Indonesia, Maafkan Kami

Indonesia, Maafkan Kami

Tahun 2018 ini ditutup dengan pergeseran pendulum ke arah ketidakpastian.  Pertama, ketegangan politik dan ekonomi AS dan Cina mulai terasa pada level akar rumput setelah ditahannya petinggi Huawei di Kanada atas permintaan AS.  Kedua, Brexit dan pergeseran politik di benua Eropa.  Ketiga, rencana penarikan pasukan AS dari Suriah dan ketegangan di Timur Tengah. Keempat, padatnya jadwal pemilu di negara-negara berkembang di tahun 2019 yang diwarnai oleh perebutan pengaruh mitra asing.

Lima negara dengan defisit transaksi berjalan terbesar, the Fragile Five, akan melakukan pemilu di tahun 2019. Pilkada Turki pada Maret, Pilpres Indonesia pada April, Pilpres India dan Afrika Selatan pada Mei, dan Pilpres Argentina pada Oktober.

Defisit transaksi berjalan yang besar dapat menjadi pintu masuk mitra asing untuk mempengaruhi jalannya pemilu melalui masuk dan keluarnya dana asing dalam jumlah besar.  Pergerakan dana asing ini menimbulkan ketidakstabilan mata uang negara-negara tersebut.

Bila calon petahana yang disukai mitra asing, dana akan masuk dan bertahan sampai pemilu selesai sehingga nilai tukar mata uang domestik menguat, dan baru keluar lagi perlahan setelah pemilu.  Terkesan ekonomi membaik sebagai keberhasilan kinerja petahana.

Bila sebaliknya, dana asing akan masuk sehingga mata uang domestik menguat, kemudian keluar serentak sebelum pemilu sehingga mata uang domestik terpuruk. Terkesan ekonomi memburuk sebagai kegagalan petahana.

Biasanya hot money ini masuk empat bulan sebelum pemilu, sehingga diperkirakan nilai tukar Lira Turki dan Rupiah akan menguat di akhir tahun 2018. Rupee India dan Rand Afrika Selatan akan menguat pada kuartal pertama 2019. Peso Argentina akan menguat pada kuartal ketiga 2019.  Dana itu akan keluar sesuai skenario, dan akan kembali stabil enam bulan setelah pemilu.

Langkah antisipasi telah dilakukan dengan memperkuat aliran dolar AS berjangka panjang.  Pemerintah menerbitkan serangkaian Surat Utang Negara dalam dolar AS sejumlah 3 milyar dolar AS. Ada yang tenor 5, 10 dan 30 tahun.

Sedangkan langkah antisipasi untuk menjaga kestabilan rupiah dilakukan oleh BI dengan berbagai instrumen moneter, termasuk memperkenalkan Domestic Non Deliverable Forward (DNDF) dan Sukuk BI.

Tahun 2018 juga ditutup dengan kepastian kelanjutan kerjasama dengan Freeport. Pertama, Pemerintah akan menerbitkan IUPK dengan masa operasi maksimal 2 kali10 tahun sampai tahun 2041 sehingga ada kepastian investasi.  Kedua, Freeport wajib membangun pabrik peleburan (smelter) tembaga berkapasitas 2 sampai 2,6 juta ton per tahun, ditargetkan selesai kurang dari 5 tahun.

Ketiga, pemerintah memberikan kepastian mengenai kewajiban perpajakan dan kewajiban bukan pajak baik di tingkat pusat dan daerah yang menjadi kewajiban Freeport.  Keempat, kepastian roadmap pengelolaan masalah lingkungan hidup yang terdampak operasi Freeport.

Untuk membeli saham Freeport, Inalum menerbitkan serangkaian obligasi senilai 4 milyar dolar AS dengan tenor 3, 5, 10 dan 30 tahun yang memiliki tingkat kupon berbeda.

Memiliki rating sama BBB- dari Fitch, misalnya untuk yang tenor 30 tahun global bond Inalum senilai 750 juta dolar AS membayar kupon 6,75%, sedangkan global bond Pertamina dalam jumlah dan tenor sama membayar 6,5%. SUN global bond dengan rating lebih baik yaitu BBB dari Fitch, senilai 1 juta dolar AS tenor 30 tahun membayar kupon 5,35%.

Berbagai langkah antisipasi telah dilakukan pada akhir tahun 2018 dengan harga dan upaya yang sungguh-sungguh.  Namun jumlah itu masih jauh lebih kecil dibandingkan dengan hot money yang di tahun pilpres 2014 mencapai hampir 45 milyar dolar AS. Separuh dana ini kemudian keluar pada tahun 2015. Bila tahun 2019 ini transaksi valas di pasar modal mencapai 50 milyar dolar AS berarti hampir setara dengan separuh cadangan devisa Indonesia.

Rangkaian bencana alam dan pergeseran peta kekuatan dunia seakan mengirim pesan penting kepada bangsa Indonesia untuk bersatu bahu membahu menghadapi nya. Ibarat satu bangunan yang saling mengokohkan. Ibarat satu tubuh yang tidak ingin saling menyakiti perasaan bagian tubuh yang lain. Bila perasaan kolektif sebagian anak bangsa tersakiti, maka sulit mengharapkan sikap kolektif bangsa untuk menghadapi tantangan bencana alam dan tekanan eksternal.

Rasulullah SAW pernah mengingatkan “Banyak kaum sebelum kalian yang hancur karena menegakkan hukum dengan keras bila pelakunya dari kalangan orang lemah.  Namun bila pelakunya dari kalangan orang terhormat, hukum yang sama tidak mereka laksanakan”.  Tidakkah kita takut akan doa orang yang terzalimi, apalagi doa koletktif orang-orang yang terzalimi. Wahai Indonesia tercinta, maafkan kami.

Adiwarman A. Karim

Outlook Perbankan Syariah 2019

Outlook Perbankan Syariah 2019

Outlook perbankan syariah tahun depan akan diwarnai dengan perubahan-perubahan untuk memitigasi keadaan perekonomian domestik yang terimbas dari perubahan ekonomi politik global.  Pertama, tenor jangka waktu pembiayaan akan lebih panjang agar beban cicilan nasabah tetap, namun imbal hasil bank lebih tinggi.  Kedua, akad ijarah dan ijarah mumtahiya bit tamlik yang memberikan fleksibilitas imbal hasil akan lebih diminati daripada murabahah.  Ketiga, pembiayaan konsumer beragun rumah tinggal akan lebih diminati bank karena bobot risiko yang lebih rendah sehingga dapat menghemat penggunaan modal.  Keempat, bagi hasil dana akan meningkat untuk mencegah larinya nasabah dana ke bank lain.

Selanjutnya outlook tahun depan , dibagi menjadi outlook semester pertama dan outlook semester kedua.  Semester pertama merupakan periode krusial karena dua hal.  Pertama, secara eksternal merupakan puncak terjadinya tekanan eksternal.  Kedua, secara internal merupakan awal perubahan kebijakan bisnis, organisasi dan tata kelola.

Sedangkan semester kedua merupakan hasil dari penyesuaian yang dilakukan pada semester pertama.  Bila strategi di semester pertama berhasil membawa bank melewati bottle neck, maka semester kedua bank akan memasuki periode pertumbuhan yang kuat dan sehat.  Bila sebaliknya, maka bank akan terbebani oleh tiga hal.  Pertama, pembiayaan bermasalah meningkat.  Kedua, rasio biaya operasional meningkat.  Ketiga, likuiditas semakin tertekan.

Tekanan eksternal tahun depan dapat diidentifikasi menjadi tiga hal.  Pertama, kebijakan moneter yang lebih ketat.  Tren pelemahan rupiah, kenaikan harga minyak, kenaikan tingkat bunga AS, yang ketiganya akan terefleksi pada kenaikan tingkat bunga acuan BI.

Kedua, tekanan ganda pada deficit neraca berjalan dan pada potensi net selling asing di pasar modal.  Dari dua hal ini yang dikawatirkan adalah faktor yang kedua.  Data statistik menunjukkan bahwa dalam dua periode tahun pelaksanaan pilpres yaitu tahun 2009 dan 2014 terjadi kenaikan transaksi finansial yang sangat signifikan yang berasal dari kenaikan pada investasi portofolio.  Kenaikan lima kali lipat pada tahun 2009, dan dua kali lipat lebih pada tahun 2014.  Dilihat dari penyumbang deficit pendapatan primer tahun 2018, 55% berasal dari pendapatan investasi portofolio, 34% dari pendapatan investasi langsung, 11% dari pendapatan lainnya.

Ketiga, likuiditas tertekan dan pertumbuhan kredit melambat.  Pertumbuhan dana di tahun 2018 lebih kecil daripada tahun 2017. Penurunan terbesar terjadi pada pertumbuhan deposito yang turun dari 10,8% pada Agustus 2017 menjadi 3,4% pada Agustus 2018.  Padahal pertumbuhan kredit naik signifikan pada periode yang sama dari 8,14% ke 12,7%.  Pengetatan likuiditas ini dan melambatnya pertumbuhan kredit akan berpotensi mendorong kenaikan kredit bermasalah.  Rasio NPL tahun 2017 sebesar 2,59% naik menjadi 2,74% pada September 2018.  Padahal, kenaikan NPL ini terjadi pada saat adanya kenaikan pertumbuhan kredit yang signifikan.  Padahal pula pada empat sektor penyumbang NPL terbesar telah mengalami perbaikan per Agustus 2017 ke Agustus 2018. NPL perdagangan besar dan eceran dari 4,42 ke 4,12%, industri pengolahan dari 3,7 ke 3,02%, properti 3,19 ke 2,51% , dan pertanian dari 1,92 ke 1,54%.

Artinya pertumbuhan NPL lebih cepat daripada pertumbuhan kredit, dan perbaikan NPL di empat sektor itu dibarengi dengan pemburukan NPL yang lebih besar di sektor lain.

Bagi perbankan syariah, tekanan eksternal yang pertama dan ketiga membawa implikasi perlunya penyesuaian kebijakan bisnis.  Kenaikan bunga BI yang berarti kenaikan bunga produk dana perbankan konvensional.  Implikasinya, perbankan syariah akan menaikkan imbal bagi hasil produk dana agar tidak terjadi perpindahan dana dari bank syariah ke bank lain.  Kenaikan ekspektasi bagi hasil yang lebih tinggi ini mendorong bank syariah untuk menaikkan imbal hasil pada produk pembiayaannya.

Menaikkan imbal hasil pembiayaan berpotensi meningkatkan pembiayaan bermasalah di bank syariah karena kapasitas nasabah membayar cicilan stagnan akibat melemahnya pertumbuhan ekonomi nasional.

Salah satu solusinya, bank syariah akan menaikkan imbal hasil pembiayaan sekaligus memperpanjang jangka waktunya sehingga besar cicilan nasabah tetap sama.  Nasabah tidak ada tambahan beban cicilan bulanan, bank mendapat imbal hasil yang lebih tinggi sehingga dapat membayar bagi hasil dana yang kompetitif dibandingkan bank konvensional.

Implikasi makin panjangnya jangka waktu pembiayaan adalah perubahan penggunaan akad murabahah menjadi akad ijarah atau akad lainnya yang memiliki fleksibilitas imbal hasil.  Tekanan eksternal pertama, dan terutama tekanan eksternal kedua, menyebabkan meningkatnya ketidakpastian ekonomi yang terefleksi pada kenaikan bunga BI dan fluktuasi rupiah.  Bagi perbankan syariah, keadaan turbulensi ini harus diantisipasi dengan pengggunaan akad yang juga fleksibel.

Akibatnya, diprediksi pada tahun 2019 pembiayaan murabahah kurang diminati dibandingkan dengan ijarah dan lainnya.  Perkecualian akan terjadi pada segmen mikro dimana akad murabahah diprediksi akan tetap dominan karena kekhususan yang diberikan oleh Fatwa tentang penggunaan akan murabahah pada pembiayaan ultra mikro.

Potensi kenaikan pembiayaan bermasalah selanjutnya berpotensi meningkatkan pencadangannya yang berimplikasi pada tergerusnya modal bank.  Potensi turunnya kecukupan modal bank yang dibarengi ketatnya likuiditas, mendorong bank untuk memilih pembiayaan dengan aset tertimbang menurut risiko (ATMR)  yang lebih kecil.

Pembiayaan UMKM yang ATMR nya 75%, misalnya, dibandingkan dengan pembiayaan consumer beragunan rumah tinggal yang ATMR nya 35% tentu akan menjadi pertimbangan penting bank dalam memilih target pasar di tahun 2019.  Nasabah perorangan UMKM yang memerlukan modal kerja dan memberikan rumah tinggalnya sebagai agunan, akan ditawari untuk mengambil pembiayaan consumer dengan agunan yang sama.  Hal ini lebih menarik bagi bank karena lebih hemat penggunaan kecukupan modal bank nya.  Dengan alasan ini pula, pembiayaan bagi untung yang ATMR nya 100% bahkan ada yang 300% dan 400% diprediksi akan dihindari oleh bank.

Perubahan strategi perbankan ini akan diikuti beberapa perubahan yang merupakan turunannya.  Pertama, perkembangan fintek menambah tekanan bagi bank untuk melakukan efisiensi biaya. Kedua, penurunan pertumbuhan deposito yang signifikan di industri perbankan secara keseluruhan juga menambah pekerjaan rumah perbankan syariah. Ketiga, dampak kinerja multi finance yang menurun mendorong perbankan syariah mencari kanal-kanal baru.

Kepemimpinan otoritas dalam memberikan arahan kebijakan dan kepemimpinan internal perbankan syariah dalam melalui tahun 2019 menjadi sangat penting.  Rasulullah SAW mengingatkan “setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertang jawabannya”.  Adiwarman A. Karim

Imam Ghazali dan Richard Thaler

Imam Ghazali dan Richard Thaler

Ada kemiripan antara teori yang dibangun oleh Imam Ghazali dengan teori yang dibangun oleh Richard Thaler, pemenang Nobel Ekonomi tahun 2017.  Keduanya menggunakan pendekatan sentuhan jiwa dalam membentuk perilaku manusia.

Thaler, guru besar Universitas Chicago, bersama Cass Sustein, guru besar Universitas Harvard, menulis buku Nudge: Improving Decisions about Health, Wealth and Happiness.  Dalam teori Nudge (sentuhan kecil) yang dikembangkan Thaler, pada dasarnya manusia tidak selalu bertindak secara rasional.  Bahkan sebenarnya manusia cenderung untuk bertindak tidak-rasional dengan pola yang dapat diprediksi.

Karena kesalahan manusia dapat diprediksi, maka manusia dapat diarahkan untuk membuat pilihan yang lebih baik.  Bila manusia diberikan pilihan-pilihan yang baik dan diberikan sedikit sentuhan kecil maka ia akan melakukan perilaku baik.

Thaler menyimpulkan dalam bahasa yang mudah, “bila anda ingin seseorang melakukan sesuatu, maka mudahkanlah ia untuk melakukannya, make it easy”.   Dengan pendekatan inilah, Thaler mengubah perilaku orang yang suka merokok beralih menjadi suka vape.  Ternyata pendekatan sentuhan kecil ini jauh lebih efektif daripada pendekatan larangan merokok dengan ancaman kesehatan.  Orang dimudahkan untuk meninggalkan rokok dengan memberikan pilihan lain.

Manusia cenderung melihat suatu larangan sebagai suatu tantangan untuk dilanggar.  Makin ditakut-takuti, makin besar tantangan untuk melanggarnya.  Sebaliknya, manusia akan dengan mudah melakukan pilihan yang lebih baik bila ia dimudahkan untuk melakukan kebaikan itu.

Dalam bahasa Thaler, “menempatkan buah-buahan di tempat yang mudah dilihat dan dijangkau merupakan sentuhan kecil yang efektif untuk makan sehat.  Bukan sekedar melarang makanan yang tidak sehat”.

Di urinal Terminal 3 Ultimate Bandara Soekarno Hatta, pemasangan gambar lalat di dalam urinal merupakan contoh lain penerapan teori Thaler, sehingga orang cenderung buang air kecil dengan mengarahkan urin nya ke gambar lalat tersebut.

Contoh lainnya di Inggris, setiap karyawaan secara otomatis ikut kepesertaan Dana Pensiun kecuali yang menolak.  Di Spanyol, otomatis bersedia mendonorkan organnya bila diperlukan ketika wafat kecuali yang menolak.  Keduanya terbukti efektif.

Perilaku manusia yang tidak selalu bertindak rasional disebabkan oleh tiga hal.  Pertama, limited rationality yang didasari oleh theory of mental accounting.  Terbatasnya pengetahuan dalam mengambil suatu keputusan menyebabkan manusia hanya memperhitungkan dampak langsung, jangka pendek, dan terbatas.  Dalam bahasa Imam Ghazali di kitabnya Mizanul Amal, inilah yang akan terjadi bila manusia belum dapat memahami hikmah.

Kedua, social preferences (selera lingkungan) akan mempengaruhi selera individu di dalamnya.  Sangat wajar orang Minang suka nasi padang meskipun secara individual ia sebaiknya menghindari makanan berkolesterol tinggi.  Thaler mengaitkan ini dengan konsep keadilan (fairness) kepada lingkungan dan kepada diri sendiri.  Dalam bahasa Imam Ghazali di Mizanul Amal inilah pentingnya bersikap adil pada semua hal.

Ketiga, lack of self control yaitu kesulitan mengontrol diri antara kesenangan sesaat dengan manfaat jangka panjang.  Sensasi kesenangan sesaat seringkali mengalahkan keputusan rasional yang jelas manfaat nya dalam jangka panjang. Dalam bahasa Imam Ghazali di Mizanul Amal inilah pentingnya keberanian (syaja’ah) dan sikap sederhana (iffah) dalam setiap pilihan sikap.

Richard Thaler terpilih menjadi pemenang Nobel Ekonomi tahun 2017 karena kontribusi pemikirannya yang sangat aplikatif dalam mengubah perilaku orang secara efektif.  Sampul bukunya memberikan ilustrasi bagaimana induk gajah memberikan sentuhan kecil dengan belalainya mengarahkan gajah kecil berperilaku yang diinginkan sang induk.  Bukan dengan sekedar melarangnya, tapi dengan memudahkan gajah kecil itu melakukan sesuatu yang diinginkan si induk.

Perspektif yang dibangun Thaler ini mirip dengan karya-karya besar Imam Ghazali yang telah ditulis ratusan tahun yang lalu.  Bagi Imam Ghazali, yang baik telah jelas yang buruk pun telah jelas.  Walaupun manusia tahu mana yang baik mana yang buruk, seringkali orang tetap melakukan yang buruk.

Pendekatan Imam Ghazali dalam banyak karyanya bukan menekankan aspek halal-haram, namun menekankan pada memudahkan dan menggembirakan orang berbuat kebaikan.  Dalam kitab Mukasayafatul Qulub, Imam Ghazali menggambarkan betapa mudah dan bahagia nya menjalani hidup bila dekat dengan Sang Pencipta, lebur dalam Kasih Yang Maha Pengasih.  Dalam kitab Kimiya Sa’adat, Imam Ghazali menjelaskan inilah manusia yang ibarat telah melalui proses kimia dari logam biasa menjadi logam mulia.

Semangat memudahkan dan menggembirakan orang berbuat kebaikan sangat terasa dengan banyaknya hadits fadhail amal di kitab fenomenal beliau Ihya Ulumuddin.  Dalam bahasa Thaler, “mudahkan orang untuk melakukan kebaikan maka ia akan melakukannya, kecuali orang itu memiliki alasan yang sangat kuat untuk tidak melakukannya”.

Pendekatan nudge (sentuhan kecil) dengan memudahkan dan menggembirakan orang untuk memilih syariah, memilih ekonomi keuangan syariah merupakan suatu keniscayaan yang efektif.  Pendekatan lama biasanya kombinasi dari dua ekstrim.  Pertama, pendekatan yang hanya menekankan dikotomi halal dan haram.  Kedua, pendekatan yang menekankan perlunya melindungi industri keuangan syariah dengan alasan industri yang baru tumbuh (infant industry).

Pendekatan pertama tidak efektif karena tidak memberikan solusi.  Kesadaran masyarakat meningkat untuk meninggalkan yang haram, namun tidak dimudahkan mencari yang halal.  Pendekatan kedua bukan saja tidak efektif tapi juga melemahkan industri keuangan syariah dalam jangka panjang.  Masyarakat dan industri berkembang tanpa menyadari bahwa perkembangan itu sifatnya semu.

Saat ini ada banyak Unit Usaha Syariah dengan aset yang masih relatif kecil untuk di spin off.  Ada dua pilihan.  Pertama, otoritas menunggu rencana masing-masing bank tentang UUS nya.  Kedua, otoritas menyiapkan regulasi otomatis konversi menjadi Bank Umum Syariah kecuali yang menolak.  Merujuk teori Thaler pilihan kedua lebih efektif dengan membuat prosesnya jelas dan mudah.

Saat ini ada banyak program pemerintah untuk pembiayaan infrastruktur dan program keuangan mikro.  Pilihan pertama, otoritas menunggu kesiapan lembaga keuangan syariah.  Pilihan kedua, lembaga keuangan syariah otomatis ikut serta kecuali yang tidak siap.  Merujuk Thaler pilihan kedua lebih efektif.

Bila layanan lembaga keuangan syariah sama mudahnya diakses, apalagi bila lebih mudah, keuangan syariah akan menjadi pilihan utama kecuali mereka yang punya alasan kuat menolaknya.

Bukankah Rasulullah saw telah mengingatkan kita “yassiru wala tu’assiru wabassyiru wala tunafiru, mudahkan jangan dipersulit, gembirakan jangan menakuti sehingga mereka lari”.

Adiwarman A. Karim

Bank Muamalat

Bank Muamalat

Rencana masuknya strategic investor ke Bank Muamalat merupakan awal kebangkitan industri perbankan syariah Indonesia.  Dengan demikian, diperkirakan pada tahun 2018 akan ada tiga Bank Umum Syariah yang menjadi Bank BUKU 3 menyusul Bank Syariah Mandiri.  Wajah perbankan syariah diperkirakan akan diwarnai oleh empat segmen pasar. Pertama, segmen korporasi melalui pembiayaan proyek infrastruktur pemerintah yang diperkirakan akan mencapai 30 persen dari portofolio perbankan syariah.  Segmen ini menjadi mesin utama pertumbuhan aset dengan risiko relative rendah.  Kedua, segmen consumer melalui pembiayaan rumah dan sebagian kendaraan bermotor yang diperkirakan akan mencapai 30 persen pangsa pasar juga.  Segmen ini diwarnai dengan produk baru yaitu sekuritisasi aset, sehingga selain bertumbuh cepat dengan risiko yang relatif terkendali juga memberikan likuiditas baru kedalam industri perbankan syariah.

Ketiga, segmen ukm yang diperkirakan mencapai 20 persen dengan marjin keuntungan dan risiko yang relatif sedang.  Keempat, segmen mikro yang diperkirakan mencapai 20 persen dengan marjin keuntungan yang tinggi dan risiko yang beragam dari rendah sampai tinggi.

Dari pergerakan itu, Bank Muamalat menjadi kunci perubahan karena posisinya sebagai bank syariah terbesar kedua sangat menentukan baik buruknya kinerja industri perbankan syariah.  Dengan asumsi kinerja Bank Syariah Mandiri sebagai bank syariah terbesar tetap berkembang stabil, maka perubahan di Bank Muamalat menjadi lokomotif perubahan terutama masuknya ke segmen pembiayaan proyek infrastruktur pemerintah.

Kebutuhan tambahan modal dan / atau dana Bank Muamalat dapat dihitung dengan tiga skenario.  Skenario pertama, dengan memperhitungkan jumlah pembiayaan dalam perhatian khusus, kurang lancar, diragukan, dan macet berdasarkan laporan keuangan Juni 2017, maka diperlukan tambahan modal sekitar 11 trilyun rupiah.  Bila menggunakan data Desember 2016 diperlukan tambahan modal 8 trilyun rupiah.

Skenario kedua, dengan memperhitungkan jumlah pembiayaan kurang lancar, diragukan, dan macet berdasarkan laporan keuangan Juni 2017, dan secara konservatif mengalikan dua.  Pengalian dua ini dilakukan untuk satu bagian mencukupi jumlah pembiayan bermasalah tersebut, dan satu bagian lagi untuk menggantikannya.  Dengan metode ini kebutuhan tambahan modal mencapai 4,88 trilyun rupiah, yang dengan asumsi tingkat pemulihan mencapai 20 persen dari yang bermasalah, maka kebutuhan tambahan modal mencapai 4 trilyun rupiah.  Bila strategic investor baru menyetorkan 4,5 trilyun tentu akan lebih baik karena memberikan sedikit buffer.

Skenarion ketiga, dengan memperhitungkan jumlah pembiayaan dalam perhatian khusus, kurang lancar, diragukan, dan macet dan secara konservatif mengalikan dua.  Selanjutnya ditambahkan kebutuhan al Ijarah, anak perusahaan Bank Muamalat, dan  dengan asumsi tingkat pemulihan 10 persen, maka kebutuhan tambahan modal mencapai 20 trilyun.

Skenario katiga merupakan skenario yang dapat membawa Bank Muamalat tumbuh kuat, sehat, dan stabil pada tahun 2018.  Namun bila skenario ini yang digunakan maka pemegang saham eksisting akan terdilusi sampai pada level terendah menjadi pemegang saham non-pengendali.  Oleh karena itu, skenario gabungan antara skenario satu dan tiga menjadi pilihan baru.

Tambahan modal sebesar 4,5 trilyun atau setara 51 persen dari total modal, dan tambahan bisnis baru sebesar 20 trilyun untuk menjamin tercapainya kondisi yang kuat, sehat, dan stabil.  Tanpa tambahan bisnis baru sekitar 20 trilyun ini, maka tambahan modal 4,5 trilyun tidak akan membawa kondisi sehat, kuat, stabil yang berkelanjutan.

Bagaimana cara menambah bisnis 20 trilyun dalam waktu satu tahun merupakan kunci keberhasilan.  Diperlukan segmen yang mempunyai karakter pertumbuhan yang cepat dengan risiko yang relatif rendah.  Pilihan yang sesuai dengan karakter ini adalah segmen pembiayaan proyek infrastruktur pemerintah.

Setiap proyek infrastruktur memerlukan dua jenis pembiayaan yaitu credit financing dan equity financing.  Jenis credit financing biasanya merupakan segmen yang digarap bank-bank besar yaitu bank konvensional kelas atas.  Sedangkan jenis equity financing tidak dapat dilakukan oleh bank-bank konvensional.

Berdasarkan regulasi yang ada, jenis pembiayaan equity financing dapat dilakukan oleh bank-bank syariah dan perusahaan Sarana Multi Infrastruktur.  Inilah celah yang dapat dimanfaatkan oleh bank syariah.  Berbeda dengan praktek yang lazim di tahun 90an, saat ini instrument pembiayaan equity financing dapat dibedakan menjadi corporate equity financing dan project equity financing.  Yang corporate equity financing menyandang status junior obligor, sedangkan yang project equity financing dapat menyandang status senior obligor.

Dengan strategi ini Bank Muamalat dapat bertumbuh cepat dengan risiko rendah.  Strategi ini haru dilengkapi dengan strategi pembiayaan konsumer dengan sekuritisasi aset pembiayaan perumahan, yang juga merupakan program pemerintah dalam pengadaan sejuta rumah.  Strategi ini memberikan platform lain untuk mencapai pertumbuhan tinggi dengan risiko yang relative terkendali, dan yang paling penting adalah memberikan tambahan likuiditas.

Strategi lainnya adalah mengelola portofolio UKM yang selama ini menjadi tulang punggung Bank Muamalat.  Walaupun strategi tidak memberikan tingkat pertumbuhan yang tinggi dan risiko yang relatif sedang, tetap penting dipertahankan agar tidak terjadi kekosongan pasar yang dapat menegasikan keberhasilan di segmen lain.

Segmen mikro merupakan segmen yang dapat diharaokan menghasilkan profit marjin yang tinggi dengan risiko yang beragam dari rendah sampai tinggi.  Keragaman risiko ini merupakan tantangan pemilihan model bisnis dan sub-segmen yang tepat.  Bank BTPN Syariah yang juga bermain di segmen ini memiliki rasio laba terhadap rata-rata aset (ROA) 7,6% di tahun 2016, mirip dengan ROA Bank BRI segmen mikro yang 7,3%.  Berbeda dengan kinerja Bank BNI segmen mikro dan UKM yang RO Anya 3,3%, atau dengan Bank BTPN Konvensional yang 3,1%.  Juga berbeda dengan Bank Index yang 2,4% atau Bank Bukopin yang 1,6%.  Jelas bank-bank ini menggarap sub-segmen yang berbeda.

Ini juga terlihat dari rasio biaya operasi terhadap rata-rata pembiayaan (Opex) mereka.  Bank BTPN Syariah memiliki rasio 25,5%, BTPN Konvensional 9,8%, BRI segmen mikro hanya 7,4%, Bank Bukopin hanya 4,3%, Bank Index hanya 3,5%, BNI segmen mikro UKM bahkan hanya 1,9%.  Kejelian memilih sub-segmen mikro ini menentukan keberhasilan Bank Muamalat.

Dukungan strategic investor, masyarakat luas, dan semua stakeholders akan membawa kebangkitan Bank Muamalat dan industri perbankan syariah.  Bismillahi majreha wa mursaha.

Adiwarman Karim

KNKS

KNKS

Komite Nasional Keuangan Syariah baru saja dibentuk untuk menjadikan Indonesia pemimpin keuangan syariah dunia.  Satu-satunya komite nasional yang dipimpin langsung oleh Presiden ini diharapkan mampu menciptakan orchestra indah dalam mengoptimalkan seluruh potensi bangsa.

Dana-dana jangka panjang yang bersifat masif baik dari dalam negeri atau luar negeri harus dapat dioptimalkan untuk membiayai dua hal yang dampaknya langsung dirasakan rakyat.  Pertama, pembangunan infrastruktur.  Kedua, pembiayaan mikro.

Dana jangka panjang dari luar negeri adalah Sovereign Wealth Fund (SWF) yang merupakan sumber dana jangka panjang yang dimiliki oleh perusahaan milik negara.  Tiga dari enam SWF terbesar dunia adalah milik negara mayoritas muslim yaitu Abu Dhabi 828 milyar dolar, Kuwait 524 milyar dolar, Saudi 514 milyar dolar.  Tiga SWF lainnya juga memiliki kedekatan dengan Indonesia yaitu Norwegia 922 milyar dolar, Cina 813 milyar dolar, Hongkong 456 milyar dolar.

Dana jangka panjang dari dalam negeri antara lain dana haji yang tahun ini mencapai 100 trilyun rupiah.  Penggunaan dana haji untuk membiayai proyek-proyek infrastruktur melalui instrumen keuangan sempat menjadi polemik.  Keputusan Ijtima Ulama Komisi Fatwa Se-Indonesia IV tahun 2012 tentang Status Kepemilikan Dana Setoran BPIH Yang masuk Daftar Tunggu telah memberikan empat pedoman yang jelas.

Pertama, dana setoran haji adalah milik pendaftar (calon haji).  Kedua, dana tersebut boleh di tasharruf kan untuk hal-hal yang produktif, antara lain penempatan di perbankan syariah atau diinvestasikan dalam bentuk sukuk.  Ketiga, hasil penempatan / investasi merupakan milik calon haji; sedangkan pemerintah sebagai pengelola berhak mendapatkan imbalan yang wajar / tidak berlebihan.  Keempat, dana tersebut tidak boleh digunakan untuk keperluan apapun kecuali untuk membiayai keperluan yang yang bersangkutan.

Penggunaan dana jangka panjang untuk membiayai proyek infrastruktur merupakan pilihan logis karena sama-sama berjangka panjang.  Namun dampak dari pembangunan infrastruktur terhadap perekonomian berbeda-beda antara satu negara dengan negara lain.  Paling tidak ada tiga hal yang menentukan besar-kecil dampaknya.  Pertama, efektifitas produktifitas (productivity slack) di negara tersebut.  Kedua, efektifitas kebijakan moneter.  Ketiga, bagaimana proyek infrastruktur itu dibiayai.

Antonio Estache dan Gregoire Garsous, masing-masing guru besar  Universitas Libre de Bruxelles dan ekonom OECD-OCDE, dalam riset mereka “The Impact of Infrastructure on growth in developing countries” menunjukkan adanya perbedaaan sektor infrastruktur yang memberikan dampak paling besar.  Semakin infrastruktur yang dibiayai itu merupakan bottle-neck bagi pembangunan di suatu negara, semakin besar dampak positifnya.

Antonio Estache dan Wren-Lewiss, guru besar Universitas Oxford, dalam riset mereka “Anti-corruption policy in theories of sector regulation” menyimpulkan dua jenis proyek infrastruktur yang selalu memberikan dampak besar yaitu infrastruktur enerji dan transportasi.

Selain pembangunan proyek infrastruktur, KNKS juga akan menyasar pada pembiayaan mikro.  Merujuk data Bank Dunia, sebagian besar masyarakat Indonesia belum menjadi nasabah bank.  Hanya duapuluh persen saja yang telah menjadi nasabah bank. Menariknya lagi, sebagian dari mereka tidak mau menjadi nasabah bank karena alasan agama.  Oleh karenanya, penyediaan akses perbankan syariah kepada sebagian besar masyarakat yang belum menjadi nasabah bank ini menjadi suatu langkah besar dalam upaya inklusi keuangan.  Semakin besar masyarakat yang masuk dalam sistem perbankan akan semakin efektif kebijakan moneter.

Dean Karlan, guru besar Universitas Yale, dalam risetnya “Understanding Demand for Sharia-Compliant Financial Products” menemukan alasan selain agama yang mempengaruhi keengganan masyarakat menjadi nasabah bank.

Enampuluh persen diantara mereka menyatakan tidak percaya / tidak nyaman bertransaksi dengan bank.  Sedangkan duapuluh persen lainnya menyatakan tiga alasan.  Pertama, biaya pembukaan rekening terlalu mahal.  Kedua, jarak yang jauh ke bank.  Ketiga, kurangnya kelengkapan dokumen.

Karlan menyimpulkan tiga hal yang sangat menarik.  Pertama, permintaan pembiayaan syariah lebih besar daripada permintaan kredit konvensional yang ditawarkan dengan imbalan yang sama.  Kedua, informasi tentang kemurnian syariah tidak meningkatkan permintaan.  Ketiga, permintaan pembiayaan syariah menurun bila imbalannya dinaikkan.

Loera Klapper dan Saniya Ansar, ekonom Brookings Institute, dalam riset mereka “Can Islamic Finance boost financial inclusion?” mengajukan dua cara potensial untuk mengatasi hal tersebut.  Pertama, penetrasi pasar melalui penggunaan telepon genggam.  Kedua, memformalkan cara menabung tradisional menjadi produk bank.

Usulan yang kedua ini menarik.  Bagi sebagian besar orang yang enggan menjadi nasabah bank, menabung telah menjadi bagian gaya hidup mereka.  Bentuknya kadang menabung emas, hewan ternak, tanah dan sebagainya.  Memformalkan cara menabung tradisional ini menjadi tantangan bagi bank syariah.

Peresmian KNKS yang hanya berselang hari dari Komunike Ekonomi MUI yang disampaikan pada saat Milad MUI, terasa saling melengkapi.  Arus baru ekonomi Indonesia harus mencerminkan circular dependency, saling keterikatan antara pendekatan top down dan pendekatan bottom up dalam mengembangkan perekonomian.

Membangun saling percaya antara pemerintah dan masyarakat dalam pembangunan bersifat mutually recursive.  Pemberdayaan ekonomi masyarakat melalui program-program pemerintah di satu sisi, dan kekuatan ekonomi masyarakat melalui berbagai kegiatan mandiri seperti kegiatan wakaf, merupakan bentuk tanggung jawab bersama pemerintah dan masyarakat dalam membangun negeri.

Kekuatan ekonomi masyarakat merupakan modal besar pemerintah dalam pembangunan karena sampai saat ini pertumbuhan ekonomi Indonesia masih mengandalkan konsumsi masyarakat.  Kekuatan konsumsi 250 juta orang ini yang membesarkan para pengusaha yang mengakumulasi laba secara terpusat pada segolongan kecil orang.

Rasulullah saw mengingatkan “Bila orang yang berada dibagian bawah kapal kesulitan mendapatkan air, kemudian melobangi lambung kapal untuk mendapatkan air, niscaya akan tenggelam lah seluruh kapal”.

Adiwarman A. Karim