Ekonomi Ramadan

Filipe Campante dan David Yanagizawa-Drott, guru besar Universitas Harvard, dalam penelitian mereka “Does Religion Affect Growth and Happiness: Evidence from Ramadan” yang diterbitkan dalam Quarterly Journal of Economics memberikan hasil yang menarik.

Bulan Ramadan ternyata meningkatkan kebahagiaan masyarakat yang diukur dengan subjective well-being (SWB).  Kebahagiaan dipercaya dapat meningkatkan motivasi bekerja dan selanjutnya meningkatkan produktifitas.

Peningkatan kebahagiaan masyarakat di bulan Ramadan dibarengi dengan penurunan pertumbuhan ekonomi sebesar 0,7 persen dalam kurun waktu 60 tahun data penelitian mereka, antara lain karena berkurangnya jam kerja.

Konsep SWB dikembangkan untuk menjawab Easterlin paradox, yang ditemukan oleh Richard Easterlin, guru besar Universitas Southern California.  Kenaikan pendapatan di AS selama kurun waktu 1964-70 ternyata tidak meningkatkan kebahagiaan masyarakat AS, bahkan kenaikan pendapatan di AS dalam kurun waktu 1960-70 malah menurunkan tingkat kebahagiaan masyarakat AS.

Global Risk Advisors dalam artikelnya “The Economics of Ramadan” mengutip penelitian Dinar Standard bahwa Negara yang mengurangi jam kerja dua jam per hari berarti kehilangan 40 jam kerja produktif selama bulan Ramadan yang akan menurunkan PDB bulan itu 7,7%.

Menariknya penurunan signifikan bulan itu tidak berdampak signifikan pada pertumbuhan ekonomi tahunan.  Dinar Standard mencatat adanya kenaikan produktifitas setelah bulan Ramadan yang lebih besar daripada penurunan selama bulan Ramadan.  Dampak kenaikan kebahagiaan yang meningkatkan produktifitas terasa pada bulan-bulan setelah Ramadan.

Secara keseluruhan, Ramadan memberikan dampak positif terhadap perekonomian.  Produsen telah mengantisipasi bulan Ramadan dengan meningkatkan produksi sebelumnya.  Dalam bulan Ramadan terjadi penurunan sektor produksi, namun diikuti dengan kenaikan sektor perdagangan, transportasi dan jasa.

Alin Halimatussadiah, peneliti Universitas Indonesia, dalam risetnya “Why Ramadan is a Special Economic Season in Indonesia” menjelaskan hal ini.  Belanja masyarakat pada makanan dan pakaian meningkat 30%.  Uang yang beredar meningkat akibat adanya THR dan meningkatnya pembayaran zakat infak sedekah.

Chris Brummitt dan Fitri Wulendar, dalam artikel mereka di Sydney Morning Herald, “Pricey Chilis and Soaps for Sustenance: the Economics of Ramadan” juga mengidentifikasi kenaikan pada sektor transportasi akibat banyaknya pergerakan orang yang selanjutnya mendorong kenaikan permintaan bahan bakar.  Mengutip data AC Nielsen, mereka juga menemukan adanya kenaikan pemirsa TV sampai 3 kali lipat, dan menunjukkan adanya jam tayang prima baru siaran TV yaitu kurun waktu menjelang buka puasa dan sahur jam 2-6 pagi. Tambahan jam tayang TV selanjutnya meningkatkan pendapatan iklan.

Tomasz Piotr Wisniewski, guru besar Universitas Leicester, juga mengidentifikasi besarnya peran zakat infak sedekah di bulan Ramadan yang menambah peredaran uang di masyarakat.  Mudassar Ahmed dalam artikelnya “Economics: the Myth of Ramadan’s Low Productivity” menyimpulkan besarnya belanja di bulan Ramadan dengan istilah “if they are not buying, they are giving”, bila mereka tidak membeli, mereka tetap mengeluarkan uang untuk memberi”.

Penelitian Wisniewski, Jedrzej Pawel Bialkowski dan Ahmad Etebari, “Piety and Profits: Stock Market Anomaly During the Muslim Holy Month” menunjukkan, masyarakat dalam bulan Ramadan melakukan keduanya sekaligus yaitu membeli dan memberi.  Pemberian ini selanjutnya meningkatkan daya beli sebagian masyarakat yang kurang mampu, dan akhirnya pemberian inipun menjadi pembelian.

Jadi ada tiga hal yang terjadi di bulan Ramadan.  Pertama, produsen menggeser produksi mereka ke bulan Sya’ban untuk mengantisipasi kenaikan permintaan dan pengurangan jam kerja di bulan Ramadan.  Ini sebabnya sektor produksi menurun di bulan Ramadan.  Kedua, bergesernya kontributor pertumbuhan ekonomi dari sektor produksi ke sektor perdagangan, transportasi, dan jasa.  Ketiga, meningkatnya daya beli karena perilaku membeli dan memberi di bulan Ramadan.

Dalam skala yang lebih kecil, dampak ekonomi mirip Ramadan juga terjadi pada libur tahunan Thanksgiving di AS.  Juga pada libur Natal, Boxing Day, dan Tahun Baru.  Tradisi Boxing Day di Inggris, menaruh barang-barang di box di luar rumah untuk disedekahkan hanya satu hari yaitu 26 Desember.  Tradisi Thanksgiving hanya satu minggu terakhir November.  Tradisi Natal sampai dengan Tahun Baru hanya sepuluh hari.  Sedangkan Ramadan dan tradisi Halal bi Halal setelah Idul Fitri berlangsung satu setengah bulan.

Robert J. Barro dan Rachel M. McCleary, guru besar Universitas Harvard dan peneliti pada National Bureau of Economic Research, dalam riset mereka “Religion and Economic Growth” menemukan korelasi positif antara keimanan, yaitu iman adanya neraka dan surga, dengan pertumbuhan ekonomi.  Tampaknya keimanan mendorong orang berbuat baik sehingga meningkatkan produktifitas.

Riset lanjutan mereka, “Religion and Economy” yang dipublikasikan di Journal of Economic Perspectives mengidentifikasi keimanan itu terwujud dalam bentuk etika kerja, kejujuran, dan tidak boros.  Kenaikan produktifitas ini tidak diikuti sepenuhnya dengan kenaikan gaya hidup dengan standard of living yang lebih tinggi.

Filipe Campante dan David Yanagizawa-Drott menunjukkan adanya nilai-nilai keimanan menciptakan perilaku yang mengarah pada gaya hidup yang lebih sederhana.  Dalam bahasa mudahnya Mark Batterson merumuskan, “when God blessed you financially, do not raise your standard of living.  Raise your standard of giving”.  Ketika Allah memberi banyak rejeki, naikkan standar kita memberi, bukan naikkan standar hidup kita.

Dalam hadits Qudsi disebutkan, “Sebarkan kasihKu di muka bumi maka engkau akan dikasih oleh Yang Di Langit.  Tolonglah saudaramu maka engkau akan ditolong oleh Yang Di Langit.  Tutuplah aib saudaramu maka engkau akan ditutup aibnya oleh Yang Di Langit.”

Adiwarman A. Karim

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *