Bank Muamalat

Rencana masuknya strategic investor ke Bank Muamalat merupakan awal kebangkitan industri perbankan syariah Indonesia.  Dengan demikian, diperkirakan pada tahun 2018 akan ada tiga Bank Umum Syariah yang menjadi Bank BUKU 3 menyusul Bank Syariah Mandiri.  Wajah perbankan syariah diperkirakan akan diwarnai oleh empat segmen pasar. Pertama, segmen korporasi melalui pembiayaan proyek infrastruktur pemerintah yang diperkirakan akan mencapai 30 persen dari portofolio perbankan syariah.  Segmen ini menjadi mesin utama pertumbuhan aset dengan risiko relative rendah.  Kedua, segmen consumer melalui pembiayaan rumah dan sebagian kendaraan bermotor yang diperkirakan akan mencapai 30 persen pangsa pasar juga.  Segmen ini diwarnai dengan produk baru yaitu sekuritisasi aset, sehingga selain bertumbuh cepat dengan risiko yang relatif terkendali juga memberikan likuiditas baru kedalam industri perbankan syariah.

Ketiga, segmen ukm yang diperkirakan mencapai 20 persen dengan marjin keuntungan dan risiko yang relatif sedang.  Keempat, segmen mikro yang diperkirakan mencapai 20 persen dengan marjin keuntungan yang tinggi dan risiko yang beragam dari rendah sampai tinggi.

Dari pergerakan itu, Bank Muamalat menjadi kunci perubahan karena posisinya sebagai bank syariah terbesar kedua sangat menentukan baik buruknya kinerja industri perbankan syariah.  Dengan asumsi kinerja Bank Syariah Mandiri sebagai bank syariah terbesar tetap berkembang stabil, maka perubahan di Bank Muamalat menjadi lokomotif perubahan terutama masuknya ke segmen pembiayaan proyek infrastruktur pemerintah.

Kebutuhan tambahan modal dan / atau dana Bank Muamalat dapat dihitung dengan tiga skenario.  Skenario pertama, dengan memperhitungkan jumlah pembiayaan dalam perhatian khusus, kurang lancar, diragukan, dan macet berdasarkan laporan keuangan Juni 2017, maka diperlukan tambahan modal sekitar 11 trilyun rupiah.  Bila menggunakan data Desember 2016 diperlukan tambahan modal 8 trilyun rupiah.

Skenario kedua, dengan memperhitungkan jumlah pembiayaan kurang lancar, diragukan, dan macet berdasarkan laporan keuangan Juni 2017, dan secara konservatif mengalikan dua.  Pengalian dua ini dilakukan untuk satu bagian mencukupi jumlah pembiayan bermasalah tersebut, dan satu bagian lagi untuk menggantikannya.  Dengan metode ini kebutuhan tambahan modal mencapai 4,88 trilyun rupiah, yang dengan asumsi tingkat pemulihan mencapai 20 persen dari yang bermasalah, maka kebutuhan tambahan modal mencapai 4 trilyun rupiah.  Bila strategic investor baru menyetorkan 4,5 trilyun tentu akan lebih baik karena memberikan sedikit buffer.

Skenarion ketiga, dengan memperhitungkan jumlah pembiayaan dalam perhatian khusus, kurang lancar, diragukan, dan macet dan secara konservatif mengalikan dua.  Selanjutnya ditambahkan kebutuhan al Ijarah, anak perusahaan Bank Muamalat, dan  dengan asumsi tingkat pemulihan 10 persen, maka kebutuhan tambahan modal mencapai 20 trilyun.

Skenario katiga merupakan skenario yang dapat membawa Bank Muamalat tumbuh kuat, sehat, dan stabil pada tahun 2018.  Namun bila skenario ini yang digunakan maka pemegang saham eksisting akan terdilusi sampai pada level terendah menjadi pemegang saham non-pengendali.  Oleh karena itu, skenario gabungan antara skenario satu dan tiga menjadi pilihan baru.

Tambahan modal sebesar 4,5 trilyun atau setara 51 persen dari total modal, dan tambahan bisnis baru sebesar 20 trilyun untuk menjamin tercapainya kondisi yang kuat, sehat, dan stabil.  Tanpa tambahan bisnis baru sekitar 20 trilyun ini, maka tambahan modal 4,5 trilyun tidak akan membawa kondisi sehat, kuat, stabil yang berkelanjutan.

Bagaimana cara menambah bisnis 20 trilyun dalam waktu satu tahun merupakan kunci keberhasilan.  Diperlukan segmen yang mempunyai karakter pertumbuhan yang cepat dengan risiko yang relatif rendah.  Pilihan yang sesuai dengan karakter ini adalah segmen pembiayaan proyek infrastruktur pemerintah.

Setiap proyek infrastruktur memerlukan dua jenis pembiayaan yaitu credit financing dan equity financing.  Jenis credit financing biasanya merupakan segmen yang digarap bank-bank besar yaitu bank konvensional kelas atas.  Sedangkan jenis equity financing tidak dapat dilakukan oleh bank-bank konvensional.

Berdasarkan regulasi yang ada, jenis pembiayaan equity financing dapat dilakukan oleh bank-bank syariah dan perusahaan Sarana Multi Infrastruktur.  Inilah celah yang dapat dimanfaatkan oleh bank syariah.  Berbeda dengan praktek yang lazim di tahun 90an, saat ini instrument pembiayaan equity financing dapat dibedakan menjadi corporate equity financing dan project equity financing.  Yang corporate equity financing menyandang status junior obligor, sedangkan yang project equity financing dapat menyandang status senior obligor.

Dengan strategi ini Bank Muamalat dapat bertumbuh cepat dengan risiko rendah.  Strategi ini haru dilengkapi dengan strategi pembiayaan konsumer dengan sekuritisasi aset pembiayaan perumahan, yang juga merupakan program pemerintah dalam pengadaan sejuta rumah.  Strategi ini memberikan platform lain untuk mencapai pertumbuhan tinggi dengan risiko yang relative terkendali, dan yang paling penting adalah memberikan tambahan likuiditas.

Strategi lainnya adalah mengelola portofolio UKM yang selama ini menjadi tulang punggung Bank Muamalat.  Walaupun strategi tidak memberikan tingkat pertumbuhan yang tinggi dan risiko yang relatif sedang, tetap penting dipertahankan agar tidak terjadi kekosongan pasar yang dapat menegasikan keberhasilan di segmen lain.

Segmen mikro merupakan segmen yang dapat diharaokan menghasilkan profit marjin yang tinggi dengan risiko yang beragam dari rendah sampai tinggi.  Keragaman risiko ini merupakan tantangan pemilihan model bisnis dan sub-segmen yang tepat.  Bank BTPN Syariah yang juga bermain di segmen ini memiliki rasio laba terhadap rata-rata aset (ROA) 7,6% di tahun 2016, mirip dengan ROA Bank BRI segmen mikro yang 7,3%.  Berbeda dengan kinerja Bank BNI segmen mikro dan UKM yang RO Anya 3,3%, atau dengan Bank BTPN Konvensional yang 3,1%.  Juga berbeda dengan Bank Index yang 2,4% atau Bank Bukopin yang 1,6%.  Jelas bank-bank ini menggarap sub-segmen yang berbeda.

Ini juga terlihat dari rasio biaya operasi terhadap rata-rata pembiayaan (Opex) mereka.  Bank BTPN Syariah memiliki rasio 25,5%, BTPN Konvensional 9,8%, BRI segmen mikro hanya 7,4%, Bank Bukopin hanya 4,3%, Bank Index hanya 3,5%, BNI segmen mikro UKM bahkan hanya 1,9%.  Kejelian memilih sub-segmen mikro ini menentukan keberhasilan Bank Muamalat.

Dukungan strategic investor, masyarakat luas, dan semua stakeholders akan membawa kebangkitan Bank Muamalat dan industri perbankan syariah.  Bismillahi majreha wa mursaha.

Adiwarman Karim

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *