperlukan bila tingkat kepercayaan terhadap penyelenggara pemilu dipertanyakan netralitasnya.

Dov Levin, profesor University of Hongkong, dalam risetnya “When the Great Power Gets a Vote: The Effects of Great Power Electoral Interventions on Election Results” menjelaskan adanya intervensi asing dalam berbagai pemilu di seantero dunia.  Dari 938 pemilu, 81 diantaranya diintervensi oleh AS dan 36 pemilu diintervensi oleh Rusia dalam kurun waktu tahun 1946-2000.

Enam puluh delapan persen intervensi itu dilakukan secara tertutup (covert),sedangkan sisanya dilakukan secara terang-terangan (overt).  Secara rata-rata pengaruh intervensi ini dapat menaikkan elektabilitas sebesar 3 persen.  Levin juga menemukan intervensi secara terbuka lebih efektif dibandingkan intervensi secara tertutup.

Dalam pemilu Jerman Barat tahun 1972, Uni Soviet mendukung calon petahana. Levin menghitung elektabilitas calon petahana tanpa intervensi 43,6 persen, sedangkan aktual elektabilitasnya 45,8 persen yang memberikan kemenangan.

Dalam pemilu  India tahun 1977, Uni Soviet mendukung calon petahana. Elektabilitas tanpa intervensi 32,2 persen, aktual elektabilitas nya 34,5 persen.  Meskipun menaikkan elektabilitas namun belum cukup untuk meraih kemenangan.

Dalam pemilu Israel tahun 1992, AS mendukung calon penantang. Elektabilitas calon petahana tanpa intervensi 30,3 persen, aktual elektabilitasnya hanya 24,9 persen.  Calon penantang yang didukung AS akhirnya menang.

Dalam pemilu di Yugoslavia / Serbia tahun 2000, AS mendukung calon penantang. Elektabilitas calon petahana tanpa intervensi 43,4 persen, aktual elektabilitasnya hanya 38,2 persen.  Calon penantang yang didukung AS akhirnya menang.

Jonathan Godinez, peneliti Universitas Western Governers, dalam risetnya “The Vested Interest Theory: Novel Methodology Examining US-Foreign Electoral Intervention” membagi motivasi intervensi asing dalam pemilu menjadi dua.  Pertama, intervensi bermotivasi kepentingan global yaitu untuk kepentingan dan kebaikan masyarakat dunia secara keseluruhan.  Kedua, intervensi bermotivasi kepentingan sendiri negara tertentu.

Salah satu intervensi asing dilakukan melalui instrumen ekonomi.  Di Indonesia, setiap tahun pilpres selalu didahului dengan masuknya dana asing secara sangat signifikan ke pasar modal Indonesia.  Transaksi modal dan finansial pada tahun 2008 yang defisit 1 milyar dolar AS mengalami kenaikan signifikan menjadi surplus 4,9 milyar dolar AS pada tahun pilpres 2009.

Pada tahun 2013 transaksi modal dan finansial surplus sekitar 15 milyar dolar AS, kemudian melonjak tinggi mencapai 44,9 milyar dolar AS pada tahun pilpres 2014.  Hal yang sama juga terjadi pada tahun pilpres 2019 ini. Selama kurun waktu Januari – September 2018 transaksi modal dan finansial hanya berada pada kisaran 10 milyar dolar AS, kemudian naik signifikan mencapai lebih dari 50 milyar dolar AS atau setara dengan 74,7 trilyun rupiah pada Maret 2019.  Bahkan pada satu bulan terjadi kenaikan signifikan dari 63 trilyun rupiah pada Februari menjadi 74,7 trilyun rupiah.

Lonjakan masuknya dana asing ini secara langsung menguatkan nilai tukar rupiah dan indeks harga saham. Di sisi lain, keluarnya dana asing ini akan langsung melemahkan rupiah dan indeks harga saham.  Disinilah celah yang berpotensi untuk masuknya intervensi asing.  Karena dampaknya langsung terhadap nilai tukar rupiah, maka masuk dan keluarnya dana asing dalam jumlah besar ini juga langsung berpengaruh terhadap indikator-indikator ekonomi makro.

Rasio utang korporasi yang memiliki utang dalam dolar AS dan pendapatan dalam rupiah tiba-tiba akan memburuk rating nya.  Demikian pula dengan rasio utang negara.  Dalam keuangan korporasi, dihitung terpisah rasio utang dalam mata uang lokal, dan rasio dalam mata uang asing untuk mengukur risiko nilai tukar mata uang, dan melakukan hedging atas risiko tersebut.

Dalam keuangan negara, dibedakan perhitungan internal debt yang berasal dari kreditur lokal dalam rupiah, dan external debt yang berasal dari kreditur asing dalam mata uang asing.  Itu sebabnya membandingkan rasio utang terhadap PDB antara Jepang dan Indonesia menjadi tidak relevan karena porsi external debt Indonesia jauh lebih besar daripada Jepang.

Indonesia pernah menggunakan ukuran Debt to Service Ratio (DSR) untuk mengukur batas tertinggi utang negara.  Rasio ini mengukur kemampuan suatu negara membayar utangnya yaitu jumlah utang luar negeri negara termasuk beban bunga dibagi dengan net export.  Karena utang asing dalam bentuk dolar AS dan net export juga dalam bentuk dolar AS, maka rasio ini dinilai tepat untuk negara yang external debt nya menggunakan mata uang yang berbeda dengan mata uang domestik nya.

Hal yang berbeda terjadi di negara-negara Uni Eropa yang seluruhnya menggunakan mata uang Euro.  Salah satu syarat bagi anggota Uni Eropa adalah rasio utang negara terhadap PDB tidak lebih dari 60 persen.  Karena semua negara Uni Eropa menggunakan mata uang Euro, maka rasio ini dinilai lebih cocok. Hal ini diatur dalam kesepakatan Maastricht Treaty.

Saat ini Indonesia mengganti DSR dan mengikuti ukuran yang digunakan Uni Eropa dalam membatasi utang negara yaitu rasio utang terhadap PDB tidak lebih dari 60 persen.  Angka inilah yang diatur dalam UU Keuangan Negara.  Padahal Utang Luar Negeri dalam bentuk dolar AS, sedangkan PDB saat ini masih didominasi konsumsi domestik dalam bentuk rupiah.

Kita bersyukur Laporan Perekonomian Indonesia yang dikeluarkan BI menunjukkan kuatnya perekonomian Indonesia.  Penjelasan Menteri Keuangan juga menambah keyakinan akan kuat dan sehatnya perekonomian Indonesia.  Menteri Koordinator Perekonomian juga meyakinkan bahwa krisis ekonomi yang terjadi di Turki dan Argentina tidak banyak berdampak pada perekonomian Indonesia.  Turki, Argentina, India, Afrika Selatan adalah negara The Fragile Five yang semuanya akan pemilu di tahun 2019. 

Kedaulatan ekonomi merupakan salah satu komponen penting dalam konsep ketahanan nasional, dan menjadi pilar yang kokoh untuk menjaga kedaulatan pemilu. Kemenangan sesungguhnya bangsa ini ketika kedaulatan pemilu ditegakkan.  Dalam bahasa Corstange dan Marinov, pemilu yang bebas dari segala intervensi partisan. Rasulullah SAW pernah bersabda, “Senantiasa di kalangan umatku ada golongan yang selalu menang, sehingga sampailah pada suatu waktu yang dikehendaki Allah. Mereka senantiasa menang.” Ya Allah jadikanlah bangsa ini bangsa yang menang yang selalu Engkau berkahi.        Adiwarman A, Karim

Credit Suisse dan JP Morgan

Credit Suisse dan JP Morgan

Dua bulan sebelum Pilpres dua lembaga investasi global mengeluarkan riset mereka tentang perekonomian Indonesia.  Credit Suisse melihat investasi portofolio di Indonesia telah jenuh dan melihat negara-negara Asia bagian Utara lebih menarik.  Sebaliknya, JP Morgan melihat Indonesia akan menjadi salah satu negara di emerging market dengan pertumbuhan dua digit.

Dalam ilmu ekonomi, data yang sama selalu dapat dilihat dari perspektif yang berbeda dan menghasilkan kesimpulan yang berbeda pula.  Membaca kesimpulan riset Credit Suisse dan JP Morgan, bagi para ekonom, tidak memberikan arti apa-apa.  Dua-duanya bisa benar, dua-duanya bisa keliru.

Bagi ekonom, yang jauh lebih berharga dari riset itu adalah memahami cara pikir, termasuk asumsi yang tak terucapkan, yang akhirnya melahirkan kesimpulan.  Ketika riset itu dikeluarkan menjelang Pilpres, maka mempercayai kesimpulan CS dan JPM begitu saja merupakan suatu kekeliruan.

Ekonom akan mencari benang merah perspektif yang dibangun dalam riset belasan halaman itu. Membaca line by line, dan yang lebih penting membaca between the lines, bagaimana kedua lembaga investasi asing itu menafsirkan data yang ada. 

Pertama, kita dapat membaca ekspektasi peneiliti atas hasil Pilpres.  Kedua, kita juga dapat membaca opini yang akan dibentuk berdasarkan ekspektasi tersebut.  Dengan memahami ini, maka tidak perlu ada pihak manapun yang tersinggung atau tersanjung atas kedua riset itu.  Apalagi sibuk membantahnya. Bahkan kita dapat melihatnya saling melengkapi dalam scenario planning.

Bila yang terjadi sejalan dengan skenario berpikir yang dibangun CS, maka kita telah siap dengan langkah antisipasinya.  Bila yang terjadi sejalan dengan skenario berpikir yang dibangun JPM, maka kita  pun telah siap mengantisipasinya.

Secara teoritis skenario berpikir lembaga investasi global ini dipengaruhi pula ekspektasi masing-masing terhadap perubahan geopolitik dunia.  Perubahan kepemimpinan di Malaysia sedikit banyak telah menggeser keseimbangan geopolitik di kawasan antara dua negara besar yang sedang berebut pengaruh, AS dan Cina.

Terkuaknya skandal 1MDB di Malaysia diperkirakan menjadi salah satu faktor perubahan kepemimpinan di negeri jiran itu.  Dalam konteks ini, menarik untuk mengamati bahwa whistle blower kasus ini adalah bankir asing dan melibatkan banyak lembaga keuangan asing. Bahkan otoritas keuangan negara lain melakukan investigasi untuk transaksi yang diduga terkait dengan kasus 1MDB di negara-negara itu.  Diantaranya adalah otoritas di AS, Singapura, dan Australia.   

Dalam setiap Pemilihan Umum dimanapun ada dua hukum asal.  Pertama, kedaulatan pemilih dalam suatu Pemilihan Umum sepenuhnya hak warga negara dan bebas dari intervensi asing apapun.  Kedua, Pemilihan Umum tidak dilakukan di ruang hampa. 

Paling tidak ada tiga hal yang harus diantisipasi.  Pertama, masuknya dana asing dalam jumlah yang besar beberapa bulan menjelang Pilpres.  Akibatnya volatilitas nilai tukar rupiah melebar dalam rentang 13.900 – 15.200 rupiah per dolar AS hanya dalam beberapa bulan saja. Secara finansial, melebarnya volatilitas diterjemahkan kedalam dua hal.  Pertama, jangka waktu termin pembayaran diperpendek agar selisih antara kurs saat transaksi dengan kurs saat pembayaran tidak berbeda jauh.  Kedua, harga dinaikkan untuk antisipasi perubahan kurs nilai tukar.

Sepintas terlihat rupiah menguat dan indeks harga saham mengalami tren naik. Kekeliruan dalam membaca fenomena ini adalah memandang penguatan rupiah sebagai hal yang baik.  Padahal yang penting adalah stabilitas rupiah.  Bila perubahan nilai tukar rupiah terjadi tanpa adanya perubahan indikator ekonomi makro, dan semata didorong oleh pergerakan investasi portofolio, maka dapat diduga kuat sedang terjadi proses destabilisasi. Ibarat surutnya permukaan air laut menjelang tsunami.

Hal kedua yang harus diantisipasi, kemungkinan keluarnya dana asing dalam jumlah besar beberapa saat menjelang Pilpres. Akibatnya nilai tukar rupiah akan melemah dan indeks harga saham melorot. Sovereign risk meningkat, rating negara diturunkan. Ekonomi porak poranda ibarat diterjang tsunami.   

Hal ketiga adalah peniup peluit palsu dan pembuat sensasi skandal.  Secara teoritis dilakukan hanya beberapa pekan sebelum hari pemilihan sehingga memberikan efek kejut yang besar dan waktu yang terlalu sempit untuk memperbaikinya.  Tujuannya menjatuhkan citra dan elektabilitas walaupun tidak terverifikasi. Efek kejut ini akan menjadi kerusakan permanen bila peniup peluit dan skandal nya asli. Dapat berupa harta, tahta, wanita, atau kombinasinya.

Dalam prakteknya perlu diwaspadai whistle blower dan pembuat sensasi skandal yang berada di luar jangkauan hukum Indonesia.  Perlu diwaspadai transaksi yang melibatkan pihak asing yang berpotensi menjadi whistle blower seperti dalam kasus 1MDB.

Dengan memahami tiga hal ini, maka setiap analisa dan riset tidak berada dalam ruang hampa. Para periset memiliki tujuan penulisan mempengaruhi pembacanya.  Warren Buffet, legenda pasar modal dunia, dalam pertemuan tahunan Berkshire di tahun 1994 mengatakan “jangan bertanya kepada tukang cukur apakah Anda perlu potong rambut”.  Dengan kata lain, jangan serahkan nasib Anda ditentukan oleh orang lain.

Menilik lebih teliti, dampak negatif akibat tiga hal ini harus ditanggung oleh seluruh bangsa, bukan hanya salah satu kontestan dan para pendukungnya. Kepentingan bangsa harus dimenangkan dibandingkan kepuasan sesaat memenangkan kontestasi. Ibarat memperebutkan ikan ketika air laut surut tanpa menyadari akan datangnya tsunami.

Kemampuan membaca perubahan geopolitik kawasan dan menyiapkan langkah antisipasinya menjadi syarat penting melengkapi kebaikan dan kesalihan pribadi. Kemampuan menggerakkan semua anak bangsa untuk bersama menghadapi dinamika geopolitik yang semakin cepat dan kompleks merupakan kunci keberhasilan bangsa ini.

Abu Dzar RA seorang sahabat besar yang terkenal salih, hidup sangat sederhana, dan berpengalaman bertahun-tahun berjuang bersama Rasulullah SAW.  Pernah beliau sekali menawarkan diri kepada Rasulullah SAW untuk menjadi pemimpin.  Bukan karena beliau menginginkan jabatan itu, namun semata ingin dapat lebih memberikan manfaat bagi masyarakat luas.

Sambil menepuk sayang pundak Abu Dzar, Rasulullah SAW bersabda “Wahai Abu Dzar, engkau adalah orang yang lemah dalam memimpin, padahal kekuasaan itu adalah amanah. Kekuasaan akan menjadi kehinaan dan penyesalan pada hari kiamat, kecuali bagi orang yang mendapatkan kekuasaan tersebut dengan haknya dan melaksanakan kewajibannya pada kekuasaannya itu.”  Ya allah lindungilah  bangsa ini, sungguh Engkau sebaik-baik pelindung. – Adiwarman A. Karim

Kyai Ma’ruf dan Sandi Uno

Kyai Ma’ruf dan Sandi Uno

Ada yang menarik dalam kontestasi politik kali ini.  Kedua cawapres adalah pegiat Masyarakat Ekonomi Syariah. Keduanya menawarkan konsep ekonomi baru untuk menjawab berbagai tantangan ekonomi yang semakin beragam.  Pemikiran kedua tokoh ekonomi syariah ini diharapkan dapat ikut mewarnai kebijakan pemerintah dalam periode 2019-2024.

Membangun Indonesia ibarat lari estafet.  Pemimpin silih berganti memberikan tongkat estafet dari generasi ke generasi berikutnya.  Kerja keras pemimpin sebelumnya, dengan segala kelebihan dan kekurangannya, menjadi amanah bagi penerusnya untuk melanjutkan yang baik dan menyempurnakan yang masih perlu disempurnakan.

Evaluasi kritis berbagai lembaga dalam dan luar negeri membantu kita memahami perspektif lain dari cara melihat keberhasilan, harapan perbaikan tanpa harus berkeluh kesah, dan menyiapkan langkah perbaikan dengan memberikan warna ekonomi syariah.

Seakan orkestra, beberapa kajian dan pemberitaan lembaga luar negeri memberikan evaluasi kritis terhadap kinerja ekonomi Indonesia.  Diawali dengan kajian Bank Dunia tentang “Infrastructure Sector Assesment Program” edisi Juni 2018 yang dirilis pada Januari 2019.  Yang masih ramai dibincangkan adalah artikel majalah The Economist yang berbasis di London berjudul “Indonesia’s economic growth is being held back by populism” tanggal 17 Januari 2019.

Tidak seluruhnya benar, tidak pula seluruhnya salah.  Data yang sama dapat dilihat dari perspektif yang berbeda.  CNBC Indonesia, misalnya, menurunkan tulisan “The Economist Kritik Jokowi, Seperti Apa Kondisi Sebenarnya?” tanggal 25 Januari 2019. Bahkan bantahan atas bantahan pun hanya memperjelas perbedaan cara pandang atas data yang sama. 

Disinilah peran penting kedua Cawapres untuk untuk memahami perbedaan cara pandang suatu masalah ekonomi.  Bukan dengan berpihak pada salah satu cara pandang, tapi menambahkan cara pandang lain yang lebih jernih, tajam, dan memberikan kemanfaatan terbesar bagi Indonesia.  Cara pandang ekonomi syariah.

Tidak banyak manfaatnya bila kedua Cawapres hanya mengikuti arus besar pemikiran ekonomi konvensional.  Tidak ada manfaatnya bila sekedar memberikan pembenaran atas konsep yang saat ini dianggap benar oleh arus utama pemikiran ekonomi.  Tidak pula sekedar menyalahkan konsep ekonomi tanpa memberikan solusi atas kekurangan yang ada.

Rakyat menaruh harapan besar kepada kedua Cawapres untuk membawa angin segar, pemikiran baru, memahami perasaan sebagian besar rakyat.  Perasaan galau yang belum tertata rapi, namun terasa menyesakkan. Perasaan yang berkecamuk namun masih kesulitan mendefisikan keinginan hati dalam bentuk rumusan yang mudah dimengerti. Kerisauan yang tak tersalurkan.

Ketika arus besar pemikiran ekonomi konvensional hampir-hampir tidak menyisakan ruang untuk konsep lain, Kyai Ma’ruf Amin bergerak lincah mewarnai regulasi dengan prinsip syariah, membangun komunikasi hangat dengan semua pihak, merangkul dan mengumpulkan semua potensi umat yang terserak.  Menawarkan konsep ekonomi syariah tanpa intimidasi, meninggikan syariah tanpa merendahkan, merangsek maju tanpa menepikan, menaikkan nilai tawar tanpa menjatuhkan.  Sosok ulama fikih yang lentur, teguh pendirian dengan akhlak seorang sufi.  Beliau adalah master mind dari semua gerakan ekonomi syariah di Indonesia.

Ketika kesenangan dunia melenakan, Sandi Uno memilih jalan terjal mendirikan beberapa unit usaha syariah tanpa banyak diketahui orang. Bertahun-tahun menjadi secret wishperer dalam gerakan Masyarakat Ekonomi Syariah, terasa tanpa harus terlihat, ibarat rasa manis gula dalam kopi. Selalu bekerja keras dalam melaksanakan komitmennya, bermain cantik dengan cara cerdas, dan pada akhirnya ikhlas berserah diri pada ketetapan Allah. Sosok pebisnis yang paham betul seluk beluk kerasnya kehidupan ekonomi, rindu akan nilai-nilai ekonomi syariah, dan bertekad keras mewujudkannya. Beliau adalah man of commitment.

Betapa indah melihat kedua Cawapres ini berinterkasi.  Kyai Ma’ruf terlihat berulang kali menepuk pundak Sandi Uno yang dengan santun berulang kali mencium tangan Kyai. Hubungan orang yang dimuliakan dengan yang memuliakan. Hubungan kasih sayang antara dua orang besar yang berasal dari latar belakang yang sangat berbeda, namun memiliki kesamaan dalam memperjuangkan aspirasi ekonomi syariah.

Optimisme dalam melihat kemajuan Indonesia menjadi negara besar, jelas bukan impian kosong belaka.  Dengan semua potensi yang dimiliki, kejayaan Indonesia merupakan suatu keniscayaan.  Kerisauan dalam melihat ancaman nyata terhadap kedaulatan Indonesia, jelas bukan imajinasi hampa.  Dengan semua kepentingan global atas posisi strategis Indonesia, perebutan pengaruh global juga merupakan suatu keniscayaan.

Rasulullah SAW pernah mengingatkan “Sungguh kalian akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta sampai jika orang-orang yang kalian ikuti itu masuk ke lubang yang sempit sekalipun, pasti kalian pun akan mengikutinya.”

Inilah harapan besar rakyat Indonesia pada kedua Cawapres untuk dapat tegak berdiri menjaga kedaulatan ekonomi Indonesia, tidak tergoda ditarik ke kiri ditarik ke kanan. Bergerak dinamis dalam kancah perebutan pengaruh kekuatan adi kuasa dunia.  Bagaikan ikan laut yang hidup di air asin, namun tak terasa asin karena terus bergerak sesuai misi yang diembannya.  Bukankah “fil harakah barakah”, dalam usaha itu terdapat berkah? Yang dinilai Allah adalah usaha keras kita mewujudkan keberhasilan,  “al akhdzu bil asbab”, keberhasilan memang harus diperjuangkan.

Bahkan harapan rakyat Indonesia jauh lebih besar lagi pada kedua Cawapres.  Bukan sekedar mejaga kedaulatan ekonomi Indonesia, bahkan diharapkan dapat menjadi inspirasi dunia, menjadi cahaya penerang dari kegalauan carut marut ekonomi global. Menjadi kebanggaan ummat Islam seluruh dunia, teladan dalam menegakkan kembali kejayaan ekonomi syariah yang pernah meguasai dunia selama 800 tahun dari Maroko hingga Merauke, dari Bukhara hingga  Bantul.  Bagaikan ragi yang hanya dua gram dapat melunakkan singkong dua puluh kilogram.

Arus besar pemikiran ekonomi selalu terbuka dengan gagasan baru yang membawa perbaikan.  Ini sebabnya ilmu ekonomi selalu terasa relevan dengan jaman karena kemampuannya merubah diri, memperbaiki yang salah, megubahnya menjadi lebih baik.  Bukan untuk sekedar memuaskan pembuktian bahwa yang ini salah dan yang itu benar, tapi untuk memahami cara pandang lain yang dapat memberikan kemanfaatan yang lebih besar. Dan inilah saatnya kedua Cawapres membawa gagasan besar ekonomi syariah ke kancah dunia. Rasulullah SAW mengingatkan “Islam muncul dalam keadaan asing dan akan kembali dalam keadaan asing, maka beruntunglah orang-orang yang asing”.  Insya Allah Indonesia bangsa yang beruntung itu.

Indonesia, Maafkan Kami

Indonesia, Maafkan Kami

Tahun 2018 ini ditutup dengan pergeseran pendulum ke arah ketidakpastian.  Pertama, ketegangan politik dan ekonomi AS dan Cina mulai terasa pada level akar rumput setelah ditahannya petinggi Huawei di Kanada atas permintaan AS.  Kedua, Brexit dan pergeseran politik di benua Eropa.  Ketiga, rencana penarikan pasukan AS dari Suriah dan ketegangan di Timur Tengah. Keempat, padatnya jadwal pemilu di negara-negara berkembang di tahun 2019 yang diwarnai oleh perebutan pengaruh mitra asing.

Lima negara dengan defisit transaksi berjalan terbesar, the Fragile Five, akan melakukan pemilu di tahun 2019. Pilkada Turki pada Maret, Pilpres Indonesia pada April, Pilpres India dan Afrika Selatan pada Mei, dan Pilpres Argentina pada Oktober.

Defisit transaksi berjalan yang besar dapat menjadi pintu masuk mitra asing untuk mempengaruhi jalannya pemilu melalui masuk dan keluarnya dana asing dalam jumlah besar.  Pergerakan dana asing ini menimbulkan ketidakstabilan mata uang negara-negara tersebut.

Bila calon petahana yang disukai mitra asing, dana akan masuk dan bertahan sampai pemilu selesai sehingga nilai tukar mata uang domestik menguat, dan baru keluar lagi perlahan setelah pemilu.  Terkesan ekonomi membaik sebagai keberhasilan kinerja petahana.

Bila sebaliknya, dana asing akan masuk sehingga mata uang domestik menguat, kemudian keluar serentak sebelum pemilu sehingga mata uang domestik terpuruk. Terkesan ekonomi memburuk sebagai kegagalan petahana.

Biasanya hot money ini masuk empat bulan sebelum pemilu, sehingga diperkirakan nilai tukar Lira Turki dan Rupiah akan menguat di akhir tahun 2018. Rupee India dan Rand Afrika Selatan akan menguat pada kuartal pertama 2019. Peso Argentina akan menguat pada kuartal ketiga 2019.  Dana itu akan keluar sesuai skenario, dan akan kembali stabil enam bulan setelah pemilu.

Langkah antisipasi telah dilakukan dengan memperkuat aliran dolar AS berjangka panjang.  Pemerintah menerbitkan serangkaian Surat Utang Negara dalam dolar AS sejumlah 3 milyar dolar AS. Ada yang tenor 5, 10 dan 30 tahun.

Sedangkan langkah antisipasi untuk menjaga kestabilan rupiah dilakukan oleh BI dengan berbagai instrumen moneter, termasuk memperkenalkan Domestic Non Deliverable Forward (DNDF) dan Sukuk BI.

Tahun 2018 juga ditutup dengan kepastian kelanjutan kerjasama dengan Freeport. Pertama, Pemerintah akan menerbitkan IUPK dengan masa operasi maksimal 2 kali10 tahun sampai tahun 2041 sehingga ada kepastian investasi.  Kedua, Freeport wajib membangun pabrik peleburan (smelter) tembaga berkapasitas 2 sampai 2,6 juta ton per tahun, ditargetkan selesai kurang dari 5 tahun.

Ketiga, pemerintah memberikan kepastian mengenai kewajiban perpajakan dan kewajiban bukan pajak baik di tingkat pusat dan daerah yang menjadi kewajiban Freeport.  Keempat, kepastian roadmap pengelolaan masalah lingkungan hidup yang terdampak operasi Freeport.

Untuk membeli saham Freeport, Inalum menerbitkan serangkaian obligasi senilai 4 milyar dolar AS dengan tenor 3, 5, 10 dan 30 tahun yang memiliki tingkat kupon berbeda.

Memiliki rating sama BBB- dari Fitch, misalnya untuk yang tenor 30 tahun global bond Inalum senilai 750 juta dolar AS membayar kupon 6,75%, sedangkan global bond Pertamina dalam jumlah dan tenor sama membayar 6,5%. SUN global bond dengan rating lebih baik yaitu BBB dari Fitch, senilai 1 juta dolar AS tenor 30 tahun membayar kupon 5,35%.

Berbagai langkah antisipasi telah dilakukan pada akhir tahun 2018 dengan harga dan upaya yang sungguh-sungguh.  Namun jumlah itu masih jauh lebih kecil dibandingkan dengan hot money yang di tahun pilpres 2014 mencapai hampir 45 milyar dolar AS. Separuh dana ini kemudian keluar pada tahun 2015. Bila tahun 2019 ini transaksi valas di pasar modal mencapai 50 milyar dolar AS berarti hampir setara dengan separuh cadangan devisa Indonesia.

Rangkaian bencana alam dan pergeseran peta kekuatan dunia seakan mengirim pesan penting kepada bangsa Indonesia untuk bersatu bahu membahu menghadapi nya. Ibarat satu bangunan yang saling mengokohkan. Ibarat satu tubuh yang tidak ingin saling menyakiti perasaan bagian tubuh yang lain. Bila perasaan kolektif sebagian anak bangsa tersakiti, maka sulit mengharapkan sikap kolektif bangsa untuk menghadapi tantangan bencana alam dan tekanan eksternal.

Rasulullah SAW pernah mengingatkan “Banyak kaum sebelum kalian yang hancur karena menegakkan hukum dengan keras bila pelakunya dari kalangan orang lemah.  Namun bila pelakunya dari kalangan orang terhormat, hukum yang sama tidak mereka laksanakan”.  Tidakkah kita takut akan doa orang yang terzalimi, apalagi doa koletktif orang-orang yang terzalimi. Wahai Indonesia tercinta, maafkan kami.

Adiwarman A. Karim

Outlook Perbankan Syariah 2019

Outlook Perbankan Syariah 2019

Outlook perbankan syariah tahun depan akan diwarnai dengan perubahan-perubahan untuk memitigasi keadaan perekonomian domestik yang terimbas dari perubahan ekonomi politik global.  Pertama, tenor jangka waktu pembiayaan akan lebih panjang agar beban cicilan nasabah tetap, namun imbal hasil bank lebih tinggi.  Kedua, akad ijarah dan ijarah mumtahiya bit tamlik yang memberikan fleksibilitas imbal hasil akan lebih diminati daripada murabahah.  Ketiga, pembiayaan konsumer beragun rumah tinggal akan lebih diminati bank karena bobot risiko yang lebih rendah sehingga dapat menghemat penggunaan modal.  Keempat, bagi hasil dana akan meningkat untuk mencegah larinya nasabah dana ke bank lain.

Selanjutnya outlook tahun depan , dibagi menjadi outlook semester pertama dan outlook semester kedua.  Semester pertama merupakan periode krusial karena dua hal.  Pertama, secara eksternal merupakan puncak terjadinya tekanan eksternal.  Kedua, secara internal merupakan awal perubahan kebijakan bisnis, organisasi dan tata kelola.

Sedangkan semester kedua merupakan hasil dari penyesuaian yang dilakukan pada semester pertama.  Bila strategi di semester pertama berhasil membawa bank melewati bottle neck, maka semester kedua bank akan memasuki periode pertumbuhan yang kuat dan sehat.  Bila sebaliknya, maka bank akan terbebani oleh tiga hal.  Pertama, pembiayaan bermasalah meningkat.  Kedua, rasio biaya operasional meningkat.  Ketiga, likuiditas semakin tertekan.

Tekanan eksternal tahun depan dapat diidentifikasi menjadi tiga hal.  Pertama, kebijakan moneter yang lebih ketat.  Tren pelemahan rupiah, kenaikan harga minyak, kenaikan tingkat bunga AS, yang ketiganya akan terefleksi pada kenaikan tingkat bunga acuan BI.

Kedua, tekanan ganda pada deficit neraca berjalan dan pada potensi net selling asing di pasar modal.  Dari dua hal ini yang dikawatirkan adalah faktor yang kedua.  Data statistik menunjukkan bahwa dalam dua periode tahun pelaksanaan pilpres yaitu tahun 2009 dan 2014 terjadi kenaikan transaksi finansial yang sangat signifikan yang berasal dari kenaikan pada investasi portofolio.  Kenaikan lima kali lipat pada tahun 2009, dan dua kali lipat lebih pada tahun 2014.  Dilihat dari penyumbang deficit pendapatan primer tahun 2018, 55% berasal dari pendapatan investasi portofolio, 34% dari pendapatan investasi langsung, 11% dari pendapatan lainnya.

Ketiga, likuiditas tertekan dan pertumbuhan kredit melambat.  Pertumbuhan dana di tahun 2018 lebih kecil daripada tahun 2017. Penurunan terbesar terjadi pada pertumbuhan deposito yang turun dari 10,8% pada Agustus 2017 menjadi 3,4% pada Agustus 2018.  Padahal pertumbuhan kredit naik signifikan pada periode yang sama dari 8,14% ke 12,7%.  Pengetatan likuiditas ini dan melambatnya pertumbuhan kredit akan berpotensi mendorong kenaikan kredit bermasalah.  Rasio NPL tahun 2017 sebesar 2,59% naik menjadi 2,74% pada September 2018.  Padahal, kenaikan NPL ini terjadi pada saat adanya kenaikan pertumbuhan kredit yang signifikan.  Padahal pula pada empat sektor penyumbang NPL terbesar telah mengalami perbaikan per Agustus 2017 ke Agustus 2018. NPL perdagangan besar dan eceran dari 4,42 ke 4,12%, industri pengolahan dari 3,7 ke 3,02%, properti 3,19 ke 2,51% , dan pertanian dari 1,92 ke 1,54%.

Artinya pertumbuhan NPL lebih cepat daripada pertumbuhan kredit, dan perbaikan NPL di empat sektor itu dibarengi dengan pemburukan NPL yang lebih besar di sektor lain.

Bagi perbankan syariah, tekanan eksternal yang pertama dan ketiga membawa implikasi perlunya penyesuaian kebijakan bisnis.  Kenaikan bunga BI yang berarti kenaikan bunga produk dana perbankan konvensional.  Implikasinya, perbankan syariah akan menaikkan imbal bagi hasil produk dana agar tidak terjadi perpindahan dana dari bank syariah ke bank lain.  Kenaikan ekspektasi bagi hasil yang lebih tinggi ini mendorong bank syariah untuk menaikkan imbal hasil pada produk pembiayaannya.

Menaikkan imbal hasil pembiayaan berpotensi meningkatkan pembiayaan bermasalah di bank syariah karena kapasitas nasabah membayar cicilan stagnan akibat melemahnya pertumbuhan ekonomi nasional.

Salah satu solusinya, bank syariah akan menaikkan imbal hasil pembiayaan sekaligus memperpanjang jangka waktunya sehingga besar cicilan nasabah tetap sama.  Nasabah tidak ada tambahan beban cicilan bulanan, bank mendapat imbal hasil yang lebih tinggi sehingga dapat membayar bagi hasil dana yang kompetitif dibandingkan bank konvensional.

Implikasi makin panjangnya jangka waktu pembiayaan adalah perubahan penggunaan akad murabahah menjadi akad ijarah atau akad lainnya yang memiliki fleksibilitas imbal hasil.  Tekanan eksternal pertama, dan terutama tekanan eksternal kedua, menyebabkan meningkatnya ketidakpastian ekonomi yang terefleksi pada kenaikan bunga BI dan fluktuasi rupiah.  Bagi perbankan syariah, keadaan turbulensi ini harus diantisipasi dengan pengggunaan akad yang juga fleksibel.

Akibatnya, diprediksi pada tahun 2019 pembiayaan murabahah kurang diminati dibandingkan dengan ijarah dan lainnya.  Perkecualian akan terjadi pada segmen mikro dimana akad murabahah diprediksi akan tetap dominan karena kekhususan yang diberikan oleh Fatwa tentang penggunaan akan murabahah pada pembiayaan ultra mikro.

Potensi kenaikan pembiayaan bermasalah selanjutnya berpotensi meningkatkan pencadangannya yang berimplikasi pada tergerusnya modal bank.  Potensi turunnya kecukupan modal bank yang dibarengi ketatnya likuiditas, mendorong bank untuk memilih pembiayaan dengan aset tertimbang menurut risiko (ATMR)  yang lebih kecil.

Pembiayaan UMKM yang ATMR nya 75%, misalnya, dibandingkan dengan pembiayaan consumer beragunan rumah tinggal yang ATMR nya 35% tentu akan menjadi pertimbangan penting bank dalam memilih target pasar di tahun 2019.  Nasabah perorangan UMKM yang memerlukan modal kerja dan memberikan rumah tinggalnya sebagai agunan, akan ditawari untuk mengambil pembiayaan consumer dengan agunan yang sama.  Hal ini lebih menarik bagi bank karena lebih hemat penggunaan kecukupan modal bank nya.  Dengan alasan ini pula, pembiayaan bagi untung yang ATMR nya 100% bahkan ada yang 300% dan 400% diprediksi akan dihindari oleh bank.

Perubahan strategi perbankan ini akan diikuti beberapa perubahan yang merupakan turunannya.  Pertama, perkembangan fintek menambah tekanan bagi bank untuk melakukan efisiensi biaya. Kedua, penurunan pertumbuhan deposito yang signifikan di industri perbankan secara keseluruhan juga menambah pekerjaan rumah perbankan syariah. Ketiga, dampak kinerja multi finance yang menurun mendorong perbankan syariah mencari kanal-kanal baru.

Kepemimpinan otoritas dalam memberikan arahan kebijakan dan kepemimpinan internal perbankan syariah dalam melalui tahun 2019 menjadi sangat penting.  Rasulullah SAW mengingatkan “setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertang jawabannya”.  Adiwarman A. Karim

Imam Ghazali dan Richard Thaler

Imam Ghazali dan Richard Thaler

Ada kemiripan antara teori yang dibangun oleh Imam Ghazali dengan teori yang dibangun oleh Richard Thaler, pemenang Nobel Ekonomi tahun 2017.  Keduanya menggunakan pendekatan sentuhan jiwa dalam membentuk perilaku manusia.

Thaler, guru besar Universitas Chicago, bersama Cass Sustein, guru besar Universitas Harvard, menulis buku Nudge: Improving Decisions about Health, Wealth and Happiness.  Dalam teori Nudge (sentuhan kecil) yang dikembangkan Thaler, pada dasarnya manusia tidak selalu bertindak secara rasional.  Bahkan sebenarnya manusia cenderung untuk bertindak tidak-rasional dengan pola yang dapat diprediksi.

Karena kesalahan manusia dapat diprediksi, maka manusia dapat diarahkan untuk membuat pilihan yang lebih baik.  Bila manusia diberikan pilihan-pilihan yang baik dan diberikan sedikit sentuhan kecil maka ia akan melakukan perilaku baik.

Thaler menyimpulkan dalam bahasa yang mudah, “bila anda ingin seseorang melakukan sesuatu, maka mudahkanlah ia untuk melakukannya, make it easy”.   Dengan pendekatan inilah, Thaler mengubah perilaku orang yang suka merokok beralih menjadi suka vape.  Ternyata pendekatan sentuhan kecil ini jauh lebih efektif daripada pendekatan larangan merokok dengan ancaman kesehatan.  Orang dimudahkan untuk meninggalkan rokok dengan memberikan pilihan lain.

Manusia cenderung melihat suatu larangan sebagai suatu tantangan untuk dilanggar.  Makin ditakut-takuti, makin besar tantangan untuk melanggarnya.  Sebaliknya, manusia akan dengan mudah melakukan pilihan yang lebih baik bila ia dimudahkan untuk melakukan kebaikan itu.

Dalam bahasa Thaler, “menempatkan buah-buahan di tempat yang mudah dilihat dan dijangkau merupakan sentuhan kecil yang efektif untuk makan sehat.  Bukan sekedar melarang makanan yang tidak sehat”.

Di urinal Terminal 3 Ultimate Bandara Soekarno Hatta, pemasangan gambar lalat di dalam urinal merupakan contoh lain penerapan teori Thaler, sehingga orang cenderung buang air kecil dengan mengarahkan urin nya ke gambar lalat tersebut.

Contoh lainnya di Inggris, setiap karyawaan secara otomatis ikut kepesertaan Dana Pensiun kecuali yang menolak.  Di Spanyol, otomatis bersedia mendonorkan organnya bila diperlukan ketika wafat kecuali yang menolak.  Keduanya terbukti efektif.

Perilaku manusia yang tidak selalu bertindak rasional disebabkan oleh tiga hal.  Pertama, limited rationality yang didasari oleh theory of mental accounting.  Terbatasnya pengetahuan dalam mengambil suatu keputusan menyebabkan manusia hanya memperhitungkan dampak langsung, jangka pendek, dan terbatas.  Dalam bahasa Imam Ghazali di kitabnya Mizanul Amal, inilah yang akan terjadi bila manusia belum dapat memahami hikmah.

Kedua, social preferences (selera lingkungan) akan mempengaruhi selera individu di dalamnya.  Sangat wajar orang Minang suka nasi padang meskipun secara individual ia sebaiknya menghindari makanan berkolesterol tinggi.  Thaler mengaitkan ini dengan konsep keadilan (fairness) kepada lingkungan dan kepada diri sendiri.  Dalam bahasa Imam Ghazali di Mizanul Amal inilah pentingnya bersikap adil pada semua hal.

Ketiga, lack of self control yaitu kesulitan mengontrol diri antara kesenangan sesaat dengan manfaat jangka panjang.  Sensasi kesenangan sesaat seringkali mengalahkan keputusan rasional yang jelas manfaat nya dalam jangka panjang. Dalam bahasa Imam Ghazali di Mizanul Amal inilah pentingnya keberanian (syaja’ah) dan sikap sederhana (iffah) dalam setiap pilihan sikap.

Richard Thaler terpilih menjadi pemenang Nobel Ekonomi tahun 2017 karena kontribusi pemikirannya yang sangat aplikatif dalam mengubah perilaku orang secara efektif.  Sampul bukunya memberikan ilustrasi bagaimana induk gajah memberikan sentuhan kecil dengan belalainya mengarahkan gajah kecil berperilaku yang diinginkan sang induk.  Bukan dengan sekedar melarangnya, tapi dengan memudahkan gajah kecil itu melakukan sesuatu yang diinginkan si induk.

Perspektif yang dibangun Thaler ini mirip dengan karya-karya besar Imam Ghazali yang telah ditulis ratusan tahun yang lalu.  Bagi Imam Ghazali, yang baik telah jelas yang buruk pun telah jelas.  Walaupun manusia tahu mana yang baik mana yang buruk, seringkali orang tetap melakukan yang buruk.

Pendekatan Imam Ghazali dalam banyak karyanya bukan menekankan aspek halal-haram, namun menekankan pada memudahkan dan menggembirakan orang berbuat kebaikan.  Dalam kitab Mukasayafatul Qulub, Imam Ghazali menggambarkan betapa mudah dan bahagia nya menjalani hidup bila dekat dengan Sang Pencipta, lebur dalam Kasih Yang Maha Pengasih.  Dalam kitab Kimiya Sa’adat, Imam Ghazali menjelaskan inilah manusia yang ibarat telah melalui proses kimia dari logam biasa menjadi logam mulia.

Semangat memudahkan dan menggembirakan orang berbuat kebaikan sangat terasa dengan banyaknya hadits fadhail amal di kitab fenomenal beliau Ihya Ulumuddin.  Dalam bahasa Thaler, “mudahkan orang untuk melakukan kebaikan maka ia akan melakukannya, kecuali orang itu memiliki alasan yang sangat kuat untuk tidak melakukannya”.

Pendekatan nudge (sentuhan kecil) dengan memudahkan dan menggembirakan orang untuk memilih syariah, memilih ekonomi keuangan syariah merupakan suatu keniscayaan yang efektif.  Pendekatan lama biasanya kombinasi dari dua ekstrim.  Pertama, pendekatan yang hanya menekankan dikotomi halal dan haram.  Kedua, pendekatan yang menekankan perlunya melindungi industri keuangan syariah dengan alasan industri yang baru tumbuh (infant industry).

Pendekatan pertama tidak efektif karena tidak memberikan solusi.  Kesadaran masyarakat meningkat untuk meninggalkan yang haram, namun tidak dimudahkan mencari yang halal.  Pendekatan kedua bukan saja tidak efektif tapi juga melemahkan industri keuangan syariah dalam jangka panjang.  Masyarakat dan industri berkembang tanpa menyadari bahwa perkembangan itu sifatnya semu.

Saat ini ada banyak Unit Usaha Syariah dengan aset yang masih relatif kecil untuk di spin off.  Ada dua pilihan.  Pertama, otoritas menunggu rencana masing-masing bank tentang UUS nya.  Kedua, otoritas menyiapkan regulasi otomatis konversi menjadi Bank Umum Syariah kecuali yang menolak.  Merujuk teori Thaler pilihan kedua lebih efektif dengan membuat prosesnya jelas dan mudah.

Saat ini ada banyak program pemerintah untuk pembiayaan infrastruktur dan program keuangan mikro.  Pilihan pertama, otoritas menunggu kesiapan lembaga keuangan syariah.  Pilihan kedua, lembaga keuangan syariah otomatis ikut serta kecuali yang tidak siap.  Merujuk Thaler pilihan kedua lebih efektif.

Bila layanan lembaga keuangan syariah sama mudahnya diakses, apalagi bila lebih mudah, keuangan syariah akan menjadi pilihan utama kecuali mereka yang punya alasan kuat menolaknya.

Bukankah Rasulullah saw telah mengingatkan kita “yassiru wala tu’assiru wabassyiru wala tunafiru, mudahkan jangan dipersulit, gembirakan jangan menakuti sehingga mereka lari”.

Adiwarman A. Karim

Bank Muamalat

Bank Muamalat

Rencana masuknya strategic investor ke Bank Muamalat merupakan awal kebangkitan industri perbankan syariah Indonesia.  Dengan demikian, diperkirakan pada tahun 2018 akan ada tiga Bank Umum Syariah yang menjadi Bank BUKU 3 menyusul Bank Syariah Mandiri.  Wajah perbankan syariah diperkirakan akan diwarnai oleh empat segmen pasar. Pertama, segmen korporasi melalui pembiayaan proyek infrastruktur pemerintah yang diperkirakan akan mencapai 30 persen dari portofolio perbankan syariah.  Segmen ini menjadi mesin utama pertumbuhan aset dengan risiko relative rendah.  Kedua, segmen consumer melalui pembiayaan rumah dan sebagian kendaraan bermotor yang diperkirakan akan mencapai 30 persen pangsa pasar juga.  Segmen ini diwarnai dengan produk baru yaitu sekuritisasi aset, sehingga selain bertumbuh cepat dengan risiko yang relatif terkendali juga memberikan likuiditas baru kedalam industri perbankan syariah.

Ketiga, segmen ukm yang diperkirakan mencapai 20 persen dengan marjin keuntungan dan risiko yang relatif sedang.  Keempat, segmen mikro yang diperkirakan mencapai 20 persen dengan marjin keuntungan yang tinggi dan risiko yang beragam dari rendah sampai tinggi.

Dari pergerakan itu, Bank Muamalat menjadi kunci perubahan karena posisinya sebagai bank syariah terbesar kedua sangat menentukan baik buruknya kinerja industri perbankan syariah.  Dengan asumsi kinerja Bank Syariah Mandiri sebagai bank syariah terbesar tetap berkembang stabil, maka perubahan di Bank Muamalat menjadi lokomotif perubahan terutama masuknya ke segmen pembiayaan proyek infrastruktur pemerintah.

Kebutuhan tambahan modal dan / atau dana Bank Muamalat dapat dihitung dengan tiga skenario.  Skenario pertama, dengan memperhitungkan jumlah pembiayaan dalam perhatian khusus, kurang lancar, diragukan, dan macet berdasarkan laporan keuangan Juni 2017, maka diperlukan tambahan modal sekitar 11 trilyun rupiah.  Bila menggunakan data Desember 2016 diperlukan tambahan modal 8 trilyun rupiah.

Skenario kedua, dengan memperhitungkan jumlah pembiayaan kurang lancar, diragukan, dan macet berdasarkan laporan keuangan Juni 2017, dan secara konservatif mengalikan dua.  Pengalian dua ini dilakukan untuk satu bagian mencukupi jumlah pembiayan bermasalah tersebut, dan satu bagian lagi untuk menggantikannya.  Dengan metode ini kebutuhan tambahan modal mencapai 4,88 trilyun rupiah, yang dengan asumsi tingkat pemulihan mencapai 20 persen dari yang bermasalah, maka kebutuhan tambahan modal mencapai 4 trilyun rupiah.  Bila strategic investor baru menyetorkan 4,5 trilyun tentu akan lebih baik karena memberikan sedikit buffer.

Skenarion ketiga, dengan memperhitungkan jumlah pembiayaan dalam perhatian khusus, kurang lancar, diragukan, dan macet dan secara konservatif mengalikan dua.  Selanjutnya ditambahkan kebutuhan al Ijarah, anak perusahaan Bank Muamalat, dan  dengan asumsi tingkat pemulihan 10 persen, maka kebutuhan tambahan modal mencapai 20 trilyun.

Skenario katiga merupakan skenario yang dapat membawa Bank Muamalat tumbuh kuat, sehat, dan stabil pada tahun 2018.  Namun bila skenario ini yang digunakan maka pemegang saham eksisting akan terdilusi sampai pada level terendah menjadi pemegang saham non-pengendali.  Oleh karena itu, skenario gabungan antara skenario satu dan tiga menjadi pilihan baru.

Tambahan modal sebesar 4,5 trilyun atau setara 51 persen dari total modal, dan tambahan bisnis baru sebesar 20 trilyun untuk menjamin tercapainya kondisi yang kuat, sehat, dan stabil.  Tanpa tambahan bisnis baru sekitar 20 trilyun ini, maka tambahan modal 4,5 trilyun tidak akan membawa kondisi sehat, kuat, stabil yang berkelanjutan.

Bagaimana cara menambah bisnis 20 trilyun dalam waktu satu tahun merupakan kunci keberhasilan.  Diperlukan segmen yang mempunyai karakter pertumbuhan yang cepat dengan risiko yang relatif rendah.  Pilihan yang sesuai dengan karakter ini adalah segmen pembiayaan proyek infrastruktur pemerintah.

Setiap proyek infrastruktur memerlukan dua jenis pembiayaan yaitu credit financing dan equity financing.  Jenis credit financing biasanya merupakan segmen yang digarap bank-bank besar yaitu bank konvensional kelas atas.  Sedangkan jenis equity financing tidak dapat dilakukan oleh bank-bank konvensional.

Berdasarkan regulasi yang ada, jenis pembiayaan equity financing dapat dilakukan oleh bank-bank syariah dan perusahaan Sarana Multi Infrastruktur.  Inilah celah yang dapat dimanfaatkan oleh bank syariah.  Berbeda dengan praktek yang lazim di tahun 90an, saat ini instrument pembiayaan equity financing dapat dibedakan menjadi corporate equity financing dan project equity financing.  Yang corporate equity financing menyandang status junior obligor, sedangkan yang project equity financing dapat menyandang status senior obligor.

Dengan strategi ini Bank Muamalat dapat bertumbuh cepat dengan risiko rendah.  Strategi ini haru dilengkapi dengan strategi pembiayaan konsumer dengan sekuritisasi aset pembiayaan perumahan, yang juga merupakan program pemerintah dalam pengadaan sejuta rumah.  Strategi ini memberikan platform lain untuk mencapai pertumbuhan tinggi dengan risiko yang relative terkendali, dan yang paling penting adalah memberikan tambahan likuiditas.

Strategi lainnya adalah mengelola portofolio UKM yang selama ini menjadi tulang punggung Bank Muamalat.  Walaupun strategi tidak memberikan tingkat pertumbuhan yang tinggi dan risiko yang relatif sedang, tetap penting dipertahankan agar tidak terjadi kekosongan pasar yang dapat menegasikan keberhasilan di segmen lain.

Segmen mikro merupakan segmen yang dapat diharaokan menghasilkan profit marjin yang tinggi dengan risiko yang beragam dari rendah sampai tinggi.  Keragaman risiko ini merupakan tantangan pemilihan model bisnis dan sub-segmen yang tepat.  Bank BTPN Syariah yang juga bermain di segmen ini memiliki rasio laba terhadap rata-rata aset (ROA) 7,6% di tahun 2016, mirip dengan ROA Bank BRI segmen mikro yang 7,3%.  Berbeda dengan kinerja Bank BNI segmen mikro dan UKM yang RO Anya 3,3%, atau dengan Bank BTPN Konvensional yang 3,1%.  Juga berbeda dengan Bank Index yang 2,4% atau Bank Bukopin yang 1,6%.  Jelas bank-bank ini menggarap sub-segmen yang berbeda.

Ini juga terlihat dari rasio biaya operasi terhadap rata-rata pembiayaan (Opex) mereka.  Bank BTPN Syariah memiliki rasio 25,5%, BTPN Konvensional 9,8%, BRI segmen mikro hanya 7,4%, Bank Bukopin hanya 4,3%, Bank Index hanya 3,5%, BNI segmen mikro UKM bahkan hanya 1,9%.  Kejelian memilih sub-segmen mikro ini menentukan keberhasilan Bank Muamalat.

Dukungan strategic investor, masyarakat luas, dan semua stakeholders akan membawa kebangkitan Bank Muamalat dan industri perbankan syariah.  Bismillahi majreha wa mursaha.

Adiwarman Karim