Anomali Industri Perbankan

Industri perbankan telah mengalami kemajuan yang luar biasa pesatnya. Demikian pesatnya sehingga kemajuan itu malah membuat industri perbankan terpuruk. Inilah yang disebut anomali. 

Anomali pertama terjadi di hilir, yaitu pada proses pengambilan keputusan pemberian kredit. Anomali kedua terjadi di hulu, yaitu pada proses penentuan tingkat suku bunga rujukan. Sir Mervyn King, gubernur Bank Sentral Inggris, dengan nada hampir putus asa mengatakan, dari begitu banyak cara mengelola bank, saat ini adalah yang terburuk.

Niels Kroner, salah seorang konsultan dari McKinsey, pada 1980-an muncul dengan ide-ide segar untuk meningkatkan efisiensi dan profitabilitas bank. Proses pengambilan keputusan pemberian kredit yang tadinya memakan waktu yang relatif lama dapat dipersingkat dengan proses automasi.

Analisis kredit dan penilaian komite kredit cabang yang dianggap tidak dapat menggambarkan risiko kredit yang terstandar baku, kini dapat distandardisasi dengan sistem penskoran untuk kredit konsumen atau ratinguntuk kredit komersial yang tersentralisasi. Proses analisis kredit menjadi serbastandar, cepat, dan tersentralisasi.

Keberhasilan ini mendorong ekspansi kredit besar-besaran secara cepat. Bukan saja proses pengambilan keputusan menjadi jauh lebih cepat, melainkan juga keberadaan analis-analis kredit mulai di gantikan dengan tenaga pemasaran yang sama sekali tidak memahami risiko kredit dan tidak terlibat dalam proses pengambilan keputusan pemberian kredit. Lihat saja betapa banyak dan agresifnya para pemasar ini menawarkan kartu kredit dan KTA, bahkan sekadar melalui SMS atau brosur.

Hubungan erat nasabah de ngan pejabat bank yang selama ini menjadi tulang pung gung terjalinnya kepercayaan di antara keduanya mu lai tergantikan dengan tena ga pemasar, call center, “keputusan kantor pusat”, dan tukang tagih. Risiko tingginya tingkat kredit bermasalah telah dimitigasi dengan memasukkan risiko ini ke dalam bentuk tingkat suku bunga yang lebih tinggi.

Mengenal karakter nasabah dan bisnisnya mulai tergantikan dengan verifikasi “nomor ID nasabah”, “tanggal lahir”, dan “nama ibu kandung”. Tidak aneh bila dalam krisis subprime mortgagedi Amerika Serikat, banyak terdapat kasus satu nasabah yang mendapat KPR berlebihan dari beberapa bank sekaligus. Hal yang sama terjadi pada produk payment protection insurancedi Inggris, kartu kredit, dan KTA di Indonesia.

Filosofi kredit yang berasal dari kata credo(kepercayaan) yang terpengaruh oleh bahasa Arab qard(kredit berdasarkan kepercayaan), mulai tergantikan dengan customer profitability rate(tingkat ke un tungan per nasabah). Bagi bank, selama nasabah selalu membayar kewajibannya secara tepat dan memberikan tingkat keuntungan sesuai yang ditargetkan bank, aspek mengenal karakter nasabah dan bisnisnya hanya menjadi pelengkap.

Anomali ini harus menjadi pelajaran penting bagi industri perbankan syariah agar tidak terjebak pada masalah yang sama. Kebijakan per bank an yang membatasi kredit konsumen sebenarnya untuk mencegah anomali ini terjadi. Implikasinya, bila perbankan syariah tetap menge depankan filosofi mengenal karakter nasabah dan bisnisnya, kemudian memberikan pembiayaan dengan akad yang sesuai dengan karakter risikonya, sewajarnya ketentuan LTV (aturan uang muka) dan uang muka KPR syariah lebih ringan daripada KPR kon vensional. Sepatutnya pu la ketentuan LTV dan uang mu ka KKB syariah lebih ringan daripada KKB konvensional.

Anomali kedua terjadi di hulu, yaitu pada proses penentuan tingkat suku bunga rujukan. Meskipun masing-masing bank sentral mengeluarkan tingkat suku bunga rujukan, yang tetap masih menjadi tingkat suku bunga rujukan yang paling populer di dunia adalah LIBOR (London Interbank Lending Rate). LIBOR telah sejak lama menjadi tingkat suku bunga rujukan global, bukan saja dalam penentuan tingkat suku KPR, kredit, pinjaman antarbank, tetapi juga menjadi indikator tingkat kesehatan keuangan suatu lembaga.

Bila tingkat suku bunga yang dikenakan ke suatu lembaga mendekati LIBOR, itu mengindikasikan tingkat kesehatan yang baik. Semakin jauh tingkat suku bunga yang dikenakan di atas LIBOR, mengindikasikan tingkat kesehatan yang buruk.

Begitu pentingnya LIBOR dapat digambarkan dari besar nya transaksi keuangan di dunia, diperkirakan 300 triliun dolar AS, yang menggunakan LIBOR sebagai rujukannya. Nilai ini sama dengan 4,5 kali lipat dari total PDB dunia. LIBOR menjadi begitu dipercaya karena proses penentuannya dilakukan oleh pelaku pasar tanpa adanya intervensi bank sentral.

Setiap hari kelompok bank besar di London memasukkan tingkat suku bunga yang mau mereka bayar bila meminjam dari bank lain. Tiap bank memasukkan tingkat suku bunga untuk 10 mata uang dunia dan 15 jangka waktu yang berbeda, mulai dari satu ma lam sampai 12 bulan. Yang paling penting adalah yang tiga bulan.

Dari seluruh data yang dimasukkan bank, dibuang nilai kuartil ekstrem atas dan kuartil ekstrem bawah, kemudian dihitung nilai rata-rata dari data yang tersisa maka dapatlah tingkat suku bunga LIBOR. Proses yang benar-benar mewakili kekuatan pa sar ini bebas dari intervensi bank sentral ternyata mem buka peluang manipulasi pa sar oleh para pelaku pasar itu sendiri.

LIBOR yang menjadi rujukan dunia ternyata sarat dengan manipulasi oleh bank-bank besar. BBCmewartakan manipulasi yang terjadi di berbagai negara. Barclays dan UBS telah dikenakan sanksi atas manipulasinya. RBS, HSBC, Citigroup, Deutsche Bank, JP Morgan masuk dalam daftar terperiksa untuk kasus yang sama. Manipulasi tingkat suku bunga rujukan juga terjadi di pasar Asia. Otoritas keuangan di Hong Kong, Korsel, Jepang, dan Singapura mulai melakukan investigasi.

Anomali ini yang sebenarnya ingin dihindari oleh sistem perbankan syariah. Dengan sistem bagi hasil, tingkat imbalan merupakan refleksi dari tingkat keuntungan sektor riil. Dengan persyaratan harus selalu ada keterkaitan antara transaksi keuangan dan riil (underlying asset), margin murabahah di bank syariah tidak berhubung an langsung dan bukan ditentukan oleh beberapa bank besar di pasar uang.

Dengan pangsa pasar yang masih di bawah lima persen saat ini, memang penentuan margin murabahah dan imbal bagi hasil bank syariah masih tetap memperhitungkan tingkat suku bunga pasar agar tetap kompetitif dalam persaingan merebut nasabah. Bila pangsa ini semakin besar, semakin besar pula kontribusi perbankan syariah dalam mencegah terjadinya dua anomali industri perbankan yang saat ini membawa petaka berupa krisis keuangan dunia. Indonesia berpeluang sangat besar untuk mewujudkan ini, mencegah anomali di Indonesia, Asia, bahkan dunia.

by Adiwarman A. Karim | Republika, 18 Februari 2013

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *